Beijing Sanksi Perusahaan Pertahanan AS karena Jual Senjata ke Taiwan

Markas perusahaan pertahanan asal Ohio, AS, Anduril Industries, salah satu perusahaan yang eksekutifnya dikenai sanksi Tiongkok gara-gara AS menjual senjata ke Taiwan. Foto : anduril.com
Tiongkok menegaskan bahwa Taiwan adalah miliknya dan oleh karena itu harus berada di bawah kendalinya. Pengumuman paket penjualan senjata AS, yang bernilai lebih dari USD10 miliar, telah memicu reaksi marah dari Tiongkok.
Share the Post:

BEIJING — Beijing memberlakukan sanksi pada hari Jumat (25/12/2025) terhadap 20 perusahaan terkait pertahanan AS dan 10 eksekutif, seminggu setelah Washington mengumumkan penjualan senjata skala besar ke Taiwan. Sanksi tersebut mencakup pembekuan aset perusahaan di Tiongkok dan pelarangan bagi individu dan organisasi untuk berurusan dengan mereka, menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

NBCnews melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut termasuk Northrop Grumman Systems Corporation, L3Harris Maritime Services, dan Boeing di St. Louis. Sementara, pendiri perusahaan pertahanan Anduril Industries, Palmer Luckey, adalah salah satu eksekutif yang dikenai sanksi, yang tidak lagi dapat melakukan bisnis di Tiongkok dan dilarang memasuki negara tersebut. Aset mereka di negara Asia Timur itu juga telah dibekukan. 

Tiongkok menegaskan bahwa Taiwan adalah miliknya dan oleh karena itu harus berada di bawah kendalinya. Pengumuman paket penjualan senjata AS, yang bernilai lebih dari USD10 miliar, telah memicu reaksi marah dari Tiongkok. Jika disetujui oleh Kongres Amerika, ini akan menjadi paket senjata AS terbesar yang pernah dikirim ke Taiwan. 

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan bahwa masalah Taiwan berada di inti kepentingan utama Tiongkok dan garis merah pertama yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan Tiongkok-AS. “Setiap perusahaan atau individu yang terlibat dalam penjualan senjata ke Taiwan akan membayar harga atas kesalahan tersebut,” demikian tertulis dalam pernyataan resmi tersebut.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga mendesak AS untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai langkah berbahaya mempersenjatai Taiwan. Seperti diberitakan sebelumnya, AS dan Taiwan telah mengumumkan paket senjata senilai USD 11,1 miliar atau Rp 185,7 triliun yang jika terealisasi akan menjadi salah satu penjualan militer terbesar Washington ke pulau tersebut. Kesepakatan ini mencakup delapan pembelian terpisah, yang meliputi sistem roket HIMARS, rudal anti-tank, rudal anti-armor, drone bunuh diri yang mengintai, meriam howitzer, perangkat lunak militer, dan suku cadang untuk peralatan lain, menurut rincian yang dirilis oleh kedua pemerintah. 

Berpotensi Meledak

Taiwan merupakan titik rawan utama dalam hubungan AS-Tiongkok yang dikhawatirkan para analis dapat meledak menjadi konflik militer antara kedua kekuatan tersebut. Tiongkok mengatakan bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan akan melanggar perjanjian diplomatik antara Tiongkok dan AS.

Militer Tiongkok telah meningkatkan kehadirannya di langit dan perairan Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, mengadakan latihan gabungan dengan kapal perang dan jet tempurnya hampir setiap hari di dekat pulau tersebut.

Berdasarkan hukum federal Amerika, AS berkewajiban untuk membantu Taiwan dalam membela diri, sebuah poin yang semakin menjadi perdebatan dengan Tiongkok. Beijing sudah memiliki hubungan yang tegang dengan Washington terkait perdagangan, teknologi, dan isu hak asasi manusia lainnya. Persoalan penjualan senjata ke Taiwan ini kian memperkeruh hubungan keduanya. (Lina Nursanty)