HAVANA – Setelah ‘’melumpuhkan’’ Venezuela, Amerika Serikat sedang menargetkan sejumlah negara mulai dari Greenland, Kuba, Kolombia, Iran hingga Meksiko. Di Greenland, AS sudah memiliki pangkalan militer, yaitu Pangkalan Luar Angkasa Pituffik. Namun,Presiden AS Donald Trump menginginkan seluruh pulau itu.
“Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” kata Presiden Donald Trump kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa wilayah tersebut dipenuhi kapal-kapal Rusia dan Tiongkok di mana-mana.
Pulau Arktik yang luas ini, bagian dari Kerajaan Denmark, terletak sekitar 2.000 mil (3.200 km) di timur laut AS. Pulau ini kaya akan mineral langka, yang sangat penting untuk produksi ponsel pintar, kendaraan listrik, dan peralatan militer. Saat ini, produksi mineral langka Tiongkok jauh melebihi produksi AS.
Greenland juga menempati lokasi strategis utama di Atlantik Utara, memberikan akses ke lingkaran Arktik yang semakin penting. Seiring mencairnya es kutub dalam beberapa tahun mendatang, rute pelayaran baru diperkirakan akan terbuka.
Mengutip dari BBC, Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang bukan benua dan terletak di Arktik. Sekitar 56.000 orang tinggal di sana, sebagian besar adalah penduduk asli Inuit. Dan sekira 80% wilayahnya tertutup es, artinya sebagian besar penduduk tinggal di pesisir barat daya sekitar ibu kota, Nuuk. Ekonomi Greenland terutama bergantung pada perikanan, dan menerima subsidi besar dari Pemerintah Denmark.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap sumber daya alam Greenland, termasuk penambangan mineral tanah jarang, uranium, dan besi, semakin meningkat. Sumber daya ini mungkin menjadi lebih mudah diakses seiring dengan pemanasan global yang menyebabkan mencairnya lapisan es raksasa yang menutupi pulau tersebut.
Tentu rencana Trump mendapat reaksi keras dari Denmark. Perdana Menteri (PM) Denmark, Mette Frederiksen, mengecam keras upaya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berniat mencaplok Greenland. Ia memeringatkan upaya paksa Washington mengambil alih Greenland bisa berujung kepada bubarnya Pakta Aliansi Atlantik Utara atau NATO. “Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berakhir,” ungkap Frederiksen pada Senin (5/1) waktu setempat.
Tak hanya Greenland, Trump juga menargetkan Kolombia. Hanya beberapa jam setelah operasi di Venezuela, Trump memperingatkan Presiden Kolombia Gustavo Petro untuk “hati-hati”. Kolombia, tetangga Venezuela di sebelah barat, memiliki cadangan minyak yang besar dan merupakan produsen utama emas, perak, zamrud, platinum, dan batu bara. Negara ini juga merupakan pusat utama perdagangan narkoba di kawasan itu – terutama kokain.
Sejak AS mulai menyerang kapal-kapal di Karibia dan Pasifik timur pada bulan September—dengan alasan, tanpa bukti, bahwa kapal-kapal tersebut membawa narkoba—Trump telah terlibat dalam perselisihan yang semakin memanas dengan presiden sayap kiri negara itu.
AS menjatuhkan sanksi kepada Petro pada bulan Oktober, dengan mengatakan bahwa ia membiarkan kartel-kartel “berkembang”. Berbicara di atas pesawat Air Force One pada hari Minggu (4/1/2026), Trump mengatakan Kolombia dijalankan oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat. Ketika ditanya apakah AS akan melakukan operasi yang menargetkan Kolombia, Trump menjawab, “Kedengarannya bagus bagi saya,” ujarnya.
Meski berada di luar kawasan Amerika Latin, Iran menjadi salah satu tujuan serangan Trump. Saat ini menghadapi protes anti-pemerintah besar-besaran dan Trump semalam memperingatkan bahwa pihak berwenang di sana akan dihantam sangat keras jika lebih banyak demonstran tewas. “Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” katanya kepada wartawan di Air Force One.
