LAKENHEATH – Militer Amerika Serikat diduga telah memindahkan senjata nuklir ke Inggris untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade. Nukewatch mengidentifikasi sebuah pesawat lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Kirtland di Albuquerque, New Mexico, menuju pangkalan Angkatan Udara Kerajaan (RAF) Inggris di Lakenheath, di timur Inggris pada Kamis (17/7/2025). Pangkalan Angkatan Udara Kirtland adalah markas besar Pusat Senjata Nuklir Angkatan Udara AS (USAF), sebuah lokasi penyimpanan utama senjata nuklir.
Bukti baru menunjukkan bahwa senjata yang diangkut adalah senjata nuklir Amerika dengan kekuatan tiga kali lipat bom Hiroshima. Di Kirtland, pesawat tersebut hampir pasti membawa muatan hingga 20 senjata nuklir B61-12 yang baru diproduksi – versi modern dari bom gravitasi nuklir utama Angkatan Udara AS dengan akurasi lebih tinggi daripada varian senjata yang lebih lama. Persenjataan tersebut berada di bawah kendali Presiden Donald Trump dan dapat digunakan tanpa persetujuan Inggris.
Tim Nukewatch UK mengamati sebuah penerbangan khusus yang membawa bom-bom tersebut saat mendarat di Pangkalan Udara Angkatan Udara Amerika (RAF) Lakenheath di Suffolk pada 17 Juli, setelah melacak perjalanannya dan memantau pesan radio.
Pesawat angkut tersebut, sebuah C-17 Globemaster raksasa (nomor penerbangan RCH4574 atau Reach 4574), telah lepas landas dari Pangkalan Lewis–McChord di Negara Bagian Washington dua hari sebelumnya. Pesawat itu ditugaskan ke unit angkut elit yang sangat terlatih, yang disebut Sayap Angkutan Udara ke-62, yang berfungsi sebagai pasukan angkut udara nuklir utama Angkatan Udara AS.
Pesawat C-17 yang melakukan penerbangan tersebut sedang dalam misi prioritas tinggi dan terbang melintasi daratan Amerika Serikat menuju Pangkalan Angkatan Udara Kirtland di Albuquerque, New Mexico. Itulah pusat operasi nuklir Angkatan Udara AS, tempat fasilitas penyimpanan senjata nuklir terbesar di dunia berada: Kompleks Pemeliharaan dan Penyimpanan Amunisi Bawah Tanah Kirtland. Kompleks ini menyimpan sebagian besar persenjataan nuklir AS, termasuk bom gravitasi dan hulu ledak.
Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan kepada Newsweek bahwa AS tidak berkomentar mengenai “status atau lokasi senjata strategis tersebut.” Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan Kebijakan Inggris dan NATO untuk tidak mengonfirmasi maupun menyangkal keberadaan senjata nuklir di lokasi tertentu tetap menjadi kebijakan lama.
Spekulasi telah lama beredar seputar kemungkinan pangkalan RAF East England dapat kembali menampung senjata nuklir AS. RAF Lakenheath menampung senjata nuklir Amerika selama beberapa dekade hingga tahun 2008.
Federasi Ilmuwan Amerika (FAS) menyatakan pada tahun 2023 bahwa dokumen anggaran militer AS “sangat” menyiratkan bahwa Angkatan Udara bermaksud membangun kembali misi senjata nuklirnya di Inggris. RAF Lakenheath—markas Wing Tempur ke-48, yang dijuluki “Liberty Wing”—telah ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika Washington memindahkan senjata nuklir kembali ke Inggris, “hal itu akan mematahkan kebijakan dan perencanaan selama puluhan tahun dan membalikkan fokus selatan dari penempatan nuklir Eropa yang muncul setelah berakhirnya Perang Dingin,” kata FAS dalam analisis terbarunya awal tahun ini.
Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa sebuah pesawat kargo C-17 USAF berangkat dari Albuquerque untuk penerbangan lebih dari 10 jam ke Lakenheath pada 16 Juli dan meninggalkan Inggris dua hari kemudian. “Sepertinya pesawat itu pergi ke Inggris, menurunkan senjata-senjata itu, lalu kembali beroperasi secara rutin di AS,” ujar William Alberque, mantan kepala pusat non-proliferasi nuklir NATO, kepada The Times Inggris.
Bulan lalu, pemerintah Inggris mengumumkan akan membeli setidaknya 12 pesawat F-35A generasi kelima. Berbeda dengan jet F-35B yang sudah dioperasikan RAF, pesawat-pesawat tersebut telah disertifikasi untuk membawa senjata nuklir. Jet-jet tersebut akan ditempatkan di RAF Marham, sebuah pangkalan di utara Lakenheath.
Pembelian ini “memperkenalkan kembali peran nuklir bagi Angkatan Udara Kerajaan untuk pertama kalinya sejak Inggris memensiunkan senjata nuklir yang diluncurkan dari udara setelah berakhirnya Perang Dingin,” kata pemerintah Inggris dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Newsweek.
Inggris memiliki Trident, yaitu program senjata nuklirnya sendiri yang terdiri dari empat kapal selam kelas Vanguard yang mampu menembakkan rudal nuklir. AS memiliki senjata nuklir strategis dan non-strategis. Senjata nuklir non-strategis, yang dalam kasus AS merupakan varian dari bom gravitasi B61, juga dikenal sebagai senjata nuklir taktis. AS mengumumkan pada awal tahun bahwa mereka telah menyelesaikan program jangka panjang untuk meningkatkan B61 menjadi B61-12 dan berhasil ditingkatkan lagi menjadi B61-13 pada akhir Mei lalu.
Senjata nuklir strategis digunakan pada rudal balistik antarbenua, rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam, dan rudal yang ditembakkan dari pesawat pengebom. Senjata-senjata ini dianggap sebagai rudal yang dapat menghancurkan seluruh kota dan mengancam negara-negara adidaya dunia.
Berbeda dengan senjata strategis, senjata nuklir taktis dirancang untuk digunakan di medan perang atau di wilayah yang dikenal sebagai teater tertentu. Senjata ini memiliki daya ledak yang lebih kecil dan dirancang untuk digunakan terhadap target yang berbeda dibandingkan senjata nuklir strategis, yang dibatasi berdasarkan Perjanjian START Baru yang akan berakhir pada tahun 2026.
AS diperkirakan memiliki 200 senjata nuklir taktis, dengan sekitar setengahnya ditempatkan di pangkalan-pangkalan di Eropa. AS diyakini memiliki sekitar 100 bom taktis yang ditempatkan di lima negara NATO di benua itu, termasuk di Turki, Jerman, dan Belgia. (Lina Nursanty)