NEW YORK – Dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap Israel benar-benar total. Terbaru, AS memveto resolusi penting Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menuntut gencatan senjata di Gaza, sementara Israel memperluas serangan bumi hangusnya di Kota Gaza.
Resolusi yang disetujui oleh 14 dari 15 anggota Dewan Keamanan pada pekan lalu itu menyerukan “gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen di Gaza yang dihormati oleh semua pihak”, pembebasan semua tawanan yang ditahan oleh Hamas dan kelompok-kelompok lain, serta pencabutan pembatasan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Disusun oleh 10 anggota terpilih dewan, resolusi ini melangkah lebih jauh dari sebelumnya dengan menyoroti apa yang disebut para diplomat sebagai situasi kemanusiaan “bencana” di Gaza setelah hampir dua tahun perang di Jalur Gaza, yang telah menewaskan sedikitnya 65.141 orang.
Seperti yang diperkirakan, Amerika Serikat memveto upaya tersebut. Ini adalah keenam kalinya AS melakukan hal serupa. “Penentangan AS terhadap resolusi ini tidak akan mengejutkan,” kata Morgan Ortagus, wakil utusan khusus AS untuk Timur Tengah.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa resolusi ini gagal mengutuk Hamas atau mengakui hak Israel untuk membela diri, dan secara keliru melegitimasi narasi palsu yang menguntungkan Hamas. “Yang sayangnya telah beredar luas di dewan ini,” ujarnya.
Ortagus menambahkan bahwa deklarasi resmi bencana kelaparan di wilayah kantong tersebut bulan lalu oleh Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu yang didukung PBB telah menggunakan “metodologi yang cacat”. Ia malah memuji kinerja pusat-pusat GHF yang sangat dimiliterisasi, tempat banyak warga Palestina terbunuh saat mencari makanan untuk keluarga mereka.
Setelah pemungutan suara, Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, mengatakan bahwa veto AS sangat disesalkan dan telah menghalangi Dewan Keamanan untuk memainkan perannya yang semestinya dalam menghadapi kekejaman ini dan melindungi warga sipil dalam menghadapi genosida. “Sayangnya, Dewan tetap diam, yang mengorbankan kredibilitas dan otoritasnya. Ini menunjukkan bahwa dalam kasus kejahatan kekejaman, penggunaan hak veto seharusnya tidak diizinkan,” katanya.
Duta Besar Aljazair untuk PBB, Amar Bendjama, juga menyampaikan pernyataan yang tegas. Kepada rakyat Palestina, Amar meminta maaf. “Maafkan kami, karena dunia berbicara tentang hak, tetapi mengingkarinya bagi rakyat Palestina. Maafkan kami karena upaya kami, upaya tulus kami, telah hancur berkeping-keping melawan tembok penolakan ini,” ujarnya.
Perang di Gaza, katanya, telah menewaskan lebih dari 18.000 anak-anak dan 12.000 perempuan, menewaskan lebih dari 1.400 dokter dan perawat, serta lebih dari 250 jurnalis. Israel, tambahnya, “kebal”, bukan karena hukum internasional, tetapi karena “bias sistem internasional”.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Danny Danon, mengatakan bahwa Israel “tidak membutuhkan pembenaran” atas perangnya di Gaza. Ia berterima kasih kepada Ortagus karena telah menggunakan hak veto AS.
Al Jazeera melaporkan, pemungutan suara tersebut merupakan momen suram pada peringatan 80 tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan banyak negara memperjuangkan diplomasi multilateral, sementara AS bersikeras mengambil pandangan dunia yang mengutamakan Amerika.
Serangan Berlanjut
Dengan serangan daratnya di Kota Gaza, yang dimulai Selasa (17/9/2025), Israel tampaknya berniat menghancurkan harapan gencatan senjata. Militer Israel, yang telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk menghancurkan Hamas secara definitif, belum memberikan jadwal spesifik untuk serangan tersebut, meskipun ada indikasi bahwa serangan tersebut bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Pada hari Selasa, tim ahli independen yang ditugaskan oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza, dengan tujuan untuk “menghancurkan” warga Palestina. Sebelum pemungutan suara, Danon dari Israel telah mengunggah di X bahwa resolusi tersebut “tidak akan membebaskan para sandera maupun mendatangkan keamanan”. Israel, katanya, akan terus memerangi Hamas dan melindungi warganya, meskipun Dewan Keamanan lebih memilih untuk menutup mata terhadap teror tersebut.
Duta Besar Denmark untuk PBB Christina Markus Lassen menggarisbawahi betapa seriusnya bencana kelaparan buatan manusia di Israel. “Para ibu yang putus asa terpaksa merebus daun untuk memberi makan anak-anak mereka, para ayah mengais-ngais puing-puing untuk mencari makanan,” ujarnya.
Christina menambahkan, bahwa orang-orang Palestina terbunuh saat mereka berusaha mendapatkan makanan untuk bertahan hidup. Satu generasi berisiko hilang bukan hanya karena perang, tetapi juga karena kelaparan dan keputusasaan.
Veto AS terhadap resolusi tersebut juga terjadi ketika sekitar setengah dari warga Amerika mengatakan respons militer Israel di Jalur Gaza telah “terlalu jauh,” menurut survei dari The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research.
Para analis yakin hasil pemungutan suara hari Kamis semakin menyoroti isolasi AS dan Israel di panggung dunia selama hampir dua tahun perang di Gaza. Pekan lalu, Majelis Umum PBB dengan suara mayoritas mendukung solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina dan mendesak Israel untuk berkomitmen pada negara Palestina. (Lina Nursanty)