Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai kontroversi setelah mengeluarkan ancaman terhadap anggota legislatif negara bagian New York, Zohran Mamdani, yang kini menjadi calon kuat wali kota New York City dari Partai Demokrat. Selain mengancam akan menangkap, menuduh kewarganegaraannya ilegal, Trump juga menyebut Mamdani sebagai seorang komunis.
Dalam pernyataannya di hadapan wartawan, saat mengunjungi pusat penahanan migran terbaru di Everglades, Florida yang dijuluki “Alligator Alcatraz”, Trump menanggapi pidato kemenangan Mamdani yang menyatakan akan menghentikan operasi agen ICE bertopeng yang mendeportasi warga imigran di New York. “Kalau dia menentang ICE, ya, kami harus menangkap dia,” ujar Trump seperti dikutip dari ABC News.
Tak hanya itu, Trump juga secara terbuka menuduh Mamdani sebagai seorang “komunis” dan menyebarkan klaim palsu bahwa politisi berusia 33 tahun itu berada di Amerika Serikat secara ilegal. “Banyak orang bilang dia di sini secara ilegal,” kata Trump. “Kami akan memeriksa semuanya. Idealnya, dia bukan seorang komunis. Tapi sekarang, dia komunis. Dan itu bukan sekadar sosialis.”
Dalam kesempatan terpisah, saat hendak meninggalkan Gedung Putih, Trump kembali menyerang Mamdani dengan menyebutnya “orang gila total” dan “berita buruk.” Ia juga mengancam akan memblokir pendanaan untuk New York City jika Mamdani tidak mengikuti kehendaknya. “Saya akan mengawasinya dengan sangat ketat. Dia harus lewat gedung ini untuk mendapatkan uangnya,” kata Trump dengan nada mengancam.
Dalam wawancara dengan pembawa acara Fox News, Maria Bartiromo, Trump “Misalnya dia benar-benar terpilih, saya akan menjadi presiden, dan dia harus melakukan hal yang benar, atau mereka tidak akan mendapat dana sepeser pun. Dia harus mengikuti aturan, atau tidak akan ada uang untuk mereka.” Menurut laporan dari kantor pengawas keuangan kota, lebih dari USD100 miliar dana federal dialirkan ke New York melalui berbagai lembaga dan program.
Tak tinggal diam, Mamdani dalam keterangan tertulis, menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk intimidasi yang berbahaya bagi demokrasi. “Pernyataannya bukan sekadar serangan terhadap saya secara pribadi, tetapi juga upaya menakut-nakuti setiap warga New York yang berani bersuara. Pesannya jelas: jika Anda menentang, mereka akan mengejar Anda. Tapi kami tidak akan tunduk pada intimidasi ini,” tegas Mamdani.
Mamdani sendiri lahir di Uganda dan telah tinggal di Amerika Serikat sejak usia tujuh tahun. Ia menjadi warga negara AS yang sah melalui proses naturalisasi pada tahun 2018.

Saat Trump yang menyebutnya “Komunis Gila”, Mamdani merespons dengan tenang. Ia mengajak Trump untuk benar-benar mempelajari kebijakannya, dan menegaskan dirinya bersedia bekerja sama dengan pemerintah federal namun hanya jika itu untuk kepentingan rakyat New York. “Saya akan bekerja sama dengan pemerintahan Trump jika itu menguntungkan warga New York,” ujar Mamdani. “Pendekatan saya tidak akan reaktif, baik mendukung atau menentang. Tapi jika itu merugikan warga yang saya wakili, maka saya tidak akan ikut serta dalam kebijakan yang menyakiti mereka.”
Saat berbicara dalam program Meet the Press NBC pada hari Minggu, Mamdani menegaskan dirinya sudah mulai terbiasa dengan kenyataan bahwa presiden Trump akan terus membicarakan soal penampilan, suara, asal-usulnya. Sebab, sebenarnya Trump ingin mengalihkan perhatian publik dari apa yang sedang diperjuangkan Mamdani.
Mamdani menyatakan dirinya terinspirasi oleh aktivis hak sipil AS, Martin Luther King Jr., yang pernah berkata: “Sebutlah itu demokrasi atau sosialisme demokratis. Harus ada distribusi kekayaan yang lebih adil untuk semua anak Tuhan di negeri ini,” kata Mamdani seperti dikutip dari The Guardian.
Ia kemudian mengulangi janjinya dalam kampanye untuk menaikkan pajak bagi kalangan terkaya di New York sebagai bagian dari upaya “mengalihkan beban pajak dari pemilik rumah di wilayah pinggiran yang selama ini terbebani, ke rumah-rumah mewah di lingkungan yang lebih kaya dan lebih putih.”
“Saya tidak berpikir kita seharusnya memiliki miliarder, karena itu jumlah uang yang sangat besar di tengah kesenjangan yang begitu lebar dan yang benar-benar kita butuhkan saat ini adalah kesetaraan, baik di kota ini, negara bagian ini, maupun seluruh negeri,” ujar Mamdani. “Dan saya menantikan untuk bekerja sama dengan semua pihak, termasuk para miliarder, demi mewujudkan kota yang lebih adil bagi semua.”
Mamdani menyebut bahwa usulannya mencerminkan apa yang dilihatnya saat ini. “Ini bukan soal ras,” katanya. “Ini lebih kepada penilaian tentang lingkungan mana yang terlalu sedikit dikenai pajak dan mana yang terlalu banyak dikenai pajak.” “Ini bukan penilaian terbalik dari sisi rasial terhadap kota atau lingkungan. Tapi lebih untuk memastikan bahwa kita memiliki medan bermain yang setara.”
Banyak warga New York dan politisi Demokrat moderat menyatakan keprihatinan atas kemenangan Mamdani atas mantan gubernur Andrew Cuomo dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada 24 Juni lalu.
Salah satu tokoh yang mendukung Mamdani adalah anggota kongres progresif, Alexandria Ocasio-Cortez. Namun, banyak tokoh Partai Demokrat lainnya, termasuk Gubernur New York, Kathy Hochul, belum memberikan dukungan. Setelah kemenangan Mamdani, Hochul hanya berkomentar singkat: “Tentu saja, ada perbedaan posisi antara kami, tapi saya pikir kita memang perlu berdialog.”
Ketika ditanya apakah menurutnya Demokrat moderat takut padanya, Mamdani menjawab, “Saya pikir orang-orang baru mulai menyadari arah pemilu ini.” “Apa yang kami tunjukkan adalah bahwa dengan memprioritaskan rakyat pekerja, dengan kembali ke akar Partai Demokrat, kita sebenarnya memiliki jalan keluar dari situasi saat ini, di mana kita menghadapi otoritarianisme di Washington DC” di bawah pemerintahan Trump. (dwi sasongko)