Serangan Israel Incar Fasilitas Nuklir, Tewaskan Tiga Pejabat Militer Iran

Asap mengepul akibat ledakan di Teheran, Iran, Jumat 13/6/2025) akibat serangan militer Israel. Foto : IRNA
Bagi Iran, hal ini menjadi serangan paling signifikan yang pernah dihadapinya sejak perang melawan Irak pada tahun 1980-an.
Share the Post:

JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kian meluas setelah Israel menghujani Teheran dengan 330 amunisi yang dimuntahkan oleh 200 pesawat jet tempur pada Jumat, 13/6/2025 pagi waktu setempat. Selain menghancurkan banyak gedung pemukiman dan fasilitas pemerintah, serangan itu menewaskan sejumlah warga sipil termasuk wanita dan anak-anak serta beberapa ilmuwan di bidang nuklir. Selain itu, pejabat militer Iran juga turut menjadi korban, yaitu Kepala Staf Militer Iran Mohammad Bagheri, Komandan Korps Revolusi Iran Hossein Salami dan Komandan Senior Korps Revolusi Gholam Ali Rashid. 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyebutkan bahwa serangan itu ditujukan ke fasilitas senjata nuklir Iran di Natanz yang berada di Selatan Teheran, dekat Kota Qom. Selama ini, Israel merasa khawatir dan terancam akan Iran yang disebut-sebut memiliki fasilitas senjata nuklir. Maka, Netanyahu bersikeras untuk segera menghancurkan ancaman tersebut. “(serangan) ini bisa berlangsung setahun, atau bisa beberapa bulan,” ujar Netanyahu mengutip Reuters

Bagi Iran, hal ini menjadi serangan paling signifikan yang pernah dihadapinya sejak perang melawan Irak pada tahun 1980-an. Israel menyerang markas besar Korps Garda Revolusi, kompleks pabrik misil dan senjata serta pembuatan drone yang tersebar di area Kowsar, Saadatabad, Farmanieh, Chamran dan Mahalati di Teheran. 

Media Iran melaporkan adanya ledakan di fasilitas pengembangan senjata nuklir uranium di Natanz. Yang paling dikhawatirkan yaitu bahaya radiasi yang bisa ditimbulkan dari serangan tersebut. Meski begitu, Badan Energi Atom Dunia (International Atomic Energy Agency/IAEA) menyatakan sejauh ini tidak ada peningkatan level radiasi di Natanz sesuai apa yang disampaikan otoritas Iran kepada mereka. 

Masyarakat Iran tampak membersihkan puing-puing bangunan yang porak poranda setelah digempur bom oleh Israel. Foto : AA Photo

Pemimpin Besar Revolusi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei menyatakan bahwa Israel tengah mengukir takdir yang pahit dan menyakitkan bagi dirinya sendiri. Melalui kantor berita Irna, Ia menyerukan agar seluruh rakyat Iran bersatu untuk melawan zionis Israel. Ia juga menyerukan segera menggantikan posisi para pejabat militer yang gugur karena serangan tersebut dan segera mengonsolidasikan diri untuk serangan balasan. 

Serangan ini membuat eskalasi ketegangan politik di Timur Tengah kian meningkat dan memicu respon dari beberapa negara tetangga. Seluruh ruang udara yang melintasi Irak, Iran, Israel dan Jordan ditutup untuk penerbangan komersial. Seluruh bandara di keempat negara tersebut tidak lagi dapat beroperasi dan seluruh maskapai, di antaranya Air India, Lufthansa, Etihad, Emirates dan lainnya telah membatalkan seluruh jadwal penerbangan yang melintasi ruang udara keempat negara tersebut. 

Sebelumnya, Israel dan Iran dalam posisi yang selalu berseberangan secara politik. Terlebih lagi setelah invasi Israel ke Gaza yang membuat Iran berang dan beberapa kali melancarkan serangan drone ke wilayah Israel. Selama ini, Israel seringkali menyatakan alasan penyerangan mereka karena adanya ancaman senjata nuklir Iran. Namun, hal itu dibantah oleh otoritas Iran dan menuding Israel sesungguhnya menargetkan jalur pipa gas alam milik Iran dan menargetkan pembunuhan terhadap pemimpin politik Hamas di Teheran, Ismail Haniyeh. 

Pada April 2024, Israel juga pernah menyerang sistem radar milik pertahanan udara Iran yang diproduksi Rusia. Lalu, pada Oktober tahun lalu, Israel juga menyerang fasilitas pabrik misil Iran. Namun, serangan Jumat pagi kemarin adalah serangan terbesar yang dilancarkan Israel terhadap Iran dan berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas. 

Arab Saudi mengutuk keras serangan tersebut dan menyerukan agar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) segera bertindak untuk menghentikan aksi unilateral brutal yang dilakukan Israel terhadap Iran. “Kerajaan Arab Saudi mengutuk keras atas serangan keji Israel,” tulis Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataannya yang disampaikan di platform x.com. 

AS Menyangkal

Iran menuding Amerika Serikat ikut menyeponsori serangan Israel ini. Namun, hal itu langsung dibantah oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Meski ia sudah menduga bahwa Israel akan menyerang Iran, namun AS sama sekali tidak ikut-ikutan dalam serangan tersebut. Kementerian Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan kepada warganya yang berada di Israel untuk melindungi diri di tempat aman guna menghindari adanya serangan balasan dari Iran. “Kami tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran dan prioritas utama kami adalah melindungi pasukan Amerika di kawasan tersebut,” seperti tertulis dalam pernyataan resmi yang dirilis Gedung Putih. 

Dalam pernyataan itu, Rubio menyatakan bahwa pihaknya telah menerima penjelasan Israel terkait alasan penyerangan adalah untuk membela diri. Dengan demikian, AS meminta agar Iran tidak menargetkan personel maupun warga negara AS dalam serangan balasan yang akan mereka lakukan terhadap Israel.  (Lina Nursanty)