JAKARTA – Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan secara serius untuk menarik Amerika Serikat keluar dari NATO setelah para sekutu gagal mendukung aksi militer AS terhadap Iran. Dalam wawancara dengan The Telegraph, Trump menyebut aliansi tersebut sebagai “macan kertas” dan mengatakan bahwa keputusan untuk menarik Amerika dari perjanjian pertahanan itu kini sudah “di luar pertimbangan ulang.”
Pernyataan ini menjadi sinyal paling kuat sejauh ini bahwa Gedung Putih tidak lagi memandang Eropa sebagai mitra pertahanan yang dapat diandalkan, setelah penolakan sekutu-sekutu AS terhadap tuntutan Trump agar mereka mengirim kapal perang untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump ditanya apakah ia masih akan mempertimbangkan kembali keanggotaan Amerika Serikat di NATO setelah konflik tersebut. “Ya, saya akan mengatakan [keputusan itu] sudah di luar pertimbangan ulang. Saya tidak pernah benar-benar terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu mereka hanyalah macan kertas, dan Putin juga tahu itu,” seperti dikutip dari The Telegraph.
Para anggota NATO enggan membantu membuka kembali selat tersebut, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Teheran secara efektif telah menutup selat itu selama beberapa minggu, menyebabkan harga minyak dan gas global melonjak tajam serta meningkatkan ancaman resesi global. “Bukan hanya mereka tidak hadir, tapi itu benar-benar sulit dipercaya. Dan saya tidak melakukan tekanan besar. Saya hanya mengatakan, ‘Hei’, Anda tahu, saya tidak terlalu memaksa. Saya pikir itu seharusnya otomatis.’’
“Kami selalu hadir secara otomatis, termasuk untuk Ukraina. Ukraina bukan masalah kami. Itu sebuah ujian, dan kami ada untuk mereka, dan kami selalu akan ada untuk mereka. Tapi mereka tidak ada untuk kami,” tambahnya.
Pada pertengahan Maret, Trump dilaporkan mengancam akan menghentikan pasokan senjata ke Ukraina untuk menekan sekutu-sekutu Eropa agar membantu membuka kembali selat tersebut.
Financial Times, mengutip para pejabat, melaporkan bahwa Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte kemudian mendesak beberapa negara mengeluarkan pernyataan yang menyatakan “kesiapan untuk berkontribusi” dalam sebuah koalisi.
Secara khusus menyoroti Inggris, presiden AS itu menegur Perdana Menteri Sir Keir Starmer karena menolak terlibat dalam perang Amerika-Israel melawan Iran, bahkan menyiratkan bahwa Angkatan Laut Kerajaan Inggris tidak siap menjalankan tugas tersebut.
Setelah wawancara dengan The Telegraph, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengangkat isu penarikan Amerika Serikat dari NATO dalam pembicaraan dengan para penasihat Gedung Putih.
Surat kabar tersebut menyebutkan bahwa Trump menyampaikan pandangannya secara pribadi kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan sejumlah pejabat lainnya, namun belum mengambil keputusan final mengenai masa depan aliansi tersebut.
Para pemimpin Eropa kemudian berupaya meredakan kekhawatiran tentang kemungkinan perpecahan NATO setelah pernyataan Trump tersebut. Presiden Alexander Stubb dari Finlandia mengatakan kepada Trump bahwa “NATO yang lebih berorientasi Eropa” sedang terbentuk dan bahwa Eropa kini “memikul tanggung jawabnya.”
Menyusul komentar tersebut, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer kembali menegaskan dukungannya terhadap NATO, dengan menyebutnya sebagai “aliansi militer paling efektif yang pernah ada di dunia.” (Dwi Sasongko)