JAKARTA – Ada kabar menarik terkait keberadaan KF-21, pesawat tempur buatan Korea Selatan (Korsel) yang pembuatannya menggandeng Indonesia sebagai mitra. Lama tak terdengar, KF-21, jet tempur pertama Korea yang dibangun dengan teknologi dalam negeri, akan diekspor ke Indonesia.
Korea Selatan hampir meraih kesepakatan ekspor pertamanya untuk jet tempur KF-21 Boramae yang dikembangkan secara domestik. Presiden Indonesia Prabowo Subianto, dijadwalkan mengunjungi pabrikan pesawat tersebut dalam kunjungan kenegaraan akhir bulan ini untuk menandatangani perjanjian awal, demikian dikonfirmasi pejabat industri pada Kamis.
“Presiden Indonesia Prabowo Subianto akan mengunjungi Korea untuk bertemu dengan Presiden Korea, Lee Jae Myung, dan menggelar seremoni penandatanganan perjanjian,” ujar seorang pejabat industri kepada media seperti dikutip dari The Korea Times. “Kedua negara akan mengadakan acara seremonial bersama.”
Indonesia berencana membeli 16 jet tempur pada pesanan awal, turun dari rencana semula 48 unit karena keterbatasan anggaran. Prabowo dijadwalkan mengunjungi Korea Aerospace Industries (KAI), produsen jet yang berbasis di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan, dalam kunjungan kenegaraannya pada 31 Maret hingga 2 April. Kedua pihak menargetkan kontrak implementasi final dapat disepakati pada paruh pertama tahun ini.
Kesepakatan ini akan menjadi tonggak penting bagi proyek KF-21 yang dimulai pada 2015 dengan total investasi pengembangan sebesar 8,1 triliun won (sekitar USD5,9 miliar). Tambahan 8,4 triliun won diperkirakan akan dihabiskan untuk produksi massal antara 2026 hingga 2028, menjadikannya investasi pertahanan terbesar dalam sejarah Korea Selatan.
Meskipun sebelumnya berkomitmen mendanai 1,6 triliun won (sekitar USD1 miliar) dari total proyek 8,1 triliun won, pemerintah Indonesia beberapa kali menunda pembayaran dengan alasan keterbatasan anggaran. Pada akhirnya, kedua negara sepakat pada 2025 mengurangi total kontribusi menjadi 600 miliar won, sekitar sepertiga dari jumlah awal, serta menerima tingkat alih teknologi yang lebih rendah.
Awalnya, Jakarta sepakat mendanai sekitar 20 persen proyek dengan imbalan 48 unit pesawat IF-X (varian Indonesia dari jet tersebut) melalui skema transfer teknologi.
Selain itu, pendekatan diplomatik terbaru Indonesia dengan Pyongyang menimbulkan kekhawatiran di Seoul terkait potensi kebocoran teknologi sensitif dari jet tempur ini. Di saat yang sama, upaya Indonesia mengakuisisi jet tempur lain seperti Dassault Rafale dari Prancis dan Kaan menunjukkan strategi diversifikasi (hedging) yang semakin memperkuat keraguan terhadap komitmen Indonesia dalam program KF-21.
Ditambah lagi, kasus lima teknisi Indonesia yang ditahan karena proyek jet tempur KF-21. Mereka dituduh membocorkan data rahasia saat berpartisipasi dalam pengembangan bersama pesawat militer itu. Namun, pada Selasa (3/6/2025), para teknisi itu akhirnya dibebaskan dan ditangguhkan dari penuntutan.
Meski demikian, para pejabat industri pertahanan menilai kesepakatan ini tetap penting secara simbolis sebagai langkah awal. Namun, ukuran keberhasilan sebenarnya akan ditentukan oleh penandatanganan kontrak implementasi serta adanya pesanan lanjutan.
Kesepakatan pertahanan Indonesia secara keseluruhan disebut-sebut sebagai yang terbesar di kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), dengan total nilai kontrak mencapai sekitar USD4,3 miliar.
Jet tempur KF-21 Boramae, yang diklasifikasikan sebagai pesawat generasi 4,5, telah menyelesaikan program uji terbang pada Januari setelah lebih dari 1.600 kali penerbangan sejak prototipe pertama diluncurkan pada April 2021. Program ini ditargetkan selesai pada 2026, dengan tujuan menggantikan armada lama F-4 dan F-5 milik Korea Selatan.
Pengembangan KF-21 merupakan salah satu strategi utama negara tersebut, yang awalnya digagas oleh mantan Presiden Kim Dae-jung pada November 2000 sebagai bagian dari upaya menjadikan Korea sebagai kekuatan industri terkemuka dunia.
Inisiatif ini sempat tertunda selama bertahun-tahun, namun kembali dipercepat setelah Badan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan menandatangani kontrak pengembangan dengan KAI.
Kunjungan Prabowo juga akan mencakup pembicaraan bilateral dengan Lee untuk memperkuat Kemitraan Strategis Khusus Korea-Indonesia, yang mencakup bidang perdagangan, pertahanan, kecerdasan buatan, energi, dan industri budaya, menurut pihak kepresidenan Korea Selatan.
Kunjungan ini akan menjadi lawatan kedua Prabowo ke Korea dalam waktu sekitar lima bulan, setelah sebelumnya ia menghadiri KTT Asia-Pacific Economic Cooperation summit di Gyeongju pada Oktober 2025 dan menggelar pertemuan bilateral dengan Lee. Ketika itu, Prabowo memang sempat menyatakan tetap akan membeli KF-21 yang jumlahnya disesuaikan dengan ketersediaan anggaran. (Dwi Sasongko)