Perang di masa depan diprediksi akan didominasi oleh robot, drone otonom, dan sistem kecerdasan buatan (AI) yang bertempur di garis depan tanpa rasa takut dan tanpa lelah. Tentara manusia tak lagi berdiri menghadapi peluru secara langsung, melainkan mengendalikan operasi dari ruang komando digital, memantau pergerakan mesin melalui layar monitor. Perubahan ini diyakini dapat mengurangi korban jiwa prajurit dan meningkatkan presisi operasi militer.
Namun, ketika risiko bagi manusia semakin kecil, muncul pertanyaan etis yang serius: apakah perang akan menjadi lebih mudah untuk dimulai? Mesin memang tidak memiliki emosi, tetapi juga tidak memiliki nurani. Pada akhirnya, meskipun robot yang bertempur, tanggung jawab moral dan keputusan tetap berada di tangan manusia.
Di tengah secangkir kopi dan layar komando, satu hal tak boleh dilupakan: teknologi hanyalah alat. Nilai kemanusiaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi utama agar kemajuan tidak berubah menjadi ancaman bagi peradaban itu sendiri. (*)