20 Hari Terlibat Pertempuran Sengit, Thailand dan Kamboja Akhirnya Sepakat Gencatan Senjata 

Caption: Menteri Pertahanan Thailand Jenderal Natthaphon Narkphanit dan Wakil Perdana Menteri Kamboja, Jenderal Tea Seiha menandatangani kesepakatan gencatan senjata. /akp.gov.kh
Perjanjian yang ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Thailand Jendral Natthaphon Narkphanit dan Wakil Perdana Menteri Kamboja, Jendral Tea Seiha, mengakhiri pertempuran selama 20 hari, yang terburuk antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara ini dalam beberapa tahun terakhir.
Share the Post:

PROM PAK – Thailand dan Kamboja menyatakan telah menandatangani perjanjian gencatan senjata untuk mengakhiri pertempuran sengit selama berminggu-minggu di sepanjang perbatasan mereka yang telah menewaskan lebih dari 100 orang dan menyebabkan lebih dari setengah juta warga sipil mengungsi di kedua negara.

Perjanjian yang ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Thailand Jendral Natthaphon Narkphanit dan Wakil Perdana Menteri Kamboja, Jendral Tea Seiha, mengakhiri pertempuran selama 20 hari, yang terburuk antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara ini dalam beberapa tahun terakhir.

“Kedua belah pihak sepakat untuk segera melakukan gencatan senjata setelah penandatanganan Pernyataan Bersama ini,” kata menteri pertahanan Thailand dan Kamboja dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu seperti dikutip dari Al Jazeera

Gencatan senjata mulai berlaku pada Sabtu (27/12/2025) siang hari waktu setempat dan mencakup semua jenis senjata dan serangan terhadap warga sipil, objek dan infrastruktur sipil, dan sasaran militer dari kedua belah pihak, dalam semua kasus dan semua wilayah. Meski begitu, Al Jazeera melaporkan dari perbatasan Thailand dan Kamboja, bahwa warga masih ketakutan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. 

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Thailand telah setuju untuk mengembalikan 18 tentara Kamboja yang ditangkap dalam bentrokan sebelumnya. Pada saat yang sama, kedua pihak sepakat untuk menahan diri dari mengambil tindakan provokatif yang dapat meningkatkan ketegangan dan menghindari penyebaran informasi palsu untuk meredakan ketegangan.

Menurut The New York Times, pengumuman gencatan senjata yang mengejutkan itu merupakan hasil dari dua hari negosiasi tegang antara militer kedua negara dan terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat dan China untuk menghentikan pertempuran. 

Kemudian pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengeluarkan pernyataan yang menyambut baik pengumuman gencatan senjata dan merujuk kembali pada perjanjian sebelumnya yang diawasi oleh Presiden Trump pada bulan Oktober. “Kami mendesak Kamboja dan Thailand untuk segera menghormati komitmen ini dan sepenuhnya menerapkan ketentuan Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur,” ujarnya. 

Pada intinya, gencatan senjata mengembalikan kedua belah pihak pada ketentuan kesepakatan tersebut. Namun, tidak ada jaminan bahwa kesepakatan itu akan bertahan, terutama karena kesepakatan itu tidak menyelesaikan masalah inti antara Thailand dan Kamboja: bahwa sebagian besar perbatasan mereka yang hampir sepanjang 500 mil masih belum ditentukan. Permusuhan antara kedua belah pihak semakin mengeras tahun ini.

Konflik ini berakar dari sengketa teritorial di sepanjang perbatasan kedua negara tetangga sepanjang 800 kilometer (500 mil), di mana kuil-kuil kuno diklaim oleh kedua belah pihak dan demarkasi perbatasan era kolonial telah menjadi sumber perselisihan di antara kedua negara selama lebih dari satu abad.

Pertempuran berlanjut hingga beberapa jam sebelum kesepakatan tercapai. Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan bahwa Thailand telah mengerahkan jet tempur F-16 untuk menjatuhkan empat bom di Distrik Kompong Svay, Provinsi Banteay Meanchey, Kamboja. Angkatan udara Thailand tidak segera menanggapi permintaan komentar, tetapi beberapa media berita Thailand melaporkan bahwa serangan udara telah menargetkan lokasi penyimpanan senjata.

Amerika Serikat dan China dalam beberapa hari terakhir telah meluncurkan upaya diplomatik yang hampir bersamaan untuk menengahi krisis tersebut. Trump, yang memposisikan dirinya sebagai pembawa perdamaian global, memasukkan perang antara Thailand dan Kamboja sebagai salah satu dari delapan konflik yang menurutnya telah ia akhiri di seluruh dunia. Pada 12 Desember, ia secara prematur mengumumkan bahwa Thailand dan Kamboja telah menyetujui gencatan senjata, tetapi Thailand membantahnya dan pertempuran berlanjut selama beberapa minggu setelahnya.

Perayaan Keagamaan

Menyambung upaya damai, Pemerintah Kamboja akan menggelar upacara keagamaan diadakan di seluruh 25 provinsi dan ibu kota pada Senin (29/12/2025) sore hari untuk mendoakan kebahagiaan dan perdamaian di Kamboja. Dikutip dari kantor berita Kamboja, AKP, selain mendoakan perdamaian, acara yang diadakan bertepatan dengan peringatan Hari Perdamaian ke-27 ini bertujuan untuk memperkuat semangat solidaritas dan persatuan Khmer, meningkatkan dukungan dan kepercayaan publik terhadap Pemerintah Kerajaan dan angkatan bersenjata, mempromosikan semangat damai dan tanpa kekerasan dalam upaya mencapai perdamaian, dan menghormati para prajurit yang heroik sambil memberikan penghormatan kepada para pejuang dan warga sipil yang gugur.

Program tersebut akan mencakup pembacaan doa, meditasi, penyebaran Metta (kasih sayang), upacara penyalaan lilin, dan sebagainya. Di provinsi-provinsi, acara tersebut akan diselenggarakan di pagoda-pagoda setempat, sementara di Phnom Penh akan berlangsung di Pagoda Botum Vattey di Sangkat Chaktomuk, Khan Daun Penh, dan di Monumen Win-Win di Sangkat Prek Tasek, Khan Chroy Changvar. Setiap upacara doa diperkirakan akan menarik ribuan biksu Buddha, umat, dan anggota masyarakat umum. Apakah gencatan senjata ini bisa bertahan? (Lina Nursanty)