Dianggap Dekat dengan China, AS Larang Indonesia Beli Jet Tempur F-35

F-35 dirancang untuk menjadi jet tempur generasi ke-5 bagi Angkatan Udara, Korps Marinir, dan Angkatan Laut AS, serta sekutu utama mereka. AS memiliki kebijakan tak semua negara boleh membeli pesawat tempur canggih tersebut. Sejumlah negara seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, Turki, Mesir, Taiwan, Indonesia, dan Thailand pernah ditolak untuk membeli F-35. Foto : lockheedmartin
Dua alasan utama mengapa AS membatasi ekspor F-35 adalah untuk melindungi teknologi sensitifnya dan menjaga keunggulan militer kualitatif Israel.
Share the Post:

JAKARTA – Sejumlah negara seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, Turki, Mesir, Taiwan, Indonesia, dan Thailand adalah negara-negara yang diketahui pernah ditolak dalam upaya mereka membeli jet tempur canggih F-35. Laporan simpleflying menyebut penjualan jet tempur sangatlah rumit dan sarat dengan unsur geopolitik serta politik dalam negeri. AS kerap membatasi ekspor jet tempur tercanggihnya, baik sebagian maupun sepenuhnya, kepada pembeli internasional.

Indonesia, yang sempat berniat membeli Su-35 Rusia, akhirnya membatalkan niat tersebut karena tekanan AS. Setelah itu, Indonesia mengajukan permintaan pembelian F-35. Namun, menurut Defense World pada 2020, permintaan ini ditolak karena alasan antrean panjang dan harga yang tinggi. ‘’Namun, kemungkinan besar AS juga mempertimbangkan hubungan dekat Indonesia dengan China, mengingat Indonesia masih menggunakan jaringan 5G Huawei dan pesawat tempur buatan Rusia,’’ begitu bunyi laporan simpleflying pada 13 Juli 2025 lalu.

Mengapa ada negara-negara ditolak AS untuk membeli F-35? Berbeda dengan F-22 Raptor, F-35 Lightning II dikembangkan sebagai bagian dari kerja sama internasional yang luas. F-35 dirancang untuk menjadi jet tempur generasi ke-5 bagi Angkatan Udara, Korps Marinir, dan Angkatan Laut AS, serta sekutu utama mereka. Perusahaan pertahanan Inggris, BAE Systems, merupakan salah satu dari tiga kontraktor utama dalam program ini, dengan kontribusi sekitar 15% dari setiap unit F-35 yang diproduksi. Meski demikian, AS tetap selektif dalam menjual jet ini.

Dua alasan utama mengapa AS membatasi ekspor F-35 adalah untuk melindungi teknologi sensitifnya dan menjaga keunggulan militer kualitatif Israel. AS telah melarang penjualan F-35 ke negara-negara seperti Thailand, UEA, Turki, dan Taiwan, sebagian karena kekhawatiran bahwa sistem buatan Rusia dan China seperti rudal S-400 Rusia dan jaringan 5G Huawei China dapat membahayakan keamanan pesawat ini. Selain itu, AS khawatir akan keberadaan mata-mata atau simpatisan China di negara-negara seperti Taiwan dan Thailand.

Di luar itu, jaringan 5G Huawei di negara-negara seperti UEA juga menjadi alasan pembatasan, terutama untuk negara-negara Timur Tengah, karena keberadaan US-Israel Strategic Partnership Act tahun 2014. Undang-undang ini menyatakan bahwa AS harus menjaga keunggulan militer kualitatif Israel dan mempertimbangkan ekspor militer ke negara-negara Timur Tengah dengan perspektif tersebut. 

Di kawasan Asia-Pasifik, AS telah menjual F-35 ke sekutu-sekutu terdekatnya seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan. Negara pembeli dilarang memodifikasi atau mengubah perangkat lunaknya. Satu-satunya pengecualian adalah Israel, yang diizinkan melakukan modifikasi terbatas untuk membawa rudal buatan mereka sendiri. foto : lockheedmartin

Turki Dikeluarkan dari Program F-35

Contoh paling mencolok dari penolakan penjualan F-35 adalah terhadap sekutu NATO, Turki. Negara ini sempat menjadi mitra dalam pengembangan F-35 dan turut menyumbang dana ke program tersebut. Turki juga memproduksi beberapa komponen penting untuk jet ini dan berencana membeli 100 unit F-35A.

Turki bahkan telah membayar USD 1,4 miliar untuk F-35 pertamanya. Beberapa unit awal telah dibangun, dan pilot Turki dikirim ke AS untuk pelatihan. Namun, setelah berulang kali diperingatkan, Turki tetap memilih membeli sistem rudal S-400 dari Rusia. AS khawatir sistem ini dapat mengumpulkan informasi sensitif tentang F-35 dan meneruskannya ke Rusia. Akibatnya, pada 2019, AS mengeluarkan Turki dari program tersebut sebelum pesawat pertama diserahkan.

Sejak itu, Turki mencoba bernegosiasi untuk kembali ke dalam program dan mencari kompromi atas kepemilikan S-400 mereka. Per Juli 2025, belum tercapai kesepakatan, meski Turki masih ingin membeli 40 unit F-35A. Untuk saat ini, Turki memilih membeli F-16 Block 70 terbaru, menjajaki pembelian 40 Eurofighter Typhoon, dan mengembangkan jet tempur siluman dalam negeri bernama TAI Kaan.

