NEW YORK – Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengatakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Selasa (23/9/2025) bahwa pengakuan Tokyo atas Negara Palestina hanyalah masalah waktu, dan menyatakan bahwa ia “marah” atas komentar-komentar terbaru dari para pejabat Israel.
Dilansir Channel News Asia, hampir 80 persen anggota PBB mengakui Negara Palestina, dengan sejumlah negara, termasuk Inggris, Kanada, dan Prancis, menambahkan nama mereka minggu lalu setelah hampir dua tahun perang di Gaza. “Saya merasa sangat geram dengan pernyataan para pejabat senior pemerintah Israel yang tampaknya secara tegas menolak gagasan pembentukan negara Palestina,” ujar Perdana Menteri Shigeru Ishiba.
Pengakuan terhadap negara Palestina bagi Jepang hanya masalah waktu. Yang pasti, Jepang sangat jengah dengan tindakan sepihak yang terus dilakukan pemerintah Israel. “Saya harus menyatakan dengan jelas bahwa jika tindakan lebih lanjut diambil yang menghalangi terwujudnya solusi dua negara, Jepang akan dipaksa untuk mengambil langkah-langkah baru sebagai tanggapan,” tambahnya.
Jepang, anggota G7, adalah sekutu dekat Amerika Serikat dan menampung sekitar 54.000 personel militer AS. Di tempat lain di Asia, Korea Selatan dan Singapura juga belum mengakui Palestina sebagai sebuah negara.
Ishiba mengatakan bahwa teror yang dilakukan oleh Hamas dan kehancuran di Gaza yang kita saksikan hari ini telah membuat banyak orang merasa sangat sedih. “Yang terpenting adalah Palestina dapat hidup berkelanjutan, hidup berdampingan secara damai dengan Israel,” kata Ishiba.
Ia juga mengundang Palestina untuk menjalankan perannya sebagai anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab. Pihak Palestina harus membangun sistem pemerintahan yang menjamin akuntabilitas.
Ishiba mengadakan konferensi pers pada hari Rabu setelah menghadiri Sidang Umum PBB di New York yang dilansir oleh NHK. Ishiba mengatakan Jepang akan berperan dalam upaya mewujudkan “solusi dua negara.” Ini termasuk memajukan upaya untuk membangun kemandirian ekonomi Palestina dan pemerintahan yang efektif.
Hal serupa ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya Jepang. Ia tegas memperingatkan akan mempertimbangkan “langkah-langkah baru dan respons” jika Israel mengambil langkah-langkah yang menghalangi jalan menuju solusi dua negara di Palestina. “Jepang sepenuhnya mendukung aspirasi rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka mereka sendiri,” ujar Menteri Luar Negeri Takeshi Iwaya pada konferensi PBB tentang Palestina di New York.
Ia menekankan bahwa Tokyo telah lama mendukung solusi dua negara. Namun, Jepang sejauh ini menolak seruan untuk mengakui Palestina secara resmi, meskipun negara-negara seperti Australia, Kanada, Inggris, Prancis, Belgia, dan lainnya telah melakukannya dalam beberapa minggu terakhir.
Sambil mencatat kontribusi nyata yang telah diberikan Jepang bagi rekonstruksi di Tepi Barat yang diduduki, Iwaya mengatakan Tokyo akan melanjutkan pertimbangan komprehensifnya dengan lebih serius sembari menegaskan bahwa Palestina harus dapat hidup secara berkelanjutan, berdampingan secara damai dengan Israel.
Untuk pertama kalinya Juli lalu, Jepang menjatuhkan sanksi berupa pembekuan aset mereka di Jepang kepada empat pemukim Israel atas keterlibatan mereka dalam kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. (Lina Nursanty)