Saling Serang di Perbatasan, Taliban Klaim Tewaskan 58 Tentara Pakistan 

Kelompok militan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), yang beroperasi dengan aman dari dalam Afghanistan sejak Taliban menguasai Kabul pada tahun 2021, telah menjadi masalah keamanan yang sulit diatasi bagi Islamabad. Foto: iiss.org
Bentrokan di perbatasan itu disebut sebagai serangan balasan Afghanistan atas serangan bom yang terjadi pada Kamis (9/10/2025) di sebuah pasar warga sipil di provinsi perbatasan Paktika, Kabul.
Share the Post:

KABUL – Pasukan Pakistan terlibat adu tembak dengan pasukan Afghanistan di beberapa lokasi perbatasan kedua negara tersebut. Mereka saling mengklaim telah merebut dan menghancurkan pos-pos perbatasan dalam salah satu bentrokan perbatasan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. 

Dilansir oleh Al Jazeera, juru bicara pemerintahan Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan setidaknya 58 tentara Pakistan tewas dalam serangan “balasan” pada Sabtu (11/10/2025) malam, dua hari setelah ledakan dilaporkan di ibu kota, Kabul, dan provinsi Paktika di tenggara. 

Serangan Taliban di daerah perbatasan Pakistan dimulai sekitar pukul 10 malam pada hari Sabtu (11/10/2025) dan baku tembak terjadi di beberapa lokasi. Para pejabat Pakistan dan radio pemerintah mencatat bahwa lokasi-lokasi tersebut meliputi Angoor Adda, Bajaur, Kurram, Dir, dan Chitral – semuanya di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa – dan Bahram Chah di Balochistan.

Mujahid mengatakan pasukan Afghanistan menewaskan 58 tentara Pakistan, merebut 25 pos militer, dan melukai 30 tentara dalam serangan mereka. “Situasi di semua perbatasan resmi dan garis de facto Afghanistan berada di bawah kendali penuh, dan aktivitas ilegal sebagian besar telah dicegah,” kata Mujahid dalam konferensi pers di Kabul.

Saluran berita TOLO Afghanistan melaporkan pada hari Minggu bahwa Kementerian Pertahanan mengerahkan tank dan senjata berat di beberapa wilayah Provinsi Kunar di perbatasan sepanjang 2.640 km (1.640 mil), yang juga disebut sebagai Garis Durand era kolonial.

Bentrokan di perbatasan itu disebut sebagai serangan balasan Afghanistan atas serangan bom yang terjadi pada Kamis (9/10/2025) di sebuah pasar warga sipil di provinsi perbatasan Paktika, Kabul. Kementerian Pertahanan Taliban pada hari Jumat menuduh Pakistan melanggar “wilayah kedaulatan” Afghanistan. Islamabad tidak langsung membantah ledakan tersebut, tetapi meminta Taliban untuk mengekang aktivitas Taliban Pakistan.

Seorang pejabat keamanan Pakistan mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa serangan udara telah dilakukan dan target yang dituju di Kabul adalah pemimpin Tehrik-e Taliban Pakistan (TTP), yang sedang bepergian dengan sebuah kendaraan.

Enayatullah Khowarazmi, juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, mengatakan serangan Afghanistan terhadap pos perbatasan Pakistan merupakan operasi balasan, dan menambahkan bahwa serangan tersebut berakhir pada tengah malam. “Jika pihak lawan kembali melanggar wilayah udara Afghanistan, angkatan bersenjata kami siap mempertahankan wilayah udara mereka dan akan memberikan respons yang kuat,” kata Khowarazmi.

Militer Pakistan pada hari Minggu mengutuk apa yang disebutnya “tindakan pengecut” yang bertujuan untuk mengacaukan wilayah perbatasan guna memfasilitasi terorisme. Setidaknya 29 tentara terluka dalam pertempuran itu. “Dengan menggunakan hak membela diri, Angkatan Bersenjata Pakistan yang siaga menangkis serangan tersebut dengan tegas. Episode tadi malam membenarkan posisi lama Pakistan bahwa pemerintah Taliban secara aktif memfasilitasi para teroris,” kata Hubungan Masyarakat Antar-Layanan (ISPR), sayap media militer, dalam sebuah pernyataan.

Serangan Taliban di daerah perbatasan Pakistan dimulai sekitar pukul 10 malam pada hari Sabtu (11/10/2025) dan baku tembak terjadi di beberapa lokasi. Tampak di peta gambaran beberapa titik serangan yang terjadi antar kedua negara. Foto : x.com/MarioNawfal

Militer Pakistan mengklaim bahwa beberapa lokasi Taliban dihancurkan di sepanjang perbatasan dan 21 posisi musuh di sisi perbatasan Afghanistan juga sempat direbut secara fisik, dan beberapa kamp pelatihan teroris, yang digunakan untuk merencanakan dan memfasilitasi serangan terhadap Pakistan, dinonaktifkan.

Pakistan pernah menjadi pendukung para pejuang Taliban selama pemberontakan mereka melawan pendudukan Afghanistan yang dipimpin Amerika Serikat. Pakistan juga merupakan salah satu dari hanya tiga negara yang mengakui pemerintahan Taliban pertama dari tahun 1996 hingga 2001.

Namun, meningkatnya serangan di Pakistan sejak Taliban kembali berkuasa pada tahun 2021 telah memperburuk hubungan kedua negara karena Islamabad menuduh pemerintahan Taliban menyediakan tempat berlindung yang aman bagi para pejuang Tehrik-e Taliban Pakistan (TTP), atau Taliban Pakistan. Kabul membantah tuduhan tersebut.

Dulu Sekutu

Pakistan dan Taliban, yang dulunya bersekutu karena kepentingan keamanan bersama, semakin bermusuhan setelah Islamabad mengklaim bahwa Taliban memberikan perlindungan kepada TTP, sebuah kelompok bersenjata yang dituduh melakukan serangan selama bertahun-tahun di Pakistan.

Setidaknya 2.414 korban jiwa telah tercatat dalam tiga kuartal pertama tahun ini, menurut Pusat Penelitian dan Studi Keamanan (CRSS), sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Islamabad. Dalam laporan terbarunya yang diterbitkan bulan lalu, CRSS menyatakan bahwa jika tren ini berlanjut, tahun 2025 bisa menjadi salah satu tahun paling mematikan di Pakistan. Tahun lalu, setidaknya 2.546 orang tewas dalam serangan.

Hubungan kedua negara memburuk seiring meningkatnya serangan udara Islamabad di Afghanistan untuk menargetkan tempat persembunyian yang diklaimnya digunakan oleh para pejuang TTP. Hubungan juga memburuk akibat keputusan Pakistan untuk mendeportasi puluhan ribu pengungsi Afghanistan. Setidaknya 3 juta pengungsi Afghanistan telah berlindung di Pakistan setelah melarikan diri dari konflik selama puluhan tahun. (Lina Nursanty)