Israel Khawatir Amerika Serikat Jual F-35 ke Arab Saudi

Jet tempur F-35A Lightning II Angkatan Udara AS sedang bermanuver di udara. F-35, yang dibangun dengan teknologi siluman yang memungkinkannya menghindari deteksi musuh, dianggap sebagai jet tempur tercanggih di dunia. Foto: Lockheed Martin
Potensi penjualan senilai miliaran dolar AS itu sangat menggiurkan bagi Pemerintahan Trump. Namun, sikap Trump itu tentu akan menandai perubahan kebijakan yang signifikan dan akan mengubah keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah yang ditakutkan Israel.
Share the Post:

JERUSALEM – Pemerintah Israel was was jika Amerika Serikat jadi mengekspor pesawat jet tempur F-35 ke Arab Saudi. Sebagai satu-satunya operator F-35 di kawasan Timur Tengah, Israel khawatir kepemilikan F-35 oleh negara lain di kawasan itu akan mempengaruhi stabilitas pertahanannya. 

Dikabarkan oleh Reuters dan The Israel Times, pemerintahan Donald Trump tengah mempertimbangkan permintaan Arab Saudi untuk membeli 48 pesawat jet tempur F-35. Hal itu adalah perbincangan yang santer menjelang kedatangan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman ke Washington, pada 18 November mendatang. 

Potensi penjualan senilai miliaran dolar AS itu sangat menggiurkan bagi Pemerintahan Trump. Namun, sikap Trump itu tentu akan menandai perubahan kebijakan yang signifikan dan akan mengubah keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah yang ditakutkan Israel. 

Departemen Pertahanan Israel terus memonitor sikap AS terkait rencana penjualan F-35 ke negara selain Israel ini sejak tahun 2020 ketika Uni Emirat Arab pertama kali menyatakan ketertarikannya. Tak hanya Arab Saudi dan UEA, negara di Timur Tengah yang tertarik membeli jet tempur tersebut dari AS adalah Qatar, Maroko, Mesir, Bahrain dan Turki. 

Namun, kebijakan politik pertahanan AS menyatakan bahwa jet tempur F-35 hanya boleh dimiliki Israel di kawasan Timur Tengah untuk memastikan dominasi kekuatan militer tetap di tangan Israel dan AS. Penjualan F-35 buatan Lockheed Martin itu juga membutuhkan persetujuan Kongres. Yang pasti, Israel mengultimatum jika AS tetap menjual F-35 ke negara lain maka strategi militer di kawasan harus berubah. 

Sumber anonim di Pentagon menyatakan bahwa potensi transaksi penjualan F-35 ke Arab Saudi ini kini telah naik ke tahap lebih tinggi di Departemen Perang AS. Namun, baik Pentagon, Gedung Putih maupun Departemen Perang belum ada yang memberikan pernyataan resmi terkait hal ini kepada wartawan. 

Sementara, juru bicara Lockheed Martin sebagai pabrik pembuatan pesawat menolak berkomentar dengan berdalih bahwa hal itu adalah ranah pemerintah. 

F-35, yang dibangun dengan teknologi siluman yang memungkinkannya menghindari deteksi musuh, dianggap sebagai jet tempur tercanggih di dunia. Israel telah mengoperasikan pesawat ini selama hampir satu dekade, membangun beberapa skuadron, dan tetap menjadi satu-satunya negara Timur Tengah yang memiliki sistem persenjataan tersebut.

Arab Saudi, pelanggan terbesar senjata AS, telah menginginkan pesawat tempur ini selama bertahun-tahun karena ingin memodernisasi angkatan udaranya dan melawan ancaman regional, terutama dari Iran. Dorongan baru kerajaan untuk mendapatkan apa yang akan menjadi dua skuadron muncul ketika Pemerintahan Trump mengisyaratkan keterbukaan untuk memperdalam kerja sama pertahanan dengan Riyadh.

Dalam program F-35, terdapat beberapa sistem radar, dan Israel mempertahankan keunggulannya berkat integrasi sistem buatan Israel. Sistem ini meningkatkan pengumpulan intelijen dan daya mematikan, menawarkan kemampuan yang tidak ditemukan pada pesawat lain. Jika negara-negara Arab memperoleh F-35, AS dapat membatasi kemampuannya. 

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Israel sedang memantau secara ketat proyek jet tempur F-47, sebuah pesawat generasi keenam. Boeing memenangkan kontrak senilai USD 20 miliar, yang diharapkan akan menggantikan F-22. F-47 dijadwalkan untuk beroperasi dengan militer AS antara tahun 2027 dan 2029.

F-47 diperkirakan akan mengungguli F-35 dengan jangkauan 1.800 km dan kecepatan di atas mach dua. Pesawat ini akan dilengkapi teknologi siluman generasi mendatang, kecerdasan buatan, dan persenjataan yang lebih lengkap. Pesawat ini diperkirakan akan menelan biaya sekitar USD 170 juta per unit. Saat ini, pesawat ini masih dalam tahap pengujian, tanpa spesifikasi resmi atau peta ekspor yang dirilis. (Lina Nursanty)