Serangan di Selat Hormuz, Tiga ABK WNI Masih Hilang 

Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab, Judha Nugraha sedang berbincang dengan salah satu ABK WNI yang selamat pasca insiden meledaknya kapal Musaffah 2 di sekitar Selat Hormuz yang mengakibatkan sejumlah awak kapal menjadi korban. Tiga ABK WNI masih belum diketahui keberadaannya. Foto : Kemlu.go.id
KBRI Abu Dhabi memantau secara intensif perkembangan insiden meledaknya kapal Musaffah 2 di sekitar Selat Hormuz yang mengakibatkan sejumlah awak kapal menjadi korban, termasuk WNI.
Share the Post:

JAKARTA  – Pasca serangan Amerika Serikat dan Israel, setelah Iran memblokade Selat Hormuz. Iran menembaki kapal-kapal yang masih berani melewati jalur pelayaran strategis tersebut. Akibatnya, sejak perang pecah pada Sabtu (28/2/2026) itu nyaris melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz. 

Data Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyebut sedikitnya ada 10 kapal menjadi sasaran serangan dan menewaskan tujuh orang. Tiga warga negara Indonesia (WNI) yang merupakan ABK salah satu kapal yang diserang masih belum diketahui keberadaannya. 

KBRI Abu Dhabi memantau secara intensif perkembangan insiden meledaknya kapal Musaffah 2 di sekitar Selat Hormuz yang mengakibatkan sejumlah awak kapal menjadi korban, termasuk WNI. ‘’Menindaklanjuti laporan yang diterima pada 6 Maret 2026, pada 7 Maret 2026 pukul 20.00 waktu setempat, KBRI Abu Dhabi telah menerima keterangan dari salah satu WNI yang selamat, Sdr. AEN, yang merupakan penumpang sekaligus engineer di kapal Musaffah 2,’’ demikian seperti dikutip dari Kemlu.go.id.

Dari keterangan tersebut diketahui bahwa insiden bermula dari kapal kontainer Safeen Prestige yang mengalami kerusakan di perairan Oman dekat Selat Hormuz. Perusahaan Safeen Provider kemudian menugaskan kapal Musaffah 2 yang membawa 7 awak kapal dan 6 teknisi untuk melakukan pemeriksaan serta upaya perbaikan. Kapal Musaffah 2 berangkat dari Ras Al Khaimah, Persatuan Emirat Arab (PEA) pada 5 Maret 2026 sore hari dan tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

Setelah dilakukan pemeriksaan, kapal Safeen Prestige dinilai tidak dapat diperbaiki di lokasi karena tidak memiliki suplai listrik sehingga diputuskan untuk dilakukan penarikan (towing). Enam teknisi, termasuk Sdr. AEN, kemudian naik ke kapal Safeen Prestige untuk membantu persiapan tersebut.

Sekitar pukul 02.00 dini hari pada 6 Maret 2026, saat proses persiapan penarikan hampir selesai, kapal Musaffah 2 dilaporkan mengalami ledakan yang menyebabkan kebakaran pada kapal, termasuk pada bagian anjungan. Penyebab pasti ledakan tersebut hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan oleh otoritas terkait. 

Dalam insiden tersebut, beberapa awak kapal berhasil selamat, termasuk satu WNI (Sdr. YRJ), sementara tiga WNI lainnya (Sdr. MP, Sdr. SR, dan Sdr. AS) yang merupakan awak kapal Musaffah 2, hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Selain itu, terdapat satu warga negara asing yang juga dilaporkan hilang.

Saat ini KBRI Abu Dhabi terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk dengan KBRI Muskat dan otoritas setempat, guna memperoleh informasi lebih lanjut mengenai penyebab insiden serta perkembangan proses pencarian korban. KBRI Abu Dhabi juga tengah memfasilitasi penanganan terhadap WNI yang menjadi korban selamat dan memastikan pemenuhan hak-hak dan perlindungan bagi WNI yang terdampak dalam insiden tersebut.

Memperhatikan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, KBRI Abu Dhabi kembali mengimbau seluruh WNI di wilayah PEA, termasuk ABK WNI yang bekerja di kapal laut, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat. WNI juga diimbau untuk melakukan lapor diri guna memastikan respons cepat dan tepat dari Perwakilan RI. Dalam keadaan darurat, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Abu Dhabi di nomor +971566156259. (Dwi Sasongko)