Jinping-Putin-Modi Kobarkan Semangat Global Selatan Tantang Hegemoni AS

Para pemimpin negara berfoto bersama dalam KTT SCO di Tianjin, China Utara pada Minggu (31/8/2025). Foto : x.com/narendramodi_in
‘’SCO harus mempromosikan demokratisasi hubungan internasional dan meningkatkan representasi negara-negara berkembang. Tata kelola global telah mencapai persimpangan baru,"
Share the Post:

TIANJIN – Para pemimpin negara yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organisation (SCO) menolak tegas hegemonisme Barat yang didominasi Amerika Serikat (AS). Dalam KTT itu, Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Perdana Menteri India Narendra Modi menekankan visi mereka pada pertemuan puncak regional untuk tatanan keamanan dan ekonomi global baru yang memprioritaskan “Global Selatan”, sebagai tantangan langsung terhadap AS.

Reuters melaporkan bahwa dalam KTT yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 1 September 2025 itu, Xi menjamu lebih dari 20 pemimpin negara non-Barat dalam pertemuan puncak dua hari di kota pelabuhan Tianjin, China utara. 

‘’SCO harus mempromosikan demokratisasi hubungan internasional dan meningkatkan representasi negara-negara berkembang. Tata kelola global telah mencapai persimpangan baru,” ujar Xi dalam pidatonya, seraya menambahkan bahwa di tengah gejolak ini. 

“Kita harus terus mengambil sikap tegas terhadap hegemonisme dan politik kekuasaan, serta mempraktikkan multilateralisme sejati,” paparnya, dalam serangan terselubung terhadap tatanan dunia yang saat ini didominasi AS.

Sebelumnya, Xi mendorong globalisasi ekonomi yang lebih inklusif di tengah gejolak yang disebabkan oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, menggembar-gemborkan “pasar berskala besar” SCO dan peluang ekonomi yang luas di berbagai bidang, termasuk energi dan sains. Perang tarif Trump telah secara tidak proporsional memengaruhi negara-negara berkembang seperti India, yang ekspornya terkena tarif 50% minggu lalu.

Putin, yang negaranya telah menjalin hubungan ekonomi dan keamanan yang lebih erat dengan China di tengah dampak perang Ukraina, mengatakan SCO telah menghidupkan kembali “multilateralisme sejati”, dengan mata uang nasional yang semakin banyak digunakan dalam penyelesaian bersama. “Hal ini, pada gilirannya, meletakkan dasar politik dan sosial-ekonomi bagi pembentukan sistem stabilitas dan keamanan baru di Eurasia,” kata Putin.

Dengan sistem keamanan ini, yang berbeda dengan model Eurosentris dan Euro-Atlantik, akan benar-benar mempertimbangkan kepentingan berbagai negara. “Benar-benar seimbang, dan tidak akan membiarkan satu negara memastikan keamanannya sendiri dengan mengorbankan negara lain,” ujarnya. 

Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Perdana Menteri India Narendra Modi tampak berbincang akrab di sela sela menghadiri KTT SCO di Tianjin, China Utara pada Minggu (31/8/2025).. Foto : x.com/narendramodi_in

Bank Pembangunan Baru

Pada kesempatan itu, Xi menyerukan pembentukan bank pembangunan SCO yang baru, yang akan menjadi langkah besar menuju aspirasi lama blok tersebut untuk mengembangkan sistem pembayaran alternatif atau mata uang bersama yang menghindari dolar AS.

Beijing akan memberikan bantuan gratis sebesar 2 miliar yuan (Rp 4,6 triliun) kepada negara-negara anggota tahun ini dan tambahan 10 miliar yuan (Rp 23,1 triliun) pinjaman kepada konsorsium perbankan SCO. China juga akan membangun pusat kerja sama kecerdasan buatan untuk negara-negara SCO, yang juga diundang untuk berpartisipasi di stasiun penelitian bulan milik China. 

Berbicara di sela-sela pertemuan pada hari Minggu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan China memainkan peran “fundamental” dalam menegakkan multilateralisme global.

Yang lain yang menghadiri KTT Tianjin termasuk Perdana Menteri India Narendra Modi dan para pemimpin dari Asia Tengah, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. SCO yang berfokus pada keamanan, yang awalnya merupakan kelompok enam negara Eurasia, telah berkembang menjadi 10 anggota tetap dan 16 negara dialog dan pengamat dalam beberapa tahun terakhir. PM India Narendra Modi termasuk di antara para pemimpin dari Asia Selatan, Asia Tengah, dan Timur Tengah yang menghadiri KTT Tianjin.

Beijing telah memanfaatkan KTT tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan New Delhi. Modi, yang mengunjungi Tiongkok untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dan Xi pada hari Minggu sepakat bahwa negara mereka adalah mitra pembangunan, bukan saingan, dan membahas cara-cara untuk meningkatkan hubungan perdagangan.

Sementara itu, Indonesia merupakan salah satu negara non-anggota yang diundang hadir dalam KTT SCO tahun ini bersama dengan Malaysia, Laos dan Vietnam. SCO beranggotakan China, Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan sebagai negara awal. Setelah itu, India serta Pakistan bergabung pada 2017, Iran pada 2023 dan Belarus pada 2024 sehingga total ada 10 negara anggota.

Selain memiliki 10 anggota tetap, SCO juga memiliki dua negara pemantau (observer) – Mongolia dan Afghanistan – serta 14 mitra dialog, yaitu Sri Lanka, Turki, Kamboja, Azerbaijan, Nepal, Armenia, Mesir, Qatar, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Myanmar, Maladewa, dan Uni Emirat Arab.

Selaku undangan, Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam pernyataan pada Sabtu (30/8) malam mengatakan bahwa Presiden Prabowo menunda kunjungan ke China. Dia mengatakan Prabowo ingin terus memantau perkembangan kondisi di Tanah Air secara langsung. (Lina Nursanty)