GAZA – Hamas akan mulai membebaskan sandera Israel yang ditawan di Gaza pada Senin (13/10/2025) pagi sebelum pertemuan puncak internasional di Mesir digelar. Pemimpin Palestina yang paling populer dan berpotensi mempersatukan, yakni Marwan Barghouti, tidak termasuk di antara tahanan yang akan dibebaskan.
Dilansir oleh AP, Israel juga menolak pembebasan tahanan penting lainnya yang telah lama diupayakan Hamas, meskipun belum jelas apakah daftar sekitar 250 tahanan yang dirilis Jumat di situs web resmi pemerintah Israel sudah final.
Pejabat senior Hamas, Mousa Abu Marzouk, mengatakan kepada jaringan TV Al Jazeera bahwa kelompok tersebut bersikeras untuk membebaskan Barghouti dan tokoh-tokoh penting lainnya, dan bahwa mereka sedang berdiskusi dengan para mediator.
Israel memandang Barghouti sebagai pemimpin teroris. Ia menjalani hukuman seumur hidup setelah dihukum pada tahun 2004 terkait serangan di Israel yang menewaskan lima orang. Namun beberapa pakar mengatakan Israel takut pada Barghouti karena alasan lain: Sebagai pendukung solusi dua negara meskipun mendukung perlawanan bersenjata terhadap pendudukan, Barghouti bisa menjadi tokoh penggalang yang kuat bagi Palestina.
Beberapa warga Palestina menganggapnya sebagai Nelson Mandela mereka sendiri, aktivis anti-apartheid Afrika Selatan yang menjadi presiden kulit hitam pertama di negaranya.
Sebagai bagian dari tahap pertama kesepakatan tersebut, Hamas akan membebaskan para tawanan, yang 20 di antaranya diyakini Israel masih hidup, dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina. “Menurut perjanjian yang ditandatangani, pertukaran tahanan akan dimulai pada Senin pagi sesuai kesepakatan,” kata pejabat Hamas, Osama Hamdan kepada AFP seperti dilansir oleh NDTV.
Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi kemudian akan memimpin pertemuan puncak lebih dari 20 negara di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh pada Senin sore. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza, meningkatkan upaya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, dan mengawali era baru keamanan dan stabilitas regional.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyatakan akan hadir, demikian pula Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, rekan-rekannya dari Italia dan Spanyol, Giorgia Miloni dan Pedro Sanchez, serta Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Belum ada kabar langsung mengenai apakah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan hadir. Sementara, Hamas mengatakan tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan itu. Menurut anggota biro politik Hamas, Hossam Badran, mereka tidak akan hadir karena telah bertindak terutama melalui mediator Qatar dan Mesir selama perundingan.
Terlepas dari terobosan yang tampak jelas, para mediator masih memiliki tugas yang rumit untuk mengamankan solusi politik jangka panjang yang akan membuat Hamas menyerahkan senjata dan mundur dari pemerintahan Gaza. Badran mengatakan fase kedua dari rencana Trump mengandung banyak kerumitan dan kesulitan karena syarat pelucutan senjata Hamas adalah sebuah hal yang tidak mungkin.

Pasukan Multinasional
Berdasarkan rencana Trump, seiring Israel melakukan penarikan bertahap dari kota-kota Gaza, pasukan tersebut akan digantikan oleh pasukan multinasional dari Mesir, Qatar, Turki, dan Uni Emirat Arab, yang dikoordinasikan oleh pusat komando pimpinan AS di Israel.
Pada hari Sabtu, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper, utusan Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, mengunjungi Gaza. Disana, mereka menyaksikan ratusan ribu warga Palestina kembali ke rumah mereka yang hancur akibat serangan Israel.
Witkoff, Kushner, dan putri Trump, Ivanka, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tel Aviv untuk menghadiri pertemuan dengan keluarga para sandera Israel yang tersisa di Gaza, di mana massa meneriakkan “Terima kasih Trump”.
Hamas memiliki waktu hingga Senin siang untuk menyerahkan 47 sandera yang tersisa — hidup dan mati — dari 251 sandera yang diculik dalam serangan dua tahun lalu, yang menyebabkan kematian 1.219 orang, sebagian besar warga sipil. Jenazah satu sandera lagi, yang ditahan di Gaza sejak 2014, juga diperkirakan akan dikembalikan.
Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan 250 tahanan, termasuk beberapa yang menjalani hukuman seumur hidup atas serangan anti-Israel yang mematikan, dan 1.700 warga Gaza yang ditahan oleh militer sejak perang pecah. Dinas penjara Israel mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka telah memindahkan 250 tahanan keamanan nasional ke dua penjara menjelang penyerahan.
Warga Kembali
Sementara itu, Badan pertahanan sipil Gaza, sebuah layanan penyelamatan yang beroperasi di bawah otoritas Hamas melaporkan bahwa lebih dari 500.000 warga Palestina telah kembali ke Kota Gaza pada Sabtu malam. “Kami berjalan berjam-jam, dan setiap langkah dipenuhi rasa takut dan cemas akan rumah saya,” ujar Raja Salmi, 52 tahun, kepada AFP.
Ketika ia tiba di lingkungan Al-Rimal, ia mendapati rumahnya hancur total. “Saya berdiri di depannya dan menangis. Semua kenangan itu kini hanya debu,” katanya.
Rekaman drone yang diambil oleh AFP menunjukkan seluruh blok kota telah hancur berkeping-keping menjadi tumpukan beton dan kawat baja yang berliku-liku. Dinding dan jendela blok apartemen lima lantai telah robek dan kini teronggok di pinggir jalan sementara warga yang putus asa mencari-cari di antara puing-puing.
Pria, wanita, dan anak-anak menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi puing, mencari rumah di antara reruntuhan beton, kendaraan yang hancur, dan puing-puing. Sami Musa, 28, kembali sendirian untuk memeriksa rumah keluarganya. “Alhamdulillah… saya mendapati rumah kami masih berdiri,” kata Musa.
Genosida Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 67.682 orang. Angka yang diumumkan oleh Kementerian Kesehatan dan dianggap kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Data tersebut tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan, tetapi menunjukkan bahwa lebih dari separuh korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.
Kantor kemanusiaan PBB mengatakan Israel telah mengizinkan badan-badan bantuan untuk mulai mengangkut 170.000 ton bantuan ke Gaza jika gencatan senjata tetap berlaku. BBC melaporkan bahwa truk bantuan sudah terlihat menyeberang ke Gaza di perbatasan Rafah dengan Mesir pada Minggu (12/10/2025) siang.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera, jumlah bantuan yang masuk ke Gaza akan ditingkatkan – tetapi Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan kepada BBC pada hari Sabtu bahwa lonjakan truk bantuan “belum” memasuki Gaza, hanya dua hingga tiga truk yang memasuki wilayah tersebut setiap hari. (Lina Nursanty)