AS Libatkan 125 Pesawat Termasuk Bomber B-2, 75 Senjata Presisi, 14 Bom untuk Serang Situs Nuklir Iran 

Tujuh pesawat pembom siluman B-2 dan puluhan pesawat pengisian bahan bakar di udara yang bekerja sama dalam misi pulang-pergi lebih dari 30 jam dari Missouri ke Iran untuk menghancurkan situs nuklir Iran di Fordow. Foto : USAF/Master Sgt. Russell Scalf/TWZ
Sejauh mana kesiapan pasukan AS dalam menghadapi potensi serangan balasan, baik dari Iran secara langsung maupun melalui banyak proksi yang dimilikinya? 
Share the Post:

TEHERAN – Serangan mendadak militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran melibatkan lebih dari 125 pesawat dan 75 senjata berpemandu presisi. Operasi yang diberi nama Midnight Hammer ini menghasilkan misi terpanjang pesawat B-2 Spirit sejak tahun 2001 dan menjadi penggunaan nyata pertama dari bom penembus bunker seberat 30.000 pon.

Menurut Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Dan Caine berikut beberapa senjata yang digunakan dalam operasi tersebut:

  • Tujuh pesawat pembom siluman B-2 dan puluhan pesawat pengisian bahan bakar di udara yang bekerja sama dalam misi pulang-pergi lebih dari 30 jam dari Missouri ke Iran.
  • Jet tempur generasi keempat dan kelima yang membuka jalan bagi serangan udara. (Pentagon tidak mengungkap jenisnya, tetapi grafik publik menunjukkan kemungkinan besar adalah F-22.)
  • Satu kapal selam yang menembakkan lebih dari dua lusin rudal jelajah Tomahawk.
  • Empat belas bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrators, bom non-nuklir terkuat di dunia.

Mengutip Axios, citra satelit yang dibagikan oleh Maxar menunjukkan beberapa lubang besar atau kawah di Fordow, yang secara efektif adalah benteng nuklir bawah tanah. Daerah tersebut juga tampak diselimuti tanah dan abu. Jenderal Caine menyebut Iran sama sekali tidak siap. Caine tidak mendeteksi adanya tembakan ke arah pesawat tempur AS saat memasuki atau keluar dari wilayah Iran. Jet tempur Teheran tidak terbang dan sistem rudal permukaan-ke-udara tidak bisa mendeteksi jet tempur AS. Sejauh mana kesiapan pasukan AS dalam menghadapi potensi serangan balasan, baik dari Iran secara langsung maupun melalui banyak proksi yang dimilikinya? 

Gambar terlihat situs nuklir Iran di Fordow yang hancur setelah dibom AS. Foto: Maxar Technologies/Axios

Tidak Ada Kontaminasi Radioaktif  

Adapun dilansir presstv.ir, Kementerian Kesehatan Iran menyatakan bahwa tidak ditemukan kontaminasi radioaktif di dekat fasilitas nuklir yang sebelumnya diserang oleh militer Amerika Serikat di berbagai lokasi di seluruh negeri. Temuan ini, menurut kementerian, berasal dari inspeksi yang dilakukan oleh Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir PBB.

Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa individu yang terluka dalam serangan tersebut telah dipindahkan ke pusat-pusat medis dan sedang menerima perawatan yang sesuai. “Semua dari mereka telah dites dan hasilnya negatif terhadap kontaminasi radioaktif,” tambah pernyataan itu. Kementerian juga menginformasikan kepada publik bahwa mereka tidak perlu mengambil tindakan pencegahan atau medis khusus.

Sementara itu, pernyataan tersebut mengimbau masyarakat Iran untuk hanya mempercayai sumber resmi dalam mendapatkan informasi terkait dan tidak terpengaruh oleh rumor yang beredar di media sosial mengenai situasi ini.

