Pengembangan Jet Tempur KF-21 Resmi Rampung, RI Disebut Bergabung

Pemerintah Korea Selatan pada Rabu (29/7) secara resmi menyelesaikan pengembangan jet tempur KF-21, pesawat tempur pertama yang dikembangkan lebih dari satu decade. Foto: Dispenau
Proyek senilai 8,8 triliun won (sekitar USD6,04 miliar) tersebut secara resmi dimulai pada 2015 dengan tujuan menggantikan armada jet tempur F-4 dan F-5 buatan Amerika Serikat yang telah lama dioperasikan Angkatan Udara Korea Selatan.
Share the Post:

SEOUL – Korea Selatan pada Rabu (29/7) secara resmi menyelesaikan pengembangan jet tempur KF-21, pesawat tempur pertama yang dikembangkan secara mandiri oleh negara tersebut. Penyelesaian proyek ini menandai berakhirnya lebih dari satu dekade upaya untuk menggantikan armada jet tempur Angkatan Udara Korea Selatan yang telah menua, demikian disampaikan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (Defense Acquisition Program Administration/DAPA).

Yonhap menyebut Indonesia bergabung sebagai mitra dalam proyek pengembangan KF-21 dengan kesepakatan untuk berbagi biaya pengembangan sebagai imbalan atas alih teknologi, satu unit prototipe, serta sejumlah manfaat lainnya.

Proyek senilai 8,8 triliun won (sekitar USD6,04 miliar) tersebut secara resmi dimulai pada 2015 dengan tujuan menggantikan armada jet tempur F-4 dan F-5 buatan Amerika Serikat yang telah lama dioperasikan Angkatan Udara Korea Selatan.

Dalam perjalanannya, prototipe pertama KF-21 diperkenalkan kepada publik pada April 2021. Pada Mei tahun ini, pesawat tersebut berhasil lolos uji kelayakan tempur (combat suitability review) setelah memenuhi seluruh persyaratan kinerja untuk menjalankan berbagai misi operasional.

Sejak saat itu, para pejabat telah melaksanakan lebih dari 1.600 uji terbang tanpa mengalami satu pun kecelakaan. “Keberhasilan KF-21 merupakan pencapaian luar biasa yang terwujud berkat darah dan keringat para teknisi, serta dukungan masyarakat yang percaya pada kemampuan teknologi kita,” ujar Menteri DAPA, Lee Yong-cheol.

“Kami akan terus mempromosikan keunggulan jet KF-21 dan sekali lagi menunjukkan kekuatan bangsa melalui terwujudnya pertahanan nasional yang mandiri berkat kemandirian teknologi,” tambahnya.

Dengan rampungnya proyek ini, DAPA berencana menyerahkan jet tempur KF-21 pertama kepada Angkatan Udara Korea Selatan pada September mendatang.

DAPA menargetkan pengiriman tahap pertama sebanyak 40 unit KF-21 yang terutama dilengkapi kemampuan tempur udara-ke-udara kepada Angkatan Udara Korea Selatan paling lambat 2028. Selanjutnya, lembaga tersebut berencana memproduksi 80 unit tambahan dengan kemampuan yang lebih ditingkatkan hingga 2032, sehingga total 120 pesawat KF-21 akan dioperasikan oleh Angkatan Udara Korea Selatan.

Asia Business Daily menyebutkan Korea Aerospace Industries (KAI) pada 29 Juli mengumumkan telah menggelar Upacara Penyelesaian Pengembangan Sistem KF-21 di kantor pusatnya di Sacheon, Provinsi Gyeongnam. Acara tersebut diselenggarakan oleh Defense Acquisition Program Administration (DAPA).

Sekitar 300 orang menghadiri acara tersebut, termasuk Kepala DAPA Yoo Yong-chul, pejabat dari Kementerian Pertahanan dan Angkatan Udara Korea Selatan, perwakilan KAI dan perusahaan-perusahaan mitra, delegasi Kementerian Pertahanan Indonesia dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai mitra pengembangan internasional, serta perwakilan Lockheed Martin sebagai mitra teknis.

Sejak dimulainya pengembangan sistem pada 2015, KF-21 berhasil menyelesaikan seluruh tahapan penting, mulai dari desain dasar dan desain rinci, pembuatan prototipe, pengujian darat, hingga uji terbang. Pesawat tersebut juga dinyatakan memenuhi seluruh standar kinerja dan keselamatan yang dipersyaratkan.

Secara khusus, keberhasilan pengembangan sistem terpadu—yang mencakup tidak hanya sistem pesawat, tetapi juga Integrated Logistics Support (ILS) atau dukungan logistik terpadu serta sistem pelatihan—telah membangun kemampuan nasional yang mandiri dan menyeluruh, mulai dari pengembangan, produksi, pengoperasian, pemeliharaan, hingga pelatihan.

Setelah peluncuran unit produksi massal pertama pada Maret lalu, penyelesaian pengembangan sistem ini menandai transisi program KF-21 menuju tahap produksi massal dan integrasi ke dalam kekuatan tempur. Dengan pencapaian tersebut, Korea Selatan menjadi negara kedelapan di dunia yang mampu mengembangkan jet tempur supersonik sekaligus memiliki sistem produksi massal secara mandiri.

Kemampuan teknologi yang diperoleh selama pengembangan KF-21, termasuk radar AESA (Active Electronically Scanned Array), avionik canggih, sistem kendali penerbangan, serta teknologi desain dan manufaktur struktur pesawat, diharapkan menjadi fondasi utama bagi pengembangan kekuatan udara Korea Selatan di masa depan.

Selain itu, ekosistem industri kedirgantaraan yang dibangun bersama lebih dari 500 perusahaan mitra dalam negeri turut mendorong peningkatan tingkat kandungan lokal teknologi inti, memperkuat daya saing perusahaan mitra, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.

KAI menyatakan akan terus meningkatkan kemampuan KF-21 serta mengembangkan kapabilitas kekuatan udara masa depan sejalan dengan visi pemerintah Korea Selatan untuk menjadi salah satu dari empat kekuatan industri pertahanan terbesar di dunia.

Presiden sekaligus CEO KAI, Kim Jongchul, mengatakan bahwa keberhasilan pengembangan sistem KF-21 merupakan pencapaian bersejarah yang membuktikan kepada dunia bahwa Korea Selatan mampu mengembangkan jet tempur berteknologi tinggi secara mandiri.

“Selain memastikan keberhasilan produksi massal dan integrasi yang stabil ke dalam kekuatan Angkatan Udara, kami juga akan terus melakukan peningkatan kemampuan, termasuk integrasi persenjataan buatan dalam negeri, peningkatan performa, pengembangan sistem pertempuran udara generasi berikutnya yang terhubung dengan kecerdasan buatan (AI), serta kemampuan manned-unmanned teaming (MUM-T) berbasis platform KF-21,” ujar Kim. (Dwi Sasongko)