Rekonsiliasi sering dipersepsikan sebagai jalan mulia untuk mengakhiri konflik untuk membuka lembaran baru. Namun di balik setiap kesepakatan hampir selalu tersimpan kepentingan yang tidak sepenuhnya terlihat di permukaan. Di ruang diplomasi maupun politik, perdamaian bukan semata hasil niat baik, melainkan kompromi atas kekuatan, tekanan, dan kalkulasi strategis para pihak yang terlibat.
Karena itu, setiap rekonsiliasi kerap ada “udang di balik batu.” Sebuah agenda tersembunyi, konsesi diam-diam, atau pertukaran kepentingan yang baru akan tampak seiring waktu. Kesepakatan menjadi bukan hanya tentang mengakhiri pertentangan, tetapi juga tentang siapa yang sebenarnya memperoleh keuntungan terbesar setelah tangan-tangan yang berjabat itu saling terlepas. (*)