Trump Surati Prabowo, Tetap Terapkan Tarif Impor 32 % bagi Indonesia 

Presiden Donald Trump mengirim surat kepada Presiden Prabowo Subianto terkait tarif impor 32% bagi Indonesia yang akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2025. Poto : Whitehouse.gov
Surat Trump ini merupakan surat peringatan kedua setelah AS memberikan waktu selama 90 hari bagi negara-negara tersebut sejak April lalu.
Share the Post:

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengirimkan surat ke 14 kepala negara, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Dalam suratnya, Trump menyampaikan bahwa AS tetap akan menerapkan kenaikan tarif impor hingga 32% kepada Indonesia yang dimulai pada 1 Agustus 2025. Padahal sebelumnya, Pemerintah Indonesia sudah mengirimkan sejumlah utusan ke AS untuk melakukan negosiasi agar tarif impor untuk Indonesia diturunkan.  

Surat Trump ini merupakan surat peringatan kedua setelah AS memberikan waktu selama 90 hari bagi negara-negara tersebut sejak April lalu. Trump mengunggah surat kepada Prabowo itu di akun media sosial Truth Social. Dikutip dari CNBC news, dalam surat itu Trump menyatakan kenaikan tarif impor perlu disebabkan defisit perdagangan yang dialami negeri Paman Sam, yang dianggapnya mengancam keamanan nasional. 

“Kami harus menjauh dari Defisit Perdagangan jangka panjang dan sangat gigih yang diakibatkan oleh Tarif, dan Non-Tarif, Kebijakan dan Hambatan Perdagangan Indonesia. Hubungan kita, sayangnya, jauh dari timbal balik. Mulai 1 Agustus 2025, kami akan membebankan Tarif Indonesia hanya sebesar 32% pada semua produk Indonesia yang dikirim ke Amerika Serikat, terpisah dari semua tarif sektoral,” tulis Trump. 

Menurut Trump, angka 32% itu sesungguhnya jauh lebih rendah dari yang mereka perlukan untuk menghilangkan disparitas perdagangan yang dialami AS. Namun, bagi perusahaan Indonesia yang melakukan produksi di AS tidak akan dikenakan tarif dan bahkan akan mendapatkan perizinan dalam waktu yang cepat (hitungan minggu). 

Bersamaan dengan pengumuman tarif tersebut, Trump juga mengumumkan penundaan pemberlakuan tarif diperpanjang hingga 1 Agustus 2025. Sebelumnya, Trump memutuskan untuk menunda pemberlakuan tarif resiprokal AS selama 90 hari yaitu hingga 9 Juli 2025. 

Menurutnya, keputusan memperpanjang penundaan penerapan tarif hingga 1 Agustus 2025 diambil setelah mempertimbangkan informasi terbaru dan rekomendasi dari pejabat senior, serta perkembangan negosiasi dengan beberapa mitra dagang, sebagaimana dilaporkan oleh situs whitehouse.gov.

Selain kepada Indonesia, surat peringatan serupa juga dikirimkan Trump ke 13 negara lainnya yang mayoritas di Asia, seperti Korea Selatan, Malaysia, Bangladesh, Myanmar, Jepang, Thailand, dan lainnya. Sama halnya seperti terhadap Indonesia, tarif impor terhadap negara-negara tersebut besarnya bervariasi dari 25 hingga 40%. 

Dilaporkan AFP yang dikutip dari Indopremier, defisit perdagangan AS terhadap Indonesia mencapai USD 17,9 miliar. Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang AS atau United States Trade Representative (USTR) mengklaim defisit perdagangan Amerika dengan Indonesia naik 5,4% atau USD 923 juta dari tahun 2023. Sementara, terhadap Jepang, AS mengalami defisit sebesar USD 68,5 miliar, Korea Selatan USD 66 miliar, dan Thailand USD 45,6 miliar. 

Kepada AFP, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan segera bertolak ke AS untuk melanjutkan negosiasi tarif perdagangan. Ia merasa optimistis akan mencapai hasil negosiasi yang baik. Senada dengan Airlangga, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi mengatakan bahwa Indonesia berencana meningkatkan impor agrikultur dan energi dari AS sebagai bagian dari tawaran yang akan disampaikan rombongan negosiator yang dipimpin Airlangga Hartarto. “Kami optimistis dengan negosiasi ini,” ujar Hasan Nasbi. 

Pada Senin (7/7/2025), Pemerintah Indonesia telah mengumumkan bahwa Indonesia telah setuju mengimpor gandum setidaknya satu juta ton per tahun hingga lima tahun ke depan dengan total transaksi USD 1,25 miliar. 

Diperkirakan Jadi Beban Ekonomi

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Muhammad Edhie Purnawan, Ph.D., mengatakan bahwa kebijakan tarif impor AS ini akan berdampak secara signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Penambahan beban ekonomi terhadap produk Indonesia bisa mencapai 37%. Tarif ini secara dramatis akan mempengaruhi ekspor terutama elektronik, alas kaki dan garmen yang pada tahun 2024 berkontribusi terhadap surplus perdagangan Indonesia hingga USD 16.84 miliar. “Dampaknya terhadap ekonomi Indonesia akan berupa penurunan ekspor karena barang dari Indonesia akan menjadi makin mahal dan tidak kompetitif,” ujar Edhie seperti dikutip dari feb.ugm.ac.id. 

Sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki akan makin rentan terdampak dan pada akhirnya angka kemiskinan diperkirakan meningkat. Meski begitu, Edhie menyampaikan adanya peluang untuk ekspansi pasar produk Indonesia di AS karena tarif impor kita masih lebih rendah ketimbang Vietnam (46%) dan Kamboja (49%). Kebijakan tarif juga dapat menarik relokasi investasi dari negara-negara yang terhambat masalah tarif seperti Republik Rakyat Tiongkok. (Lina Nursanty)