Perdamaian dan Kemakmuran di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar

Diplomasi pertahanan membutuhkan lebih dari ketegasan. Respons yang tegas berisiko menambah ketegangan dan mengganggu stabilitas kawasan. 
Share the Post:

Karikatur oleh: Thomdean

Meningkatnya ketegangan di kawasan menunjukkan bahwa Asia Tenggara ada di garis depan rivalitas strategis Amerika Serikat dan China. Setiap pernyataan, gestur, dan kebijakan pertahanan memiliki konsekuensi geopolitik yang jauh melampaui hubungan bilateral.

Dwi Sasongko, peneliti dari Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) mengatakan, gestur dan pernyataan keras Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. dalam Seoul Defense Dialogue pada 8 September 2026 dapat dipahami sebagai ekspresi politik. Namun, diplomasi pertahanan membutuhkan lebih dari ketegasan. Respons yang tegas berisiko menambah ketegangan dan mengganggu stabilitas kawasan. 

“Pendekatan semacam ini juga kurang sejalan dengan semangat pembentukan Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan,” kata Dwi. Ia mengatakan, CoC justru akan mendorong pengendalian diri, dialog, dan pengelolaan sengketa di LCS secara damai. Retorika konfrontatif dan gestur yang kurang diplomatis berisiko mempersempit ruang komunikasi, memperkuat persepsi permusuhan, dan mendorong spiral aksi–reaksi yang justru semakin sulit dikendalikan.

Menurutnya, Filipina tentu memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya. Namun, tantangan strategis yang lebih besar adalah memastikan bahwa kepentingan nasional Filipina tidak terseret terlalu jauh ke kepentingan negara besar, dalam hal ini AS. Ketika kepentingan negara kecil dan menengah semakin menyatu dengan agenda strategis kekuatan besar, risiko proxy dynamics juga semakin meningkat—dan ruang bagi otonomi strategis dapat semakin menyempit.

Dwi menekankan, negara-negara Asia Tenggara perlu lebih bersatu agar Asia Tenggara tidak menjadi papan catur tempat kekuatan besar bebas memindahkan bidak sesuai kepentingannya. Karena itu, tantangan bagi Filipina—dan ASEAN secara keseluruhan—bukan memilih antara Amerika Serikat dan China, melainkan mempertahankan kemampuan untuk menentukan kepentingannya sendiri di tengah tekanan keduanya. ASEAN perlu menyatukan langkah untuk agenda krusial ke depan : finalisasi  Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan antara ASEAN dan China. CoC ini diharapkan menjadi tata kelola yang produktif untuk masa depan kawasan. 

“Bertahun-tahun Asia Tenggara berkembang karena stabilitas, keterbukaan, dan konektivitas, bukan karena politik blok dan konfrontasi,” tandas Dwi. Jika rivalitas kekuatan besar dibiarkan menentukan arah kawasan, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan, tetapi juga kemakmuran yang telah dibangun selama puluhan tahun. Keamanan seharusnya menjaga perdamaian dan kemakmuran, bukan menjadikan Asia Tenggara arena baru persaingan kekuatan besar.