Negara terakhir yaitu Meksiko. Kebangkitan Trump ke tampuk kekuasaan pada tahun 2016 ditandai dengan seruannya untuk “Membangun Tembok” di sepanjang perbatasan selatan dengan Meksiko. Pada hari pertamanya kembali menjabat pada tahun 2025, ia menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika”.
Ia sering mengklaim bahwa otoritas Meksiko tidak berbuat cukup untuk menghentikan aliran narkoba atau imigran ilegal ke AS. Berbicara pada hari Minggu (4/1/2026), ia mengatakan bahwa narkoba mengalir deras melalui Meksiko. “Kita harus melakukan sesuatu, kartel di sana sangat kuat,” ujarnya. Menanggapi hal itu, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum secara terbuka menolak tindakan militer AS apa pun di wilayah Meksiko.

32 Warga Kuba Tewas
Pemerintah Kuba mengatakan 32 warga negaranya tewas selama operasi militer Amerika Serikat untuk menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. Mereka menggambarkan korban tewas sebagai anggota angkatan bersenjata dan badan intelijen mereka yang tewas dalam aksi pertempuran dan menyatakan dua hari sebagai hari berkabung nasional.
Seperti dilansir oleh BBC, Angkatan Bersenjata Kuba menambahkan bahwa warga Kuba gugur setelah perlawanan sengit dalam pertempuran langsung melawan penyerang atau sebagai akibat dari pemboman instalasi. Sebagai sekutu lama Venezuela, Kuba selama bertahun-tahun telah memasok Maduro dengan pengawal pribadinya dan memiliki personel di seluruh militer Venezuela. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengatakan negaranya telah memberikan perlindungan kepada Maduro dan istrinya atas permintaan Venezuela.
Banyak dari mereka yang tewas diyakini sebagai bagian dari pengawal pribadi Maduro, yang bersamanya pada saat itu. Venezuela belum mengkonfirmasi berapa banyak orang yang tewas, tetapi angkatan bersenjatanya mengatakan bahwa sebagian besar tim keamanan Maduro termasuk di antara korban. Pernyataan resmi dari pemerintah Kuba berbunyi: “Rekan-rekan sebangsa kami telah memenuhi tugas mereka dengan bermartabat dan heroik”.
Jumlah korban tewas secara keseluruhan – menurut seorang pejabat Venezuela yang tidak disebutkan namanya dan dikutip oleh New York Times – mencapai 80 orang dan diperkirakan akan meningkat. BBC News belum memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Beberapa hari setelah penangkapan Maduro, muncul pertanyaan apakah pemerintahan Trump dapat mempertimbangkan operasi serupa terhadap Kuba, yang, seperti Venezuela, telah memiliki hubungan permusuhan selama beberapa dekade dengan AS.
Berbicara kepada wartawan pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump mengatakan tindakan militer tidak akan diperlukan karena “Kuba siap untuk jatuh”. Ia melanjutkan: “Saya rasa kita tidak perlu tindakan apa pun. Sepertinya Kuba akan jatuh. Kuba akan kalah telak,” katanya.
Pada hari Sabtu (4/1/2026), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menggambarkan Kuba sebagai “bencana” yang dijalankan oleh “orang-orang yang tidak kompeten dan pikun”. “Jika saya tinggal di Havana, dan saya berada di pemerintahan, saya akan khawatir – setidaknya sedikit,” kata Rubio.
Pada Juli tahun lalu, Trump menandatangani memorandum yang memberlakukan pembatasan yang lebih ketat terhadap Kuba, membalikkan langkah-langkah pendahulunya, Joe Biden, yang mengurangi tekanan pada negara kepulauan Karibia tersebut.
Gedung Putih mengatakan akan mengakhiri praktik ekonomi yang secara tidak proporsional menguntungkan pemerintah Kuba, militer, intelijen, atau badan keamanan dengan mengorbankan rakyat Kuba. Gedung Putih juga mengatakan pembatasan yang ada terhadap warga Amerika yang mengunjungi Kuba akan ditegakkan dengan lebih ketat. Pemerintahan Trump terus memberlakukan embargo ekonomi terhadap Kuba, meskipun ada seruan dari organisasi internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengakhirinya. (Lina Nursanty)