Pernyataan itu menegaskan bahwa semua pusat kesehatan nasional di negara itu beroperasi untuk menangani kemungkinan komplikasi apa pun, termasuk yang berada di dekat situs nuklir yang terdampak. Demikian pula sistem pemantauan lingkungan terus memeriksa tingkat radiasi di area sekitarnya, demikian isi penutup dari pernyataan tersebut.

Amerika Serikat melakukan serangan secara ilegal terhadap beberapa lokasi yang menjadi tempat kegiatan pengayaan uranium untuk tujuan damai di wilayah utara-tengah dan tengah Iran pada hari Minggu.

Situs-situs tersebut termasuk yang berada di Isfahan, Natanz, dan Fordow. Republik Islam Iran dengan tegas mengecam serangan tersebut, memperingatkan tentang konsekuensi serius yang mungkin timbul dan menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa serta organisasi internasional lainnya untuk menangani agresi tersebut beserta dampaknya.

Teheran menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan dengan koordinasi penuh bersama rezim Israel, yang juga telah melancarkan agresi mematikan terhadap Iran sejak hari Jumat lalu.

Iran melancarkan fase baru dari Operasi True Promise III dengan hujan rudal generasi terbaru yang menghantam langsung wilayah-wilayah pendudukan. Fase ke-21 dimulai sekitar pukul 12:00 siang waktu setempat pada hari Senin, dengan sumber-sumber terpercaya menyebutkan bahwa banyak rudal generasi baru digunakan dalam operasi balasan hari ini.

Menurut sumber tersebut, rudal Kheibar Shekan, Emad, Qadr, dan Fattah-1 digunakan dalam operasi hari Senin, yang menargetkan fasilitas militer penting Israel di berbagai wilayah pendudukan, termasuk di Safed, Lachish, Ashkelon, Ashdod, dan Beit She’an.

Rudal-rudal tersebut secara langsung menghantam pembangkit listrik Ashdod, menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran di seluruh wilayah pendudukan. Beberapa media Israel juga melaporkan kehancuran besar di sejumlah jalan di berbagai kota akibat gelombang ledakan dahsyat yang memaksa para pemukim kembali ke tempat perlindungan bawah tanah. Untuk pertama kalinya, sirene serangan udara berbunyi di seluruh wilayah pendudukan selama 35 menit, menunjukkan besarnya gelombang rudal Iran yang diluncurkan pada hari Senin.

Pada hari Minggu sebelumnya, rudal balistik multi-hulu ledak Kheibar Shekan digunakan untuk pertama kalinya selama gelombang ke-20 dari Operasi True Promise III. Gelombang ke-20 ini diluncurkan hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat mengklaim telah menyerang tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Menurut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), total 40 rudal berbahan bakar padat dan cair telah diluncurkan ke target strategis di seluruh wilayah pendudukan Palestina pada hari Minggu. “Dalam operasi ini, untuk pertama kalinya, Pasukan Dirgantara IRGC menggunakan rudal balistik multi-hulu ledak generasi ketiga Kheibar Shekan, dengan menerapkan taktik baru yang mengejutkan untuk mencapai presisi, daya hancur, dan efektivitas yang lebih tinggi,” bunyi pernyataan tersebut seperti dikutip dari presstv.ir.

Sekali lagi, sistem pertahanan udara berlapis milik Israel gagal mencegat rudal-rudal generasi baru Iran, yang berhasil mencapai target-targetnya di seluruh wilayah pendudukan.

Operasi-operasi ini merupakan respons terhadap agresi militer Israel yang terus berlanjut terhadap Iran, yang telah menyebabkan syahidnya lebih dari 400 orang sejak 13 Juni, termasuk komandan militer berpangkat tinggi, ilmuwan nuklir, profesor, atlet, dan mahasiswa. Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran telah melancarkan 21 gelombang serangan rudal dan drone terhadap wilayah pendudukan sebagai bagian dari Operasi True Promise III, yang telah memberikan pukulan telak terhadap rezim Israel dan infrastruktur intelijen militernya. (dwi sasongko)