Thailand Siap Beli 12 Jet Tempur Gripen Swedia Senilai Rp 30 Triliun 

Pembelian Gripen E/F oleh Thailand memperkuat posisinya sebagai kekuatan udara penting di Asia Tenggara dan mendorong transformasi strategis dalam peta kekuatan militer ASEAN. Foto : SAAB/Bangkokpost
Jet Gripen E dan F menawarkan kemampuan mutakhir, termasuk radar active electronically scanned array (AESA), sistem peperangan elektronik canggih, dan rudal beyond-visual-range (BVR) Meteor, yang merupakan teknologi kunci dalam pertempuran udara masa depan.
Share the Post:

BANGKOK –  Angkatan Udara Kerajaan Thailand (Royal Thai Air Force/RTAF) telah mengonfirmasi keputusannya untuk membeli 12 jet tempur Saab Gripen E dan F dari Swedia, dalam proyek pengadaan senilai 60 miliar baht atau sekitar Rp 30 triliun. Pengiriman pertama pesawat tempur ini dijadwalkan pada tahun 2029.

Komandan RTAF, Marsekal Udara Punpakdee Pattanakul, mengumumkan pada hari Kamis (5/6) bahwa Thailand akan membeli 12 jet tempur Saab JAS 39 Gripen — model E dan F — dari Swedia untuk menggantikan armada F-16 yang sudah menua. F-16 tersebut akan mulai dipensiunkan secara bertahap antara tahun 2028 hingga 2035 setelah 37 tahun beroperasi.

‘’Tanpa pengganti, armada lama tersebut akan melemahkan kesiapan pertahanan udara negara, sehingga mendorong angkatan udara untuk melanjutkan proyek pengadaan jet tempur baru,’’ ujar Marsekal Udara Punpakdee seperti dikutip dari www.bangkokpost.com.

Menurut dia, setelah mengevaluasi 20 model pesawat calon pengganti, angkatan udara menyimpulkan bahwa Saab Gripen E dan F buatan Swedia paling memenuhi kebutuhan operasional dan strategis mereka. Nilai total pengadaan diperkirakan mencapai 60 miliar baht. ‘’Pembelian ini akan dilakukan melalui perjanjian antar-pemerintah (G2G) dengan Swedia, karena proyek ini akan berlangsung selama 10 tahun dan dibagi dalam tiga tahap,’’ jelas Punpakdee.

Pengiriman tahap pertama akan mencakup empat pesawat dengan biaya 19,5 miliar baht, yang dijadwalkan tiba pada tahun 2029. Ia mengatakan bahwa proyek ini selaras dengan visi strategis RTAF dalam membangun angkatan udara yang modern dan efisien. “Ini bukan sekadar pembelian pesawat. Ini adalah investasi dalam keamanan nasional dan kedaulatan udara jangka panjang,” ujar Punpakdee.

Jet Gripen E dan F menawarkan kemampuan mutakhir, termasuk radar active electronically scanned array (AESA), sistem peperangan elektronik canggih, dan rudal beyond-visual-range (BVR) Meteor, yang merupakan teknologi kunci dalam pertempuran udara masa depan, katanya.

Selain itu, Swedia telah menyetujui paket imbal dagang pertahanan (defence offset) komprehensif senilai lebih dari 100 miliar baht, atau setara 154% dari nilai proyek. Paket tersebut mencakup alih teknologi seperti Tactical Data Link (Link-T), pengembangan sumber daya manusia, dukungan bagi industri pertahanan dalam negeri, serta kolaborasi di bidang pendidikan dan penelitian, jelasnya.

Angkatan Udara Kerajaan Thailand berencana menandatangani kontrak dengan pemerintah Swedia pada bulan Agustus, dan pada saat yang sama, program pelatihan akan dimulai bagi pilot dan teknisi pemeliharaan untuk memastikan kesiapan operasional segera setelah pesawat Gripen E dan F dikirim.

Wakil Marsekal Udara Poonsak Piyarat, Direktur Kantor Kebijakan dan Perencanaan RTAF, menambahkan bahwa usulan pembelian jet tempur ini akan diajukan ke Markas Besar Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand pada awal Juni, dan kemudian ke Kementerian Pertahanan pada pertengahan Juni. 

Selama ini, Thailand telah mengoperasikan 11 unit Gripen model lama, serta puluhan jet F-16. Rencana pembelian ini menandai babak baru dalam upaya modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) Thailand, terutama setelah kegagalan mereka mendapatkan jet tempur generasi kelima F-35 dari Amerika Serikat (AS). Pada 2023, AS menolak permintaan Thailand tersebut dengan alasan infrastruktur yang belum memadai, serta tantangan dalam hal pemeliharaan dan pelatihan. Meski AS kemudian mengajukan opsi alternatif berupa F-16 Viper, Thailand tampaknya lebih tertarik tawaran dari Swedia. 

AS memang sangat selektif dalam menjual F-35. Pesawat tempur yang memiliki kemampuan terbang siluman atau tidak terdeteksi radar ini hanya diberikan ke sekutu dekat mereka. Sebut saja Australia, Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura.   

Bisa jadi pembelian Gripen E/F oleh Thailand memperkuat posisinya sebagai kekuatan udara penting di Asia Tenggara dan mendorong transformasi strategis dalam peta kekuatan militer ASEAN. Negara-negara lain kemungkinan akan meninjau ulang rencana modernisasi pertahanan mereka, sekaligus membuka peluang untuk peningkatan kerja sama regional dalam menghadapi tantangan keamanan yang makin kompleks. Namun, di sisi lain, pembelian Gripen tersebutbjuga bisa memicu perlombaan senjata terbatas jika tidak diimbangi dengan kebijakan keamanan kolektif dan transparansi regional. (dwi sasongko)