Militer AS-Korea Selatan Gelar Latgab, Korea Utara Tembakan Dua Rudal Pertahanan

Foto arsip 9 Mei 2025 ini menunjukkan jet tempur F-35B (kiri) dan F-35A yang dipamerkan di Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, Korea Selatan, sekitar 60 kilometer selatan Seoul. Amerika Serikat dan Korea Selatan melakukan latihan militer yang dinamai Ulji Freedom Shield. Korea Utara meresponsnya dengan menembakkan dua jenis rudal pertahanan udara baru versi yang disempurnakan ke sejumlah target. Foto: Yonhap
Melalui uji coba tersebut, telah dinilai bahwa sistem persenjataan rudal pertahanan udara baru ini memiliki kemampuan tempur yang unggul dalam hal respons cepat terhadap berbagai target udara seperti drone serang dan rudal jelajah, serta operasi dan mode reaksinya didasarkan pada teknologi yang unik dan khusus. 
Share the Post:

Pyongyang – Administrasi Rudal Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) melakukan uji coba penembakan dua jenis rudal pertahanan udara baru versi yang disempurnakan ke berbagai target untuk menguji kemampuan tempurnya, Sabtu (23/8/2025). Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengawasi uji coba tersebut. Penembakan dua rudal tersebut bersamaan dengan digelarnya latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang dinamai Ulji Freedom Shield.

KCNA melaporkan Kim Jong-un didampingi oleh Jo Chun Ryong, Sekretaris Komite Sentral Partai Buruh Korea, Kim Jong Sik, Wakil Direktur Departemen Pertama Komite Sentral Partai Buruh Korea, Marsekal Kim Kwang Hyok, Panglima Angkatan Udara Tentara Rakyat Korea, dan Kim Yong Hwan, Presiden Akademi Ilmu Pertahanan DPRK. 

Melalui uji coba tersebut, telah dinilai bahwa sistem persenjataan rudal pertahanan udara baru ini memiliki kemampuan tempur yang unggul dalam hal respons cepat terhadap berbagai target udara seperti drone serang dan rudal jelajah, serta operasi dan mode reaksinya didasarkan pada teknologi yang unik dan khusus. 

Uji coba ini khususnya membuktikan bahwa fitur teknologi kedua jenis proyektil tersebut sangat cocok untuk menghancurkan berbagai target udara. Disebutkan bahwa pada kesempatan itu Kim Jong Un mengingatkan tugas penting yang harus dilaksanakan oleh sektor ilmu pertahanan nasional DPRK menjelang Kongres Partai.

Penembakan dua rudal tersebut bersamaan dengan digelarnya latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang dinamai Ulji Freedom Shield. Kim Yong Bok, Wakil Kepala Staf Umum Pertama Tentara Rakyat Korea Utara menyebut latihan bersama itu sebagai “Logika Gangster ‘Rasul Perang’ yang Kurang Ajar Tidak Akan Pernah Berhasil”. 

Dilansir oleh KCNA, Kim Yong Bok mengatakan bahwa Ulji Freedom Shield yang berlangsung di Korea Selatan yang berbatasan dengan Korea Utara, sangat mengganggu lingkungan keamanan regional. “Dengan latar belakang ini, Amerika Serikat yang terbiasa mengubah hitam menjadi putih kembali menunjukkan keangkuhan dan rasa malunya, mengejutkan publik dunia,” ujarnya. 

Menurut dia, Komando Pasukan AS di Korea Selatan membuat pernyataan yang tidak masuk akal bahwa latihan tersebut adalah “latihan rutin dan defensif tanpa serangan pendahuluan dan operasi ofensif” dan “bukan untuk mempersiapkan agresi tetapi untuk memperkuat pencegahan”. 

Kim juga mengatakan, sudah menjadi fakta umum bahwa latihan perang skala besar melawan suatu negara tidak akan pernah bisa menjadi latihan “defensif” karena latihan ini diselenggarakan oleh negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia dan lebih dari sepuluh negara satelit di kawasan Semenanjung Korea yang secara teknis sedang berperang. Pendeployan 10 pesawat tempur siluman F-35 militer Angkatan Udara AS dalam latihan militer itu disoroti Korea Utara sebagai salah satu bentuk provokasi. 

Dilaporkan Yonhap, pengerahan sekitar 10 varian F-35 dilaporkan terjadi saat latihan tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS) sekutu sedang berlangsung selama 11 hari dan akan berakhir pada hari Kamis (27/8/2025). 

