Trump Siagakan Dua Kapal Selam Pengangkut Nuklir Tanggapi Pernyataan Medvedev

Foto ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memerintahkan dua kapal selam pengangkut senjata nuklir bersiaga di “wilayah yang semestinya”. Hal itu untuk berjaga-jaga jika pernyataan Medvedev itu benar-benar dilaksanakan. Foto : defense.gov
Beberapa hari terakhir ini Washington dan Moskow terlibat adu mulut di media sosial. Sebelumnya, Medvedev mengancam akan mengarahkan senjata nuklir Rusia ke AS sebagai jawaban atas ultimatum Trump ke Moskow karena tidak menyetujui gencatan senjata di Ukraina.
Share the Post:

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memerintahkan dua kapal selam pengangkut senjata nuklir bersiaga di “wilayah yang semestinya”. Hal itu sebagai respons terhadap pernyataan provokatif mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev. 

Seperti dilansir oleh BBC, dalam unggahannya di media sosial, Trump menyatakan bahwa hal itu untuk berjaga-jaga jika pernyataan Medvedev itu bukan sekadar pernyataan isapan jempol. “Kata-kata itu sangat penting, dan bisa mengarah pada konsekuensi yang tidak diinginkan, saya harap ini tidak akan berdampak apa-apa,” ujar Trump di TruthSocial. Trump tidak mengatakan dimana lokasi dua kapal selam yang diperintahkan siaga itu sesuai dengan protokol militer AS.

Beberapa hari terakhir ini Washington dan Moskow terlibat adu mulut di media sosial. Sebelumnya, Medvedev mengancam akan mengarahkan senjata nuklir Rusia ke AS sebagai jawaban atas ultimatum Trump ke Moskow karena tidak menyetujui gencatan senjata di Ukraina. 

Rusia dan AS menguasai senjata nuklir paling mematikan dan paling banyak di dunia. keduanya juga memiliki kapal selam pengangkut senjata nuklir. “Ancaman telah dibuat, dan menurut kami itu tidak pantas. Maka, kami harus waspada. Saya lakukan itu atas dasar demi keselamatan rakyat kami,” ujar Trump kepada wartawan di Washington, Sabtu (2/8/2025). 

Kremlin belum memberikan tanggapan atas pernyataan Trump ini, namun bursa saham Moskow terperosok cukup tajam setelah ucapan Trump tentang nuklir itu muncul. Belakangan, Trump dan Medvedev sering terlibat dalam percekcokan personal melalui media sosial. Awalnya, Trump menetapkan batas waktu terakhir bagi Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk mengakhiri perang pada 8 Agustus 2025.

Namun, Putin tampak tak menggubris ancaman Trump tersebut. Di pekan sebelumnya, Trump menetapkan batas waktu bagi Rusia mengakhiri perang pada 10 atau 12 Agustus 2025. Di awal Juli, Trump juga mengancam Rusia akan dikenai tarif impor minyak dan komoditas lainnya yang tinggi jika Putin tidak mengakhiri perang dalam waktu 50 hari. 

Medvedev yang merupakan mantan Presiden Rusia dari tahun 2008-2012 itu menuding Trump telah bermain ultimatum dengan Rusia di awal pekan ini. Dalam sebuah unggahannya di X, Medvedev mengatakan bahwa setiap ultimatum adalah ancaman dan langkah menuju perang. Ia juga menggambarkan ultimatum Trump sebagai “teatrikal” di awal bulan Juli dan menambahkan bahwa Rusia tidak peduli sama sekali terhadap ultimatum itu. 

Di platfrom Telegram, pada Kamis (31/7/2025), Medvedev memperingatkan ancaman “tangan kematian” yang dimaknai oleh beberapa analis militer sebagai sebuah nama kode serangan nuklir Rusia. Di hari yang sama, Trump menyebut Medvedev sebagai mantan Presiden Rusia yang gagal dan masih berpikir dirinya sebagai presiden. Trump juga memperingatkan Medvedev untuk jaga mulut karena ucapannya telah memasuki area berbahaya. Medvedev mendukung invasi Rusia terhadap Ukraina yang dimulai sejak tahun 2022 dan Medvedev adalah sosok pengkritik dunia Barat yang sangat vokal. (Lina Nursanty)