Setelah Gencatan Senjata dengan Iran, Giliran Israel Bombardir Yaman 

Ilustrasi jet tempur milik Israel yang digunakan untuk menyerang Yaman. Foto : Wikipedia
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyatakan serangan yang dinamai “Black Flag” atau “Bendera Hitam” itu adalah harga mahal yang harus dibayar Houthi atas serangannya selama ini terhadap Israel.
Share the Post:

JAKARTA – Israel melancarkan serangan pertamanya terhadap kelompok Houthi di Yaman. Serangan diarahkan ke pelabuhan dan fasilitas pembangkit listrik pada Minggu malam hingga Senin pagi waktu setempat. Ini adalah serangan pertama Israel terhadap Yaman selama gencatan senjata antara Israel dan Iran. 

Israel Defense Forces (IDF) mengklaim serangan tersebut merupakan balasan terhadap serangan Houthi terhadap Israel satu hari sebelumnya. Houthi yang didukung Iran juga mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal komersial “Magic Seas” di Laut Merah pada hari Minggu. 

Israel menyerang Pelabuhan Hodeida, Ras Isa, Salif dan Pembangkit Listrik Ras Kanatib yang terletak di sepanjang Laut Merah. IDF juga menyerang kapal kargo yang ditangkap Houthi pada November 2023, Galaxy Leader. “Pasukan Houthi memasang sistem radar di kapal itu dan digunakan untuk melacak kapal-kapal yang melintas di laut internasional untuk memfasilitasi aktifitas teroris lebih jauh,” tulis pernyataan IDF sesaat seusai serangan seperti dikutip dari CNN

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyatakan serangan yang dinamai “Black Flag” atau “Bendera Hitam” itu adalah harga mahal yang harus dibayar Houthi atas serangannya selama ini terhadap Israel. 

Belum ada laporan jumlah korban di Yaman akibat serangan itu. Pihak militer Houthi telah mengonfirmasi serangan Israel dan menyatakan bahwa pihaknya telah melawan agresi Israel dengan menggunakan rudal buatan dalam negeri yang massif. 

Disiarkan oleh stasiun TV Al-Masirah, anggota Biro Politik Houthi, Mohammed Al Farah mengatakan bahwa penyerangan Israel terhadap pelabuhan, pembangkit listrik dan fasilitas sipil lainnya adalah upaya untuk menyasar sipil dan tak ada kaitannya dengan aktivitas militer. 

Houthi kerap melancarkan serangan udara berupa roket dan rudal ke wilayah Israel sejak perang Israel dan Hamas terjadi pada Oktober 2023 sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Selain menghadapi Houthi, Israel juga diserang oleh Hizbullah dari Libanon.  

Sebelum serangan Israel terjadi, Houthi menyerang kapal “Magic Seas” yang disebut oleh mereka telah menggunakan Pelabuhan Israel. Houthi mengatakan bahwa serangan terhadap kapal itu dilakukan menggunakan kapal nirawak, rudal dan drone hingga kapal itu tenggelam. Mereka juga mengancam akan melakukan hal yang sama terhadap kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan Israel. 

Sebanyak 19 awak kapal “Magic Seas” dievakuasi oleh kapal lain ke Djibouti, sebuah negara yang terletak di Afrika Timur, tepatnya di Tanduk Afrika, dan berbatasan dengan Laut Merah dan Teluk Aden.

Perundingan Gaza 

Sementara itu, di saat yang sama Israel menyerang Yaman, Al Jazeera melaporkan di Gaza lebih dari 60 orang terbunuh oleh Israel dan lebih dari puluhan lainnya terluka karena serangan ke kamp pengungsi Nuseirat. Blokade bantuan kemanusiaan masih terus dilakukan oleh tentara Israel sehingga menimbulkan korban nyawa yang terus bertambah. 

Israel masih terus melancarkan serangan di Gaza dan kini Yaman meski rangkaian negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih berlangsung di Qatar. Tiga hal yang dibahas yaitu pembebasan sandera dari kedua belah pihak, penarikan mundur tentara Israel dari Gaza, dan mengakhiri perang. 

Hamas bersedia membebaskan seluruh sandera asal pasukan Israel keluar dari Gaza. Namun, Israel mensyaratkan Hamas menyerah, melucuti senjatanya dan pergi ke luar negeri (eksil). 

Negosiasi di Qatar belum memberikan sinyal positif akan adanya niat dari kedua belah pihak untuk mengakhiri perang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari mengatakan negosiasi ini akan membutuhkan waktu. “Saya pikir saya tidak akan bisa memberikan batas waktu,” ujarnya seperti dikutip dari Al Jazeera

Sementara, di Gedung Putih pada Senin (7/7/2025), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden AS Donald Trump. Mereka membahas proposal mereka yang sangat kontroversial yaitu memindahkan ribuan orang Palestina dari Jalur Gaza.  

Kepada wartawan, Netanyahu mengatakan bahwa AS dan Israel akan bekerja sama dengan negara lain untuk memberikan warga Palestina sebuah masa depan yang lebih baik. Ia menyarankan agar warga Gaza pindah ke negara-negara tetangga. “Jika mereka mau tinggal, mereka bisa, tapi jika mereka mau pergi, mereka bisa pergi. Ini bukan penjara. Ini seharusnya sebuah tempat terbuka dan memberikan pilihan bebas bagi mereka,” ujar Netanyahu. Bersama Trump, Netanyahu mengklaim telah mulai menemukan negara-negara tujuan bagi warga Gaza. Awal tahun ini, Trump mengemukakan ide relokasi warga Palestina dari Gaza dan akan membangun ulang Gaza menjadi tempat yang ia namai “Riviera of the Middle East” yang dimaknai sesungguhnya adalah sebuah ethnic cleansing (genosida etnis Palestina). Apakah rencana Trump dan Netanyahu untuk memindahkan warga Gaza bakal berhasil? Yang jelas, usaha mereka tidak akan mudah karena akan banyak pihak yang tidak setuju terhadap rencana kontroversial tersebut. (Lina Nursanty)