Kerja Sama Permuseuman Indonesia–China Jadi Jembatan Diplomasi Antarbangsa 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyerahkan keris kepada Wakil Direktur Museum Nasional Tiongkok, Chang Weiming (kanan) saat berkunjung ke Museum Nasional China (National Museum of China/NMC) di Beijing pada 12 Juli 2025. Foto : Dok Kementerian Kebudayaan RI
Menteri Fadli dan Wang Xudong membahas sejumlah inisiatif strategis, termasuk pertukaran tenaga ahli dan profesional museum antara kedua negara, yang mencakup kurator, konservator, peneliti, serta pengelola museum.
Share the Post:

BEIJING – Indonesia dan China memiliki sejarah peradaban yang panjang, tua, dan kaya. Kerja sama di bidang permuseuman memiliki nilai strategis, tidak hanya untuk penguatan sektor kebudayaan, tetapi juga sebagai jembatan diplomasi antarbangsa. 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan hal tersebut usai melakukan pertemuan bilateral dengan Direktur Palace Museum of China, Wang Xudong di Beijing, China pada 11 Juli 2025. Dia mengungkapkan dirinya berbagi pandangan tentang pentingnya upaya pelestarian warisan budaya kepada generasi masa kini dan mendatang. ‘’Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya yang terus diperkuat antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya di bidang permuseuman dan pelestarian warisan budaya,’’ ungkap Fadli Zon.

Dalam dialog tersebut, Menteri Fadli dan Wang Xudong membahas sejumlah inisiatif strategis, termasuk pertukaran tenaga ahli dan profesional museum antara kedua negara, yang mencakup kurator, konservator, peneliti, serta pengelola museum. Selain itu, program residensi dan pelatihan di Palace Museum bagi tenaga museum dari Indonesia sebagai bagian dari peningkatan kapasitas SDM kebudayaan, serta Kolaborasi pameran temporer dan riset bersama, khususnya yang menggali jejak hubungan historis dan budaya antara Nusantara dan China. 

Fadli Zon juga berkunjung langsung ke kompleks bersejarah Palace Museum atau yang dikenal sebagai Kota Terlarang (Forbidden City), salah satu institusi permuseuman dan pelestarian budaya paling terkemuka di dunia. Palace Museum, yang terletak di kompleks Kota Terlarang di Beijing, merupakan salah satu museum terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Museum ini menyimpan lebih dari 1,8 juta artefak bersejarah dan telah menjadi pusat konservasi, riset, serta pendidikan publik mengenai kebudayaan China dan Asia Timur.

Direktur Palace Museum, Wang Xudong, secara khusus menyatakan komitmennya untuk membuka ruang lebih luas bagi kolaborasi dengan museum-museum di Indonesia, terutama dalam bidang konservasi artefak, digitalisasi koleksi, dan riset sejarah maritim Asia. Ia juga mengundang Indonesia untuk secara aktif mengirimkan tenaga profesional museum untuk mengikuti program residensi dan pengembangan kapasitas di Palace Museum.

“Saya berharap hubungan yang telah terjalin antara Palace Museum dan Museum Nasional Indonesia dapat terus ditingkatkan. Ke depan, kami berharap kerja sama ini tidak hanya memperkuat institusi museum, tetapi juga mendorong pemanfaatan museum sebagai ruang dialog antarbudaya dan penguatan identitas bangsa,” tegas Fadli Zon.  

Langkah ini sejalan dengan agenda strategis Kementerian Kebudayaan dalam mendukung diplomasi budaya, penguatan ekosistem permuseuman nasional, serta menjadikan warisan budaya sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. 

Keris Jadi Jembatan Persahabatan Dua Peradaban Besar

Hari berikutnya, Fadli Zon, juga berkunjung ke Museum Nasional China (National Museum of China/NMC) di Beijing. Kunjungan ini diawali dengan pertemuan dengan Wakil Direktur Museum Nasional China, Chang Weiming, serta penyerahan simbolik keris, warisan budaya Indonesia yang telah diinskripsi UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 25 November 2005.

Dalam pertemuan ini, Fadli Zon menegaskan pentingnya diplomasi budaya dalam membangun hubungan antarbangsa. “Penyerahan keris ini adalah jembatan persahabatan antara dua peradaban besar dan tua di dunia yakni Tiongkok dan Indonesia,” ujarnya. 

Fadli Zon menyampaikan komitmen pemerintah RI melalui Kementerian Kebudayaan untuk menjadikan museum bukan sekadar tempat penyimpanan benda kuno, tetapi ruang interaktif yang mendekatkan masyarakat pada akar budayanya. Salah satunya melalui pameran kongsi yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia menampilkan berbagai koleksi artefak dan benda-benda kuno yang menunjukkan hasil akulturasi budaya Indonesia dan China. 

Dia berharap kerjasama yang terbangun antara Museum Nasional Indonesia dan Museum Nasional Tiongkok dapat terus diperkuat sebagai wujud komitmen kemitraan memperkuat diplomasi budaya Indonesia di panggung global.

Museum Nasional Tiongkok menyimpan lebih dari 1,4 juta koleksi, mencakup artefak kuno dan modern, keramik, manuskrip, dan berbagai karya seni klasik. Di antaranya, terdapat lebih dari 815.000 artefak budaya kuno, 340.000 artefak budaya modern, dan hampir 6.000 benda budaya Tingkat Satu (Grade One cultural relics).

Museum ini dikenal dengan pameran permanennya seperti “Ancient China”, “The Road of Rejuvenation”, dan “The Road of Rejuvenation: New Era”, yang menampilkan sejarah panjang peradaban Tiongkok dari zaman prasejarah hingga era modern. Koleksi museum mencakup berbagai dinasti penting seperti Shang, Zhou, Qin, Han, Tang, hingga Qing, serta menampilkan kekayaan warisan budaya Tiongkok seperti perunggu kuno, keramik, batu giok, tekstil, dan lainnya.

Wakil Direktur Chang Weiming menyambut hangat kunjungan ini dan menyampaikan apresiasi mendalam atas penyerahan keris. “Ini adalah simbol persahabatan dan penghargaan yang sangat kami hargai. Kami percaya bahwa kerja sama budaya antara Tiongkok dan Indonesia dapat terus berkembang melalui pertemuan ini,” ujar Chang Weiming. (Dwi Sasongko)