BEIJING – Kehancuran Gaza, Palestina bukan hanya tragedi geopolitik, tapi juga bencana budaya dan kemanusiaan. Negara-negara di seluruh dunia harus bersatu dalam memperjuangkan keadilan dan menegakkan hukum internasional, serta menolak segala praktek standar ganda dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan hal tersebut pidato kunci pada Forum bertajuk “Inter-Civilisation Exchanges and Mutual Learning: Global Development and Prosperity” pada pertemuan Global Civilizations Dialogue Meeting yang merupakan inisiatif Presiden Xi Jin Ping melalui Global Civilisation Initiative (GCI), sebagai sebuah platform global memperkuat kolaborasi dalam membangun dunia yang inklusif dan sejahtera. ‘’Pemerintah Indonesia tetap konsisten mendukung hak-hak rakyat Palestina untuk merdeka dan berdaulat,’’ ungkap Fadli Zon di Beijing, China, pada Sabtu (11/7/2025).
Pertemuan ini mengangkat tema besar “Safeguarding the Diversity of Human Civilizations for World Peace and Development”, dan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dunia, terutama dari Global South, termasuk para menteri dari berbagai negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Fadli menyoroti bencana kemanusiaan di Gaza sebagai contoh nyata dari genosida peradaban yang terjadi saat ini dan penghapusan memori sejarah umat manusia. Dia menegaskan bahwa di tengah dunia multipolar saat ini, Indonesia berkomitmen menjadi jembatan bagi kerjasama global dalam membangun stabilitas dan kerja sama dunia.
Dia kemudian mengutip pidato bersejarah Presiden Sukarno dalam Konferensi Asia Afrika 1955 sebagai landasan etis dan moral kebijakan luar negeri Indonesia: “Kita tak ingin menciptakan perpecahan baru, tetapi mendorong pengertian bersama, menghormati kedaulatan, dan kerja sama yang adil antarbangsa.”
Lebih jauh, Fadli menekankan pentingnya kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation) sebagai upaya kolektif mencapai pembangunan berkelanjutan dan pemerataan kesejahteraan bagi negara-negara berkembang. Dia mengajak seluruh pihak untuk menggali kekuatan dari kekayaan budaya masing-masing bangsa, dan menggunakannya sebagai landasan untuk membangun masa depan bersama yang damai, inklusif, dan berkeadilan. “Melalui dialog, kerja sama, upaya menegakkan keadilan global, serta rasa saling menghargai antarbangsa, kita bisa membangun masa depan yang damai dan sejahtera untuk seluruh umat manusia secara inklusif,” tuturnya.
Pentingnya Pelihara Keberagaman
Fadli Zon menyerukan pentingnya memelihara keberagaman peradaban manusia untuk perdamaian dan pembangunan dunia yang berkelanjutan. “Dialog antarperadaban adalah upaya sangat penting untuk menjembatani perbedaan serta membangun kepercayaan antarbangsa. Melalui pertukaran pengetahuan dan pembelajaran lintas budaya, kita dapat mendorong terwujudnya perdamaian, kemajuan, dan kemakmuran bersama,” ujar Fadli.
Fadli juga menyoroti hasil kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke China pada November 2024 yang mempertegas hubungan strategis dan kerja sama budaya yang semakin erat antara kedua negara.
Dalam kesempatan ini, Fadli Zon memperkenalkan Indonesia sebagai negara dengan keberagaman budaya yang luar biasa dengan lebih dari 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, serta lebih dari 2.213 warisan budaya tak benda (WBTB) yang telah terdata secara nasional dan lebih dari 50,000 WBTB potensial. Selanjutnya ia menggarisbawahi posisi penting Indonesia dalam sejarah manusia dengan penemuan Homo erectus dan Homo floresiensis di situs-situs arkeologi seperti Sangiran, Trinil, Ngandong, dan lukisan purba di Leang-Leang di Maros, Sulawesi Selatan.
“Selama berabad-abad, Nusantara telah menjadi “melting pot” beragam budaya dari berbagai bangsa dan peradaban tua yang berpadu secara dinamis, menghasilkan ragam ekspresi budaya, mencerminkan kekayaan sejarah dan keberagaman warisan budaya,” tegas Fadli.
Ia menambahkan Indonesia adalah contoh nyata, bahwa perbedaan bukanlah persoalan. Perbedaan suku, agama, budaya, dan tradisi merupakan kekuatan dan fondasi utama jati diri bangsa. Keberagaman Indonesia sebagai bangsa majemuk namun tetap bersatu dalam satu naungan rumah. ‘’Bhinneka Tunggal Ika, yang berikrar berbangsa satu, bangsa Indonesia dan berbahasa satu, bahasa Indonesia, memegang peranan penting dalam narasi tentang upaya mewujudkan perdamaian. Hal ini menjadi dasar dalam upaya pemajuan kebudayaan, menekankan pada pemahaman dan pengakuan terhadap keberagaman multietnik dan budaya di Indonesia, melahirkan sikap toleransi dan kerukunan,” tandasnya. (Dwi Sasongko)