Pakistan Resmikan Kapal Selam Kelas Hangor Pertama di China 

Pakistan dijadwalkan menerima 8 kapal selam kelas Hangor, dengan 4 unit dibangun di China dan 4 unit lainnya diproduksi di Pakistan. Kapal selam ini dilengkapi dengan sistem Air-Independent Propulsion (AIP) yang memungkinkan kapal selam beroperasi lebih lama di bawah permukaan laut tanpa harus muncul ke permukaan untuk mengambil oksigen. Foto: X.com/alpha_defense
Pengoperasian kapal selam canggih tersebut merupakan “tonggak sejarah” bagi angkatan laut Pakistan, sekaligus mencerminkan tekad Islamabad untuk mempertahankan postur pertahanan yang kredibel dan seimbang
Share the Post:

ISLAMABAD – Pakistan pada Kamis meresmikan kapal selam pertama dari delapan kapal selam kelas Hangor yang dibuat di China, sebuah langkah penting dalam modernisasi angkatan lautnya seiring perluasan kerja sama pertahanan dengan Beijing, demikian disampaikan pihak militer.

Upacara peresmian digelar di kota pelabuhan Sanya, China selatan, dengan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari sebagai tamu kehormatan. Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan Laksamana Naveed Ashraf serta pejabat militer senior dari kedua negara turut hadir. Zardari dan para pejabat Pakistan lainnya diketahui telah beberapa kali melakukan kunjungan ke China dalam beberapa tahun terakhir.

Zardari, yang tengah melakukan kunjungan resmi ke China, menyatakan bahwa pengoperasian kapal selam canggih tersebut merupakan “tonggak sejarah” bagi angkatan laut Pakistan, sekaligus mencerminkan tekad Islamabad untuk mempertahankan postur pertahanan yang kredibel dan seimbang. Ia menegaskan Pakistan mampu mempertahankan kedaulatan, melindungi kepentingan maritim, serta mengamankan jalur ekonomi vital.

Kapal selam kelas Hangor diyakini berbasis desain kapal selam Type 039A milik China. Kapal ini dapat diawaki oleh 38 personel dengan kapasitas tambahan bagi pasukan khusus, serta dilengkapi torpedo dan rudal antikapal. Pakistan sebelumnya telah menyepakati pengadaan delapan unit kapal selam tersebut, dengan empat unit terakhir akan dibangun di Karachi Shipyard & Engineering Works di kota pelabuhan selatan Karachi.

Pakistan sejak lama mengandalkan armada kapal selamnya sebagai bagian dari strategi penangkal terhadap negara tetangganya, India, yang telah terlibat tiga kali perang sejak kedua negara meraih kemerdekaan pada 1947. Dalam konflik perbatasan Kashmir tahun lalu, Pakistan menggunakan pesawat tempur J-10C buatan China dan mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat tempur India, termasuk Rafale buatan Prancis, meskipun klaim tersebut belum dikonfirmasi India.

Dalam pidatonya pada upacara tersebut, Ashraf menyebut gangguan pada titik-titik sempit jalur maritim strategis semakin mengancam perdagangan global dan keamanan energi, sehingga menegaskan pentingnya kekuatan angkatan laut modern. Ia mengatakan kapal selam kelas Hangor, yang dilengkapi sensor canggih, sistem persenjataan modern, serta teknologi air-independent propulsion (AIP), akan membantu menjaga stabilitas kawasan dan mengamankan jalur pelayaran vital di Laut Arab serta Samudra Hindia yang lebih luas.

Ashraf juga menyampaikan bahwa nama “Hangor” memiliki makna historis, merujuk pada kapal selam Pakistan yang menenggelamkan kapal perang India pada 1971 — penenggelaman pertama sejak Perang Dunia II. Ia menilai peresmian ini menjadi babak baru dalam kemitraan pertahanan jangka panjang antara Pakistan dan China.

Tahun lalu, Pakistan dan China juga berkomitmen memperluas kerja sama ekonomi dan investasi melalui China-Pakistan Economic Corridor (CPEC), program unggulan dalam inisiatif global Belt and Road Initiative milik China.

Mangutip Asiatimes, langkah tersebut menegaskan semakin meluasnya kerja sama pertahanan Pakistan–China setelah dinamika konflik terbaru dengan India, sekaligus melengkapi transfer persenjataan China sebelumnya, termasuk pesawat tempur J-10C.

Penggunaan taktis kapal selam kelas Hangor kemungkinan akan difokuskan pada operasi konvensional menggunakan torpedo dan rudal antikapal, mengingat risiko eskalasi yang tinggi membatasi kepraktisan penggunaannya sebagai platform penangkal nuklir berbasis laut.

Melihat kemampuan taktis kapal selam kelas Hangor, Nuclear Threat Initiative (NTI) dalam laporan September 2024 mencatat bahwa kelas kapal selam ini dilengkapi tabung torpedo berdiameter 53 milimeter, yang memungkinkan peluncuran torpedo berat seperti Yu-6 buatan China, serta rudal jelajah antikapal. (Dwi Sasongko)