UEA, Qatar, Arab Saudi, dan Mesir semuanya telah menyatakan keinginan untuk membeli F-35. Pada masa pemerintahan Trump pertama, sempat ada kesepakatan awal untuk menjual 50 unit F-35A ke UEA dan 20 unit ke Mesir. Namun, kesepakatan ini batal karena kekhawatiran terhadap jaringan 5G Huawei di negara tersebut serta dampaknya terhadap keunggulan militer Israel. Akibatnya, Mesir dan UEA mulai menjajaki pembelian jet tempur buatan China. Bahkan, Mesir dilaporkan telah memesan J-10C buatan China.

Permintaan dari Arab Saudi dan Qatar juga ditolak. Pada Maret 2025, Arab Saudi mengumumkan rencana pembelian peralatan militer AS senilai sekitar USD 142 miliar, tetapi tidak mencakup F-35. Sementara itu, laporan menyebutkan bahwa Maroko kemungkinan akan segera mengumumkan pembelian F-35. Maroko memiliki hubungan baik dengan AS dan secara geografis jauh dari Israel. Maroko juga menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan AS pada 1777.

Hampir semua negara sekutu AS yang memiliki kebutuhan dan dana untuk pesawat tempur kelas atas telah memesan F-35. ‘’Meskipun terdapat berbagai klaim online tentang harga F-35 yang mahal dan kemampuan dogfight-nya yang dianggap rendah, hampir semua negara yang diberi akses untuk melihat kemampuan rahasia pesawat ini akhirnya memutuskan untuk membelinya. Pengecualian utama adalah Prancis dan Swedia, yang memilih mengembangkan jet tempur buatan dalam negeri mereka sendiri,’’ kata laporan tersebut. 

Di kawasan Asia-Pasifik, AS telah menjual F-35 ke sekutu-sekutu terdekatnya seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan. Thailand, meski merupakan sekutu non-NATO utama, juga telah ditolak. Reuters melaporkan bahwa penolakan ini sebagian besar karena kekhawatiran terhadap kedekatan pemerintahan militer Thailand dengan China.

Pada 2024, Business Insider melaporkan bahwa Taiwan kembali mengajukan permintaan pembelian F-35. Keinginan ini sudah ada sejak lama. Namun, AS terus menolaknya karena takut memicu reaksi keras dari China dan juga karena kekhawatiran akan infiltrasi mata-mata China di Taiwan. Sebagai alternatif, AS memberikan Taiwan versi terbaru F-16. Taiwan News bahkan melaporkan bahwa pada 2025 bisa ada lebih dari 5.000 mata-mata China di Taiwan.

Meski AS bersedia menjual F-35 ke puluhan negara sekutu, penjualannya tetap dengan syarat ketat. Negara pembeli dilarang memodifikasi atau mengubah perangkat lunaknya. Satu-satunya pengecualian adalah Israel, yang diizinkan melakukan modifikasi terbatas untuk membawa rudal buatan mereka sendiri. AS bahkan mengatur siapa yang boleh menerbangkannya contohnya, pilot Israel yang memiliki paspor ganda dilarang menerbangkan F-35.

F-35 adalah salah satu alat utama AS dalam menunjukkan kekuatan global dan menghadapi musuh seperti China dan Rusia. AS menolak menjualnya ke negara-negara yang dianggap terlalu dekat dengan China atau Rusia, atau yang masih mengoperasikan peralatan militer buatan kedua negara tersebut.

Arab Saudi, Qatar, UEA, Turki, Mesir, Taiwan, Indonesia, dan Thailand adalah negara-negara yang diketahui pernah ditolak dalam upaya mereka membeli F-35. Pemerintahan Trump cenderung lebih terbuka terhadap ekspor F-35 dan bahkan menyatakan bahwa F-35 mungkin bisa dijual ke India, meskipun India mengoperasikan sistem pertahanan canggih buatan Rusia seperti S-400. Bisa jadi di masa mendatang, pembatasan ekspor ini akan dilonggarkan oleh pemerintahan saat ini, dan membuka peluang penjualan ke negara-negara lain.

AS sudah biasa melarang ekspor jet tempur. Penjualan F-22 Raptor sepenuhnya dilarang oleh Kongres sejak 1998. Dulu, AS juga pernah menolak mengekspor F-16 ke negara-negara Amerika Latin, meskipun akhirnya menjualnya ke Venezuela dan Chile. F-15 Eagle, yang pernah menjadi pesawat tempur dominan AS, juga sempat dilarang diekspor ke luar NATO dan hanya boleh dijual ke sekutu tertentu seperti Jepang, Australia, dan Israel.

AS juga menyesali beberapa penjualan di masa lalu. Contohnya, penjualan F-14 Tomcat ke Iran dan F-16 ke Venezuela. Jet F-16 dijual ke Venezuela pada 1980-an, namun hubungan memburuk dan pada 2005 Venezuela bahkan mengancam akan menjual jet-jet tersebut ke China (meski teknologinya sudah usang saat itu). (Dwi Sasongko)