Baik F-35A maupun F-35B, yang masing-masing ditugaskan untuk Angkatan Udara AS dan Korps Marinir AS, telah dikerahkan ke Pangkalan Udara Kunsan dalam rangka penempatan sementara, menurut pejabat USFK.

Selama penempatan mereka, jet tempur AS akan berlatih dengan Korea Selatan, dengan fokus pada manuver kontra-udara defensif dan penguatan integritas, untuk meningkatkan kesiapan gabungan mereka dan mencegah potensi ancaman di kawasan.

Keduanya dianggap sebagai aset udara utama AS, F-35A beroperasi dari landasan pacu tradisional dengan jangkauan dan muatan yang lebih besar untuk serangan dan superioritas udara, sementara F-35B mampu beroperasi secara fleksibel dari kapal atau pangkalan yang sederhana berkat kemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikalnya.

Penempatan sementara ini dipandang sebagai upaya untuk memperkuat postur pertahanan gabungan sekutu, dengan Komandan USFK Jenderal Xavier Brunson baru-baru ini berkomentar tentang bagaimana penempatan rotasi jet tempur generasi kelima dapat membantu mengatasi kesenjangan yang ditimbulkan oleh relokasi baterai Patriot AS ke Timur Tengah.

Berbicara kepada wartawan pada 8 Agustus, Brunson menekankan pentingnya memprioritaskan “kemampuan” daripada “jumlah,” seraya menggarisbawahi perlunya perubahan dalam postur pasukan USFK.

Mengenai kemungkinan penempatan permanen atau penempatan rotasi rutin varian F-35 di Korea Selatan, pejabat USFK mengatakan bahwa pasukan tersebut terus menilai pendekatan yang berfokus pada kemampuan, dan menambahkan setiap perubahan pada postur pasukan akan diumumkan melalui saluran yang tepat.

Pertemuan Trump-Lee

Sementara itu di Washington DC, Presiden Donald Trump bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae pada hari Senin, yang membahas perdamaian di Semenanjung Korea dan kemampuan senjata nuklir Pyongyang. Saat itu terungkap Trump bersedia lagi bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.  

Presiden Lee Jae Myung, yang terpilih pada bulan Juni, meminta Trump untuk membantu mewujudkan perdamaian antara kedua Korea selama kunjungannya ke Gedung Putih – dengan mengklaim bahwa situasi telah lebih stabil selama masa jabatan pertama Trump.

“Saya pikir Anda adalah presiden pertama yang memiliki begitu banyak minat pada isu-isu perdamaian dunia dan benar-benar telah mencapai prestasi. Jadi, saya harap Anda akan mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea … dan bertemu dengan Kim Jong Un,” ujar Lee seperti dilansir oleh CNN. 

Ia menambahkan bahwa ia akan “secara aktif mendukung” Trump jika ia ingin “berperan sebagai juru damai,” dan bahwa presiden AS adalah “satu-satunya orang yang benar-benar dapat menyelesaikan” ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan, yang secara teknis masih berperang setelah Perang Korea berakhir pada tahun 1953 dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Pada kesempatan itu juga, AS dan Korea Selatan mengumumkan serangkaian perjanjian termasuk investasi bernilai miliaran dolar, pembelian pesawat senilai rekor USD50 miliar oleh Korean Air, dan kerja sama energi baru, saat para pemimpin kedua negara bertemu di Ruang Oval Gedung Putih. 

Dilansir oleh CNBC, ini termasuk janji investasi sebesar USD 150 miliar dari perusahaan-perusahaan Korea Selatan, pesanan 103 pesawat dari Boeing, pembelian kapal-kapal Korea Selatan, dan kemitraan pembangunan kapal. 

“Kita benar-benar saling membutuhkan. Kita mencintai apa yang mereka lakukan. Kita mencintai produk mereka. Kita mencintai kapal-kapal mereka. Kita mencintai banyak hal yang mereka buat, dan mereka mencintai apa yang kita miliki,” ujar Presiden AS Donald Trump dalam konferensi persnya dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.

Pengumuman ini menyusul kesepakatan dagang bulan Juli yang menurunkan tarif AS atas ekspor Korea Selatan — termasuk otomotif — menjadi 15% dari 25%. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Seoul berkomitmen untuk berinvestasi sebesar USD350 miliar di AS, dengan USD150 miliar dialokasikan untuk kerja sama pembuatan kapal. (Lina Nursanty)