SEOUL – Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menggelar pembicaraan dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada Rabu (1/4/2026), membahas ketahanan energi serta menyepakati perluasan kerja sama di berbagai bidang, termasuk pertahanan.
Reuters melaporkan tidak ada kesepakatan pertahanan baru yang diumumkan. Namun dalam pernyataan bersama kedua negara menegaskan proyek bersama pengembangan pesawat tempur KF-21 buatan Korea Selatan tetap berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan selesai pada Juni 2026. Kedua negara juga berkomitmen melanjutkan kerja sama proyek lanjutan bernama IF-21 serta pengembangan alutsista lain seperti pesawat latih, rudal antitank, dan amunisi.
Sebelumnya, Korea Aerospace Industries bulan lalu menyatakan sedang berdiskusi dengan Indonesia mengenai kemungkinan penjualan pesawat tempur KF-21, meski belum ada keputusan final. Laporan media menyebut Indonesia mempertimbangkan pembelian awal sebanyak 16 unit pesawat.
Seorang pejabat mengatakan Korea Selatan berharap Indonesia menyelesaikan pembayaran terkait program pengembangan bersama tersebut sebelum akhir tahun ini.
Kedua negara juga diperkirakan akan memperkuat kerja sama di sektor pertumbuhan baru seperti kecerdasan buatan, infrastruktur, industri perkapalan, energi nuklir, konversi energi, serta industri budaya, menurut pernyataan sebelumnya dari pihak kepresidenan Korea Selatan.
Diketahui, Jet tempur KF-21 Boramae merupakan hasil dari kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan Korea Selatan yang telah dirintis sejak lebih dari satu dekade lalu. Gagasan kolaborasi ini pertama kali muncul pada 2009 melalui nota kesepahaman awal yang menunjukkan komitmen kedua negara untuk bersama-sama mengembangkan pesawat tempur modern.
Kerja sama tersebut kemudian diperkuat secara formal pada tahun 2011 ketika Kementerian Pertahanan RI dan Defense Acquisition Program Administration (DAPA) dari Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan menandatangani nota kesepahaman untuk proyek pengembangan jet tempur yang kala itu diberi nama KFX/IFX.
Seiring waktu, pesawat tempur hasil kolaborasi ini diberi nama resmi KF-21 Boramae. Pesawat ini dirancang sebagai jet tempur generasi 4,5 yang dilengkapi kemampuan semi-siluman (semi-stealth), serta berbagai fitur teknologi canggih yang menjadikannya salah satu kandidat kuat untuk memperkuat pertahanan udara di kawasan.
Dalam proyek pengembangan KFX/IFX ini, saat itu kedua negara menyepakati skema pembiayaan bersama (cost sharing), di mana Indonesia menyumbang sekitar 20 persen dari total anggaran proyek. Komitmen pendanaan Indonesia dalam proyek ini mencapai sekitar USD1,5 miliar.
Namun dalam perjalanannya, Indonesia telah menyesuaikan kontribusi pendanaannya. Dari total komitmen awal sebesar 1,6 triliun won (sekitar Rp18,5 triliun), saat ini kontribusi yang telah disalurkan mencapai 600 miliar won atau sekitar Rp6,95 triliun.
Sementara itu, untuk pertama kalinya, seorang pilot dari TNI Angkatan Udara, Kolonel Pnb Ferrel Rigonald, menerbangkan langsung prototipe jet tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae dalam sesi uji terbang yang berlangsung di Lanud Sacheon, Korea Selatan, Jumat (27/6/2025).
Dan Korea Selatan sendiri belum lama ini telah meluncurkan jet tempur KF-21 Boramae pertama yang keluar dari jalur produksi, tepatnya pada Rabu (25/3/2026). Hal ini menandai puncak program pengembangan selama 25 tahun sekaligus membuka babak baru bagi industri pertahanan nasional negara tersebut.
Jet tempur KF-21 Boramae, yang diklasifikasikan sebagai pesawat generasi 4,5, telah menyelesaikan program uji terbang pada Januari setelah lebih dari 1.600 kali penerbangan sejak prototipe pertama diluncurkan pada April 2021. Program ini ditargetkan selesai pada 2026, dengan tujuan menggantikan armada lama F-4 dan F-5 milik Korea Selatan.
Pengembangan KF-21 merupakan salah satu strategi utama negara tersebut, yang awalnya digagas oleh mantan Presiden Kim Dae-jung pada November 2001 sebagai bagian dari upaya menjadikan Korea sebagai kekuatan industri terkemuka dunia. (Dwi Sasongko)