Kasus Penyuapan, Istri Mantan Presiden Korea Selatan Ditangkap 

Tampilan video tentang mantan Ibu Negara Korea Selatan Kim Keon Hee menerima suap berupa tas Dior. Karena dikhawatirkan menghilangkan bukti, Pengadilan mengeluarkan surat penahanan terhadap Kim Keon Hee. Foto : Youtube Video Of Seoul
Korea Selatan memiliki sejarah mantan presiden yang didakwa dan dipenjara. Namun, ini adalah pertama kalinya mantan presiden dan mantan ibu negara dipenjara.
Share the Post:

SEOUL – Istri mantan presiden Korea Selatan yang dipenjara, Yoon Suk Yeol, telah ditangkap atas serangkaian tuduhan, termasuk manipulasi saham dan penyuapan. Dalam sidang pengadilan selama empat jam di Seoul pada Selasa (12/8/2025), mantan ibu negara Kim Keon Hee membantah semua tuduhan. Namun, pengadilan mengeluarkan surat perintah penahanan, dengan alasan risiko bahwa ia dapat menghilangkan bukti.

Dilansir dari BBC, Jaksa penuntut mengatakan Kim meraup lebih dari 800 juta won (Rp 9,36 Miliar) dengan berpartisipasi dalam skema manipulasi harga yang melibatkan saham Deutsch Motors, sebuah dealer BMW di Korea Selatan. Meskipun diduga terjadi sebelum suaminya terpilih sebagai pemimpin negara, hal ini terus membayangi sepanjang masa kepresidenannya.

Ia juga diduga menerima dua tas Dior dan sebuah kalung berlian sebagai suap dari Gereja Unifikasi yang kontroversial dengan imbalan bantuan bisnis. Di antara dakwaan lainnya, Kim juga dituduh mencampuri pencalonan kandidat selama pemilihan sela parlemen tahun 2022 dan pemilihan umum tahun lalu.

Kim tampak khidmat saat menghadiri sidang hari Selasa dengan mengenakan setelan jas hitam dan rok hitam. “Saya dengan tulus meminta maaf karena telah menimbulkan masalah meskipun saya bukan orang penting,” ujarnya kepada para wartawan.

Korea Selatan memiliki sejarah mantan presiden yang didakwa dan dipenjara. Namun, ini adalah pertama kalinya mantan presiden dan mantan ibu negara dipenjara. Yoon ditahan pada bulan Januari untuk menghadapi persidangan atas kegagalan penerapan darurat militer tahun lalu yang menjerumuskan negara ke dalam kekacauan dan akhirnya menyebabkan penggulingannya.

Saat menjabat sebagai presiden, Yoon memveto tiga rancangan undang-undang yang dipimpin oposisi yang meminta penyelidikan penasihat khusus terkait tuduhan terhadap Kim. Ia mengeluarkan veto terakhirnya pada bulan November, seminggu sebelum ia mengumumkan darurat militer.

Sebuah penasihat khusus dibentuk pada bulan Juni tahun ini setelah saingan Yoon, Lee Jae Myung, menjadi presiden. 

Hadiah Tas Dior

Kontroversi yang melibatkan Kim memanas sejak akhir tahun lalu. Diawali dengan dugaan penerimaan hadiah tas mewah untuknya yang telah membuat Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang berkuasa menjadi kacau. 

Rekaman kamera mata-mata yang dirilis akhir tahun lalu tampak memperlihatkan seorang pendeta memberikan tas Dior kepadanya. Video yang beredar luas ini dijadikan isu bagi oposisi untuk menyerang partai presiden Yoon Suk Yeol. 

Video tersebut, yang dipublikasikan oleh saluran YouTube sayap kiri Voice of Seoul, dilaporkan telah direkam secara diam-diam oleh pendeta Choi Jae-young menggunakan kamera yang terpasang di jam tangannya.

Video tersebut tampak memperlihatkan Tuan Choi berjalan ke sebuah toko untuk membeli tas kulit anak sapi berwarna biru keabu-abuan tersebut, dengan struk pembelian yang menyebutkan harga tas tersebut sebesar 3 juta won (Rp 35 juta). Tas tersebut diduga diberikan kepada Ibu Negara pada bulan September 2022, menurut media lokal.

Meskipun video tersebut tidak secara eksplisit menunjukkan Ibu Kim menerima hadiah tersebut, Korea Herald melaporkan bahwa kantor kepresidenan mengonfirmasi penerimaan tas tersebut dan menyatakan bahwa tas tersebut “dikelola dan disimpan sebagai milik pemerintah.”

Saat itu muncul sebuah jajak pendapat yang menunjukkan bahwa 69% pemilih yang memenuhi syarat di negara itu menginginkan penjelasan dari presiden tentang tindakan istrinya. Jajak pendapat sebelumnya pada bulan Desember menunjukkan 53% responden percaya bahwa perilaku istrinya tidak pantas. Hukum Korea Selatan melarang pejabat publik dan pasangan mereka menerima hadiah senilai lebih dari 1 juta won sekaligus, atau total 3 juta won dalam satu tahun fiskal. (Lina Nursanty)