CARACAS – Venezuela mengecam aksi militer Amerika Serikat (AS) di wilayahnya yang menelan hampir 80 korban nyawa. Baru-baru ini Presiden AS Donald Trump juga mengancam agar wilayah udara Venezuela ditutup. Dilaporkan oleh The Telegraf, Departemen Luar Negeri Venezuela menyebut pernyataan dan aksi AS itu sebagai “ancaman kolonialis”.
Presiden AS Donald Trump mengatakan wilayah udara di atas Venezuela seharusnya dianggap tertutup. Pernyataan tersebut ia sampaikan di platform Truth Social miliknya. “Kepada seluruh maskapai penerbangan, pilot, pengedar narkoba, dan pedagang manusia: anggaplah wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela ditutup sepenuhnya,” demikian bunyi pesan yang sebagian ditulis dengan huruf kapital.
Venezuela menuding bahwa aksi AS itu dilatarbelakangi keinginan AS untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, bukan untuk menumpas perdagangan narkoba seperti yang dijadikan alasan penyerangan. “Venezuela akan tetap teguh dalam mempertahankan sumber daya energi alamnya,” ujar Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil Pinto.
Sebagai upaya pembelaan dirinya, Venezuela juga mengirimkan surat kepada Organisasi Negara Pengkspor Minyak (OPEC). Dalam surat kepada sekretaris jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, tertanggal 30 November, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menuduh AS melontarkan ancaman tegas yang terus-menerus dan berulang terhadap negaranya, dalam sebuah langkah yang menurutnya sangat membahayakan stabilitas produksi minyak Venezuela dan pasar internasional. Seperti diketahui, cadangan minyak Venezuela diperkirakan termasuk yang terbesar di dunia.
Majelis Nasional Venezuela mengecam serangan militer AS baru-baru ini terhadap kapal-kapal yang dituding mengangkut narkoba di perairan Venezuela. “Tidak ada yang akan menghentikan kami. Kami akan terus merdeka dan berdaulat!” tulis Pinto dalam unggahannya di Telegram.
Venezuela mengecam “ancaman kolonialis yang berupaya merongrong kedaulatan wilayah udaranya dan merupakan agresi yang berlebihan, ilegal, dan tidak dapat dibenarkan terhadap rakyat Venezuela,” demikian pernyataan tersebut.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela meningkat baru-baru ini. AS, antara lain, telah mengirimkan kapal induk ke wilayah tersebut dan melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba.
Trump menggambarkan serangan laut tersebut sangat berhasil. Pekan lalu, ia menegaskan bahwa serangan terhadap target darat dapat segera menyusul. “Anda mungkin menyadari bahwa orang-orang tidak lagi ingin mengirim melalui laut. Dan kami juga akan menghentikan mereka melalui darat,” ujarnya.
Gedung Putih belum memberikan komentar terkait surat Venezuela kepada OPEC tersebut. Namun, sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS telah membantah klaim tersebut. Menanggapi pernyataan eksklusif CNN di mana Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan bahwa kepentingan Trump di Venezuela adalah tentang minyak, alih-alih perdagangan narkoba, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pemerintah tetap teguh dalam operasi antinarkoba di Karibia dan komitmennya untuk melindungi rakyat Amerika dari racun mematikan rezim Maduro.
Pemerintahan Trump mengklaim ingin memberantas perdagangan narkoba dan menegaskan bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro adalah pimpinan geng narkoba teroris. AS juga tidak menganggap Maduro sebagai pemimpin sah negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut, tempat ia berkuasa sejak 2013.
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS telah meningkatkan tekanan terhadap Maduro dengan memperingatkan bahwa serangan darat terhadap jaringan perdagangan narkoba dapat terjadi “segera” dan mengimbau maskapai penerbangan, pilot, dan jaringan kriminal untuk menghindari wilayah udara Venezuela.
Namun, saat berbicara di Air Force One pada hari Minggu, Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa peringatannya tentang wilayah udara Venezuela bukanlah sinyal bahwa serangan udara akan segera terjadi. “Jangan berasumsi apa pun,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa ia mengeluarkan peringatan wilayah udara tersebut karena AS menganggap Venezuela bukan negara yang sangat bersahabat. (Lina Nursanty)