Presiden Korsel Lee Minta Xi Jinping Bantu Mediasi dengan Korea Utara

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung melakukan selfie dengan Presiden China Xi Jinping saat kunjungan resminya ke Beijing pada Senin (6/1/2026) menggunakan ponsel pintar Xiaomi. Ponsel pintar tersebut merupakan hadiah dari pemimpin China tersebut. Foto : x.com/Jaemyung_Lee/
Presiden Korea Selatan mengatakan ia memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan Seoul untuk mengajak Korea Utara berdialog dan memperbaiki hubungan, serta meminta Xi memainkan peran mediasi demi perdamaian di Semenanjung Korea.
Share the Post:

SEOUL – Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan telah meminta Presiden China Xi Jinping untuk membantu memediasi upaya Seoul membuka kembali dialog dengan Korea Utara, di tengah kemajuan pemulihan kepercayaan antara Korea Selatan dan China.

Lee, yang menggelar pertemuan dengan Xi pekan ini, mengatakan pemimpin China tersebut menekankan pentingnya kesabaran saat mereka membahas Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Lee menyampaikan pernyataan itu kepada media Korea Selatan Rabu (7/1/2026) di Shanghai, yang disiarkan langsung di televisi.

Presiden Korea Selatan mengatakan ia memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan Seoul untuk mengajak Korea Utara berdialog dan memperbaiki hubungan, serta meminta Xi memainkan peran mediasi demi perdamaian di Semenanjung Korea. “Presiden Xi mengakui upaya kami sejauh ini dan mengatakan bahwa kesabaran diperlukan,” ujar Lee seperti dikutip dari Reuters.

Aljazeera melaporkan Lee mengusulkan pembekuan program nuklir Pyongyang sebagai imbalan atas “kompensasi atau bentuk timbal balik tertentu.” “Sekadar berhenti pada tingkat saat ini—tidak ada tambahan produksi senjata nuklir, tidak ada transfer material nuklir ke luar negeri, dan tidak ada pengembangan lebih lanjut rudal balistik antarbenua (ICBM)—sudah merupakan sebuah keuntungan,” kata Lee kepada para jurnalis setelah pertemuan dengan para pejabat tinggi China, termasuk pertemuan keduanya dengan Xi dalam kurun waktu dua bulan.

“Jika tahap itu tercapai, maka dalam jangka menengah kita dapat bergerak menuju pengurangan secara bertahap,” tambah Lee. “Dalam jangka panjang, kita tidak boleh menyerah pada tujuan Semenanjung Korea yang bebas nuklir.”

Fase Baru Hubungan dengan China 

Lee tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke China, dan pertemuannya dengan Xi merupakan yang kedua dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. Lee berupaya membuka “fase baru” dalam hubungan dengan China, setelah beberapa tahun hubungan yang dingin dan tertutupnya pasar China bagi ekspor budaya populer Korea Selatan akibat sengketa penempatan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat di Korea Selatan pada 2017.

“Presiden Xi mengatakan, ‘berbicara itu mudah, tetapi bertindak tidaklah mudah,’” ujar Lee, saat menjelaskan bahwa membangun kepercayaan dan rasa saling menghormati antarnegara membutuhkan kerja nyata. Hubungan diplomatik secara inheren memang kompleks karena harus menyeimbangkan kepentingan nasional utama masing-masing negara, kata Lee kepada Xi, seraya menambahkan harapannya agar ketegangan terbaru antara Tokyo dan Beijing dapat diselesaikan. Lee menegaskan Korea Selatan memandang hubungannya dengan Jepang sama pentingnya dengan hubungan dengan China.

Presiden Korea Selatan pada Senin (5/1) mengatakan ia ingin membuka “fase baru” dalam hubungan dengan China, setelah bertemu Presiden Xi Jinping dalam kunjungan pertamanya ke Beijing sejak menjabat pada Juni.

“KTT ini akan menjadi kesempatan penting untuk menjadikan 2026 sebagai tahun pertama pemulihan penuh hubungan Korea–China,” kata Lee. “Saya percaya upaya untuk mengembangkan kemitraan strategis dan kerja sama antara kedua negara menjadi tren zaman yang tidak dapat diputarbalikkan akan terus berlanjut.”

Pertemuan itu merupakan pertemuan kedua Lee dengan Xi hanya dalam dua bulan, menandakan ketertarikan kuat Beijing untuk meningkatkan kolaborasi ekonomi dan pariwisata dengan Seoul, di tengah memburuknya hubungan China dengan Jepang—ekonomi besar lain di Asia Timur Laut—yang kini berada pada titik terendah dalam beberapa tahun akibat sengketa kebijakan terkait Taiwan.

Dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua, Xi membuat rujukan yang relatif langsung dan tidak biasa terhadap pengalaman bersama China dan Korea dalam melawan Jepang pada Perang Dunia II. “Lebih dari 80 tahun lalu, China dan Korea Selatan melakukan pengorbanan nasional yang sangat besar dan meraih kemenangan melawan militerisme Jepang,” kata Xi kepada Lee. Kedua negara, tambah Xi, harus “menjaga perdamaian dan stabilitas di Asia Timur Laut.”

Beberapa jam sebelum kunjungan tersebut, Korea Utara meluncurkan setidaknya dua rudal balistik, peluncuran pertama dalam dua bulan terakhir. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyebutkan perlunya Pyongyang mempertahankan daya tangkal nuklir yang kuat.

Korea Selatan dan China “menegaskan pentingnya melanjutkan kembali dialog dengan Korea Utara dan sepakat untuk terus mengeksplorasi cara-cara kreatif guna menurunkan ketegangan dan membangun perdamaian di Semenanjung Korea,” kata penasihat keamanan Lee, Wi Sung-lac, dalam jumpa pers setelah pertemuan Lee dengan Xi.

Lee, yang terpilih dalam pemilu kilat pada Juni, berjanji memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat tanpa memusuhi China, sekaligus berupaya mengurangi ketegangan dengan Korea Utara. Di sisi lain, Beijing berupaya mempererat hubungan dengan Seoul setelah retaknya hubungan dengan Jepang, yang Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November menyatakan Tokyo dapat mengambil tindakan militer jika Beijing menyerang Taiwan.

Xi, dengan mengutip “situasi internasional yang semakin kacau dan kompleks,” mengatakan China dan Korea Selatan harus membuat “pilihan strategis yang tepat.”

Kedua negara “harus saling menjaga kepentingan inti dan keprihatinan utama masing-masing, serta bersikeras menyelesaikan perbedaan secara tepat melalui dialog dan konsultasi,” kata Xi kepada Lee. 

Profesor di Ewha Womans University, Seoul, Seok Byoung-hoon, mengatakan pernyataan Xi mengindikasikan China ingin Seoul berpihak pada Beijing ketimbang Washington terkait hubungan lintas selat dengan Taiwan, serta menghormati posisi Beijing terkait penyitaan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. (Dwi Sasongko)