KUALA LUMPUR – Mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr. Mahathir Mohamad meminta Perdana Menteri Malaysia saat ini, Datuk Seri Anwar Ibrahim, untuk segera mengundurkan diri, dengan alasan kurangnya kemampuan pemerintahan dan berbagai masalah yang dihadapi negara.
Berbicara dalam rapat umum politik bertajuk “Himpunan Mandat Negarawan” (Pertemuan Mandat Negarawan) yang diadakan di Stadion Sultan Abdul Halim di Alor Setar pada Kamis malam (17/7/2025), Mahathir menekankan bahwa meskipun posisi perdana menteri biasanya berubah melalui pemilihan umum, terdapat preseden di banyak negara di mana perdana menteri mengundurkan diri secara sukarela karena tekanan publik.
“Saya sendiri mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri karena tekanan partai. Kini Anwar menghadapi oposisi publik yang lebih luas, jadi ia harus segera mengundurkan diri,” ujar Mahathir dalam pidatonya yang dilansir oleh The Rakyat Post.
Mantan pemimpin Malaysia berusia 100 tahun itu berpendapat bahwa pengunduran diri tidak boleh menunggu pemilu, dengan menyatakan: “Jika rakyat tidak puas, perdana menteri harus mengundurkan diri.”
Mahathir memberikan beberapa contoh internasional untuk mendukung argumennya, termasuk contoh mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang mengundurkan diri menyusul kemarahan publik atas pelanggaran regulasi COVID-19.
Mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengundurkan diri menyusul protes publik berskala besar, dan perdana menteri Jepang, yang biasanya mengundurkan diri ketika menghadapi pelanggaran, melakukannya tanpa menunggu pemilu. “Sebagai seorang perdana menteri, harus memahami perasaan rakyat,” ujar Mahathir.
Mantan perdana menteri tersebut mengkritik pemerintahan Anwar, menuduh adanya salah kelola kekayaan nasional dan pembatalan berbagai subsidi yang diberikan kepada rakyat, yang menyebabkan kesulitan publik.
“Hari ini, semua orang berkumpul di sini karena kita menghadapi masalah yang sama – negara kita kaya, tetapi rakyatnya tetap miskin. Ini jelas merupakan akibat dari pemerintahan yang tidak kompeten,” ujar Mahathir.
Ia mengklaim bahwa banyak warga Malaysia saat ini menghadapi kerawanan pangan dan beberapa orang, di bawah tekanan yang luar biasa, telah kehilangan akal sehat mereka dan melakukan bunuh diri atau kekerasan terhadap anggota keluarga, mengaitkan masalah ini dengan kemiskinan.

Mahathir mencatat bahwa masyarakat telah mengorganisir berbagai pertemuan untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini dan mendesak Anwar agar mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Unjuk rasa ini merupakan tantangan politik terbaru dari serangkaian tantangan politik yang dihadapi pemerintahan Anwar sejak ia menjabat sebagai perdana menteri.
Selanjutnya, pada Senin (21/7/2025), Mahathir melanjutkan seruannya yang ia sampaikan melalui akun X. “Rakyat telah menuntut Anwar untuk mundur dari jabatan Perdana Menteri. Ini adalah seruan rakyat di Alor Setar,” tulis Mahathir di X.
“Faktanya, Anwar tidak dipilih oleh rakyat untuk menjadi Perdana Menteri. Dia kalah. Namun, dengan bergabung dengan partai yang juga kalah, dia berhasil mendapatkan cukup suara untuk pemerintah,” paparnya.
“Sekarang muncul pertanyaan apakah dia memenuhi syarat untuk ikut serta dalam Pemilu. Hal ini karena terdapat kebingungan mengenai pengampunan Anwar. Ada kemungkinan pengampunannya tidak sah,” lanjut Mahathir.
Menurutnya, Anwar diampuni ketika saya menjadi PM untuk kedua kalinya. Saya melakukan seperti yang disarankan. Saya yakin itu benar pada saat itu. Namun sekarang ada pihak-pihak yang setuju dengan keabsahan pengampunan Anwar,” imbuh dia.
Pada kesempatan sebelumnya, Anwar Ibrahim menolak desakan publik untuk mengundurkan diri dari kursi perdana menteri. Alasannya, dia merasa tidak bersalah dan tidak korupsi uang rakyat. Anwar menantang kubu oposisi untuk mengajukan mosi tak percaya ke Parlemen sebagai cara yang benar untuk melawannya.
Hubungan antara Mahathir dan Anwar telah diwarnai oleh turbulensi, yang bermula dari persaingan politik dan sejarah yang rumit, yang mencakup periode kemitraan sekaligus konflik. Permusuhan ini berakar pada rasa iri dan ketakutan akan pergantian politik, terutama pada masa-masa awal mereka di UMNO, di mana Mahathir merasa terancam oleh meningkatnya popularitas Anwar. (Lina Nursanty)