JAKARTA – Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) telah kehilangan sedikitnya tujuh pesawat dalam perang melawan Iran. CNN pada Sabtu (4/4/2026) melaporkan jatuhnya dua jet tempur AS dalam satu hari pada Jumat, dalam dua insiden terpisah, sebuah F-15 Angkatan Udara AS dan pesawat serang A-10, menambah total jumlah pesawat berawak AS yang hilang dalam konflik dengan Iran menjadi tujuh unit.
Pada 2 Maret, hanya beberapa hari setelah perang dimulai, tiga pesawat F-15 secara keliru ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait dalam insiden salah sasaran (friendly fire) di atas wilayah Kuwait. Pada 12 Maret, enam personel AS tewas ketika pesawat tanker pengisian bahan bakar KC-135 jatuh di Irak.
Pada 27 Maret, sebuah pesawat peringatan dini dan kendali udara E-3 Sentry dilaporkan hancur saat berada di darat akibat serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.
Serangan tersebut dilaporkan melukai sedikitnya 10 personel militer AS, namun tidak ada korban jiwa. Sebuah pesawat tanker Angkatan Udara AS juga mengalami kerusakan dalam serangan itu, menurut sejumlah sumber.
Dalam insiden terpisah, sebuah jet tempur F-35 AS terpaksa melakukan pendaratan darurat di pangkalan militer AS di Timur Tengah bulan lalu setelah terkena tembakan yang diyakini berasal dari Iran.
Kawasan tersebut berada dalam status siaga sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan ofensif gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang hingga kini dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Pilot F-15E yang Jatuh Berhasil Dievakuasi
Upaya pencarian yang dilakukan AS terhadap awak kursi belakang pesawat tempur F-15E yang jatuh di Iran akhirnya membuahkan hasil. Penerbang kedua berhasil diselamatkan setelah sebelumnya pilot pesawat ditemukan lebih dahulu tak lama usai insiden pada Jumat (3/4/2026).
Dua pejabat Amerika Serikat pada Sabtu (4/4) malam mengonfirmasi bahwa personel kedua dari jet tempur dua kursi tersebut telah berhasil dievakuasi keluar dari wilayah Iran dengan aman. Tim penyelamat juga dilaporkan kembali dari wilayah berbahaya tanpa mengalami luka.
Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social menyampaikan bahwa penerbang tersebut mengalami luka, namun kondisinya stabil dan diperkirakan akan pulih sepenuhnya. Ia juga menyebut perwira tersebut sebagai seorang kolonel yang sangat dihormati. Sedangkan, pilot utama pesawat telah ditemukan tidak lama setelah pesawat jatuh.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengungkapkan kepada NBC News bahwa keberhasilan operasi penyelamatan tidak lepas dari strategi operasi intelijen yang dijalankan CIA. Menurut pejabat tersebut, kebingungan yang muncul di pihak Iran memberikan ruang bagi CIA untuk memanfaatkan kemampuan intelijen tingkat tinggi dalam melacak keberadaan penerbang Amerika itu. Ia digambarkan bersembunyi di celah pegunungan dan nyaris mustahil ditemukan tanpa dukungan teknologi intelijen.
“Militer Amerika Serikat berhasil melaksanakan salah satu operasi pencarian dan penyelamatan paling berani dalam sejarah AS,” ujar Trump.
Sebelumnya, Pemerintah Iran pun sempat mengumumkan hadiah bagi warga yang berhasil menemukan pilot F-15E itu. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga telah mengerahkan pasukan untuk menyisir area jatuhnya pesawat F-15E milik AS. (Dwi Sasongko)