JAKARTA – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengecam serangan Israel ke ibu kota Qatar, Doha, pada Selasa (9/9) lalu dan menyerukan de-eskalasi dalam sebuah pernyataan yang disepakati oleh seluruh 15 anggota, termasuk sekutu utama Israel, Amerika Serikat (AS).
Pernyataan itu – yang tidak secara langsung menyebut nama Israel – didukung oleh seluruh 15 anggota Dewan Keamanan, termasuk AS yang biasanya memblokir tindakan terhadap sekutu dekatnya tersebut. Mereka mengeluarkan pernyataan itu menjelang pertemuan darurat pada Kamis yang digelar untuk membahas serangan Israel yang menargetkan para pemimpin Hamas di ibu kota Qatar, seiring meningkatnya ofensif Israel di Kota Gaza yang memaksa lebih dari 200.000 orang mengungsi.
Lima anggota Hamas tewas, namun kelompok Palestina itu mengatakan pimpinan mereka selamat dari upaya pembunuhan. Seorang anggota pasukan keamanan Qatar juga tewas dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu, yang membuat ketegangan di kawasan melonjak.
Para pemimpin Hamas saat itu sedang membahas sebuah kesepakatan baru yang diajukan Presiden AS Donald Trump ketika serangan terjadi. “Para anggota Dewan menekankan pentingnya de-eskalasi dan menyatakan solidaritas dengan Qatar,” bunyi pernyataan yang disusun oleh Prancis dan Inggris, meski tetap berhenti menyebut Israel secara eksplisit seperti dikutip dari Aljazeera.
Pernyataan itu juga menekankan bahwa pembebasan para sandera, termasuk yang dibunuh Hamas, serta diakhirinya perang dan penderitaan di Gaza menjadi prioritas utama. Lebih dari 40 sandera masih ditahan di Gaza, namun hanya sekitar 20 yang diyakini masih hidup. AS, yang biasanya melindungi Israel di PBB, tampak memberikan teguran keras terhadap Israel, mencerminkan ketidakpuasan Presiden Donald Trump atas serangan itu.
Penjabat Duta Besar AS Dorothy Shea mengatakan: “Pemboman sepihak di Qatar, sebuah negara berdaulat yang bekerja sangat keras dan berani mengambil risiko bersama Amerika Serikat untuk menengahi perdamaian, tidak memajukan tujuan Israel maupun Amerika.” “Namun demikian, tidak tepat bagi siapa pun untuk menggunakan ini guna mempertanyakan komitmen Israel dalam memulangkan para sandera mereka,” lanjutnya.
Melaporkan dari New York, jurnalis Al Jazeera Gabriel Elizondo mengatakan bahwa sumber diplomatik memberitahunya bahwa AS “menolak” bahasa yang lebih keras terhadap Israel dalam pernyataan itu, meski tetap dianggap “sangat signifikan”.
Namun, Shea menegaskan bahwa “AS tidak bisa dan tidak akan membela serangan Israel ke Qatar”. “Jelas, AS masih mendukung Israel. Jelas, AS masih akan … melindungi Israel di Dewan Keamanan, tetapi ini sudah melampaui batas bagi Amerika Serikat,” kata Elizondo. “Ia menambahkan, akan menarik untuk melihat dalam beberapa jam dan hari mendatang apakah akan ada penjelasan lebih lanjut dari Gedung Putih mengenai hal ini.”
Setelah serangan Selasa itu, Gedung Putih mengatakan Presiden Trump tidak diberi tahu sebelumnya. Setelah mengetahui serangan tersebut, presiden kabarnya meminta utusannya, Steve Witkoff, untuk segera memperingatkan Qatar, namun serangan sudah dimulai.
Qatar memainkan peran penting dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Israel-Gaza, bertindak sebagai mediator dalam negosiasi tidak langsung antara Hamas dan Israel. Sejak 2012, Qatar menjadi tuan rumah bagi biro politik Hamas, dan juga merupakan sekutu dekat AS, yang memiliki pangkalan udara besar di gurun barat daya Doha.
BBC melaporkan pertemuan darurat ini diminta oleh Qatar, Aljazair, Pakistan, dan Somalia. Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani hadir langsung ke New York untuk menghadirinya. “Serangan ini menempatkan komunitas internasional dalam sebuah ujian,” kata al-Thani di hadapan dewan.
“Israel, yang dipimpin oleh kaum ekstremis penuh gertakan, telah melampaui batas apa pun dalam perilakunya. Kami tidak mampu memprediksi apa yang akan dilakukan Israel. Bagaimana kami bisa menjadi tuan rumah bagi perwakilan Israel ketika mereka telah melakukan serangan ini?”
Duta Besar Pakistan, Asim Iftikhar Ahmad, mengatakan: “Sudah jelas bahwa Israel, sebagai kekuatan pendudukan, bertekad melakukan segala hal untuk melemahkan dan menghancurkan setiap kemungkinan perdamaian. Sementara itu, Duta Besar Aljazair Amar Bendjama mengatakan Dewan Keamanan tetap “terbelenggu” karena “bahkan tidak mampu menyebut pihak penyerang, atau mengkualifikasikan agresi sebagai pelanggaran hukum internasional.”
Perwakilan Israel, Danny Danon, membela serangan tersebut, dengan mengatakan dalam pertemuan: “Serangan ini mengirim pesan yang harus bergema di seluruh ruangan ini. Tidak ada tempat aman bagi teroris, tidak di Gaza, tidak di Teheran, tidak di Doha.”
Agar sebuah pernyataan Dewan Keamanan dapat dikeluarkan, seluruh 15 anggota harus menyetujui teksnya. AS sejak lama memblokir pernyataan yang mengkritik Israel – sehingga dukungannya kali ini, meski Israel tidak disebutkan secara langsung, dianggap penting.
Adapun, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani terbang dari Doha untuk menghadiri sesi maraton selama tiga jam itu, dan mengatakan kepada DK PBB bahwa Doha akan terus melanjutkan upaya kemanusiaan dan diplomatiknya, tetapi tidak akan mentolerir pelanggaran lebih lanjut terhadap keamanan dan kedaulatannya.
Mengecam para pemimpin Israel sebagai “arogan”, ia mengatakan bahwa waktu serangan yang bertepatan dengan upaya mediasi menunjukkan bahwa Israel memang berniat menggagalkannya. “Israel secara ceroboh merusak stabilitas kawasan,” ujarnya.
Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Politik, Rosemary DiCarlo, menggambarkan Qatar sebagai mitra berharga dalam memajukan perdamaian dan menyuarakan keprihatinan atas kecerobohan Israel, dengan menyebut serangan itu sebagai eskalasi yang mengkhawatirkan.
Ia menegaskan bahwa perang Israel di Gaza telah menewaskan puluhan ribu orang dan hampir sepenuhnya menghancurkan Gaza, serta bahwa situasi di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur yang diduduki, “terus memburuk”.
Ia juga menyoroti “eskalasi berbahaya” lain oleh Israel di seluruh kawasan, termasuk melibatkan Iran, Lebanon, Suriah, dan Yaman. “Serangan Israel di Doha berpotensi membuka babak baru yang berbahaya dalam konflik yang menghancurkan ini, yang secara serius mengancam perdamaian dan stabilitas regional,” ujarnya. (Dwi Sasongko)