AS Serang Nuklir Iran, Sekjen PBB Khawatir Konflik Makin Membara 

Pesawat jet pengebom B-2 milik AS telah menjatuhkan enam bom penghancur masing-masing seberat 13.607 kg di bunker Fordow. B-2 Spirit merupakan satu-satunya pesawat dalam armada militer AS yang mampu membawa Massive Ordnance Penetrator, bom seberat 13.607 kg, yang dirancang untuk menembus bunker bawah tanah. Foto: Photo Credit: Northrop Grumman/U.S. Air Force
keikutsertaan AS dalam perang secara terbuka itu memunculkan kekhawatiran akan meningkatkan eskalasi di Timur Tengah. Namun ironisnya, Trump menyatakan bahwa serangan itu untuk tujuan damai.
Share the Post:

Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pihaknya telah menyerang tiga fasilitas nuklir milik Iran pada Sabtu (21/6/2025). Tujuan penyerangan itu adalah untuk menghancurkan kapasitas pengayaan nuklir milik Iran dan melenyapkan ancaman senjata nuklir dari Teheran.  

Dalam siaran televisi yang disiarkan langsung dari Gedung Putih selama 4 menit itu, Trump didampingi oleh Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Sebelum mengumumkan secara resmi, Trump telah meng-uploadnya melalui akun media sosial pribadinya di platform Truth Social tentang penyerangan itu. 

Pesawat jet pengebom B-2 milik AS telah menjatuhkan enam bom penghancur masing-masing seberat 13.607 kg di bunker Fordow. Selain itu, kapal selam memuntahkan 30 rudal TLAM di Natanz dan Isfahan. Trump mengklaim telah melenyapkan fasilitas nuklir milik Iran. Beberapa hari sebelumnya, Israel telah menyerang Natanz dengan senjata yang lebih kecil. 

Seperti dilansir oleh The New York Times, keikutsertaan AS dalam perang secara terbuka itu memunculkan kekhawatiran akan meningkatkan eskalasi di Timur Tengah. Namun ironisnya, Trump menyatakan bahwa serangan itu untuk tujuan damai. Ia bahkan menyerukan agar Iran sekarang harus menciptakan perdamaian. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang dengan kekuatan yang lebih besar. 

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi yang tengah berada di Turki untuk menghadiri konferensi Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyatakan bahwa situasi ini sangat menyulitkan Iran, namun kekuatan militernya bekerja sangat baik dalam menangani serangan ini. Sementara, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa, António Guterres menyatakan bahwa serangan AS terhadap Iran ini menimbulkan bahaya eskalasi di kawasan yang kini sudah membara, dan tentu saja menjadi ancaman bagi perdamaian internasional. 

Dalam pernyataan resminya, Badan Energi Atom Iran (AEOI) mengutuk keras agresi AS terhadap fasilitas nuklir milik Iran. Seperti dilansir presstv, AEOI menyebut bahwa tiga fasilitas nuklir Iran itu beroperasi di bawah supervise Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan bekerja di bawah kerangka Non-Proliferation Treaty of Nuclear Weapons (NPT). Penyerangan brutal ini berarti juga menyerang hukum internasional. 

Tudingan serta serangan brutal dari AS maupun Israel tidak akan membuat Iran mengurungkan niatnya untuk terus membangun fasilitas nuklir. “Organisasi kami akan menempuh langkah hukum untuk mempertahankan hak rakyat Iran. Masyarakat internasional diharapkan dapat mengutuk aksi diluar hukum ini dan mendukung Iran memperjuangkan haknya secara hukum,” demikian tertulis di pernyataan resmi AEOI. 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pihaknya telah menyerang tiga fasilitas nuklir milik Iran pada Sabtu (21/6/2025). Foto : Whitehouse.gov

Tak Disetujui Demokrat

Aksi Trump ini tak hanya menggemparkan Timur Tengah, namun juga Kongres AS. Meski didukung penuh oleh Partai Republik, namun Partai Demokrat mengutuk keras serangan ini karena akan menyeret AS ke dalam perang. Partai Demokrat menilai ini adalah langkah inkonstitusional karena tidak melalui persetujuan Kongres terlebih dahulu. 

Senator Demokrat, Jim Himes menyebut operasi militer tersebut inkonstitusional. Serangan itu juga bisa membahayakan kekuatan AS di Timur Tengah dan pada akhirnya menyeret AS ke dalam perang di Timur Tengah. “Keputusan Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres adalah sebuah pelanggaran konstitusi,’’ ujarnya. Partai Demokrat baru mengetahui adanya serangan militer ke Iran setelah mendengar informasi dari akun media sosial pribadi Trump di platform Truth Social pada Sabtu malam. 

Sebaliknya, Partai Republik memuji tindakan Trump ini dan merasa tidak khawatir AS akan terseret dalam perang yang lebih lama. “Bagi mereka yang khawatir terhadap keterlibatan AS, ini bukan perang yang akan berlangsung selamanya, faktanya ini untuk mengakhiri perang itu sendiri,” ujar Senator Republik dari Oklahoma, Markwayne Mullin. (Lina Nursanty)