TOKYO – Hingga kini, sangat sedikit informasi yang diketahui publik tentang ibu dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Jurnalis Jepang mengungkap nama Ko Yong-hui diduga merupakan ibu Kim. Ia bukan bagian dari garis keturunan revolusioner keluarga Kim yang dianggap ‘’suci’’. Ia nyaris tak pernah muncul di media resmi negara. Lalu, tanpa jejak, ia menghilang.
Siapa sebenarnya Ko Yong-hui dan apa yang terjadi padanya? Buku terbaru karya jurnalis senior Jepang, Yoji Gomi, berjudul “Ko Yong-hui: Orang Korea Zainichi yang Menjadi Ibu Kim Jong-un”, berupaya menjawab pertanyaan tersebut. Berdasarkan investigasi selama lebih dari satu dekade dan wawancara langka dengan kerabat Ko yang masih hidup di Jepang, Gomi merekonstruksi kehidupan seorang perempuan yang tampaknya sengaja dihapus dari sejarah Korea Utara meskipun ia memegang peran penting di balik layar dalam membentuk rezim saat ini.
“Ia meninggal secara sepi akibat sistem di Korea Utara,” ujar Gomi dalam wawancara bersama JoongAng Ilbo di Tokyo, pada 20 Juni, bertepatan dengan peluncuran bukunya seperti dikutip dari koreajoongangdaily.joins.com.
Sebagai mantan penulis editorial Tokyo Shimbun, Gomi dikenal luas karena wawancaranya dengan Kim Jong-nam, saudara tiri Kim Jong-un yang dibunuh di Malaysia pada tahun 2017. Menurut Gomi, penghapusan Ko dari narasi resmi rezim dapat ditelusuri dari asal-usulnya. Ia lahir di Jepang dan bukan bagian dari garis darah Paektu, yaitu garis keturunan yang dimitoskan dan menjadi landasan legitimasi kekuasaan keluarga Kim. Latar belakang ini menjadikannya sosok yang dianggap tidak sesuai dengan narasi resmi yang mengutamakan “kemurnian darah”.
Penyelidikan Gomi bermula dari satu pertanyaan sederhana: Siapa ibu Kim Jong-un? Pertanyaan ini membawanya ke kawasan Tsuruhashi di Osaka, pusat komunitas diaspora Korea di Jepang, tempat Ko lahir pada tahun 1952. Gomi mewawancarai sejumlah orang yang mengenalnya, termasuk kakak laki-lakinya, untuk merangkai kisah masa kecil Ko.
Pada usia 10 tahun, Ko pindah ke Korea Utara bersama ayahnya, Ko Gyeong-taek. Gomi mencatat bahwa sang ayah memiliki riwayat menyelundupkan barang antara Korea Selatan dan Jepang, serta pernah ditangkap di Korea. Setelah menghadapi deportasi dari Jepang, ia memilih untuk menetap di Korea Utara.
Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan awal Ko di Korea Utara. Namun, pada tahun 1972, saat berusia 20 tahun, ia telah menyandang gelar “Aktris Berjasa” dan menjadi anggota Rombongan Seni Mansudae. Di sanalah ia menarik perhatian Kim Jong-il. Setelah mendapat restu darinya, Ko sempat beberapa kali melakukan perjalanan ke Jepang bersama rombongan seni.
Dalam salah satu kunjungan tersebut, kerabatnya di Jepang mencoba menghubunginya kembali, namun ditolak. Seorang sepupunya bahkan secara langsung menegurnya dan bertanya mengapa ia mengabaikan keluarga. “Anda salah orang,” jawab Ko, menurut kesaksian mereka.
Gomi menyimpulkan bahwa penolakan Ko terhadap keluarganya mencerminkan tekanan berat yang ia hadapi untuk melepaskan identitasnya sebagai orang Korea Zainichi, status yang sulit disesuaikan dengan peran sebagai pasangan dari sosok yang disebut “martabat tertinggi”.

Buku ini juga memuat sejumlah foto baru yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, termasuk potret Ko bersama ketiga anaknya Kim Jong-chol, Kim Jong-un, dan Kim Yo-jong, dalam perjalanan ke luar negeri. Salah satu foto lainnya diduga diambil dari paspor palsu yang digunakan untuk melakukan perjalanan ke Jepang. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Ko, yang tinggal di Jepang hingga usia 10 tahun, mengajarkan lagu dan bahasa Jepang kepada Kim Jong-un.
Tahun-tahun terakhir hidupnya diliputi penyakit dan keterasingan. Ia didiagnosis mengidap kanker payudara sekitar tahun 1997, namun menunda operasi karena situasi internal terkait suksesi kekuasaan.
Saat akhirnya mencari pengobatan ke Paris pada tahun 2004, penyakitnya sudah terlalu parah. Ia meninggal di ibu kota Prancis tersebut pada usia 51 tahun. Buku ini memuat sebuah foto Ko dari masa-masa itu: duduk di kursi roda, mengenakan kacamata hitam dan topi putih.
Adik perempuannya, Ko Yong-suk, yang turut membantu membesarkan anak-anak Kim Jong-il di Pyongyang dan bahkan dipanggil “Ibu” oleh mereka, pernah mengajukan permohonan visa Amerika Serikat atas nama Ko guna mengatur perawatan medis. Namun permohonan tersebut ditolak.
Hingga kini, Gomi memperkirakan sekitar 50 orang kerabat Kim Jong-un masih tinggal di Jepang. Dia berharap buku ini dapat mendorong Korea Utara untuk meninjau ulang hubungannya dengan Jepang. (Dwi Sasongko)