Pasca Menculik Presiden Maduro, AS Ambil Alih Kepemimpinan di Venezuela

Sebuah foto yang diunggah oleh Presiden AS Donald Trump di akun Truth Social miliknya menunjukkan sosok yang ia sebut sebagai Presiden Venezuela "Nicolas Maduro di atas kapal serbu amfibi USS Iwo Jima", setelah penangkapannya pada hari Sabtu. Foto : @realDonaldTrump
Share the Post:

WASHINGTON DC – Setelah melancarkan serangan militer skala besar dan menculik presiden Venezuela Nicolas Maduro, Amerika Serikat (AS) kini menyatakan akan mengambil alih kepemimpinan Venezuela selama masa transisi hingga terbentuk rezim kepemimpinan baru. Dalam konferensi pers seusai serangan militer di Venezuela, Donald Trump menyatakan AS akan membangun kembali infrastruktur minyak di negara tersebut. 

Dilaporkan CNN, Trump mengatakan AS akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela yang sangat besar dan merekrut perusahaan-perusahaan Amerika untuk menginvestasikan miliaran dolar guna memperbaiki industri minyak negara yang telah hancur. Ia menjelaskan bahwa pasukan AS akan hadir di Venezuela terkait dengan minyak.

Saat berbicara tentang ambisinya untuk membangun kembali infrastruktur Venezuela, yang disebutnya “tua” dan “busuk,” Trump mengatakan dia akan membuat minyak mengalir dan akan menjualnya ke beberapa negara. Kemudian dia mengatakan kekayaan itu akan “kembali kepada rakyat” Venezuela, serta kepada AS.

Dilaporkan CBC, Trump juga mengatakan keterlibatan pemerintahnya di Venezuela “tidak akan merugikan kita sepeser pun” karena Amerika Serikat akan mendapatkan penggantian dari “uang yang keluar dari tanah,” merujuk pada cadangan minyak Venezuela.

Dia mengatakan Rubio telah berhubungan dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez — calon pengganti Maduro.”’Kami akan melakukan apa pun yang Anda butuhkan,'” Trump mengutip perkataan Rodriguez. Meski begitu, percakapan tersebut belum dikonfirmasi kebenarannya.

Operasi Resolusi Mutlak

Penculikan Maduro oleh pasukan elit AS dengan misi Operasi Resolusi Mutlak ini menggegerkan dunia di awal tahun 2026 ini. Maduro dan istrinya diseret dari kediamannya setelah serangan militer AS yang memengaruhi Caracas dan negara bagian Miranda, La Guaira, dan Aragua.  

Ledakan terdengar dan pesawat-pesawat terbang rendah menyapu ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu pagi. Setidaknya tujuh ledakan terdengar dalam serangan yang berlangsung kurang dari 30 menit. Targetnya termasuk infrastruktur militer. Asap terlihat mengepul dari hanggar pangkalan militer di Caracas dan instalasi militer lain di ibu kota mengalami pemadaman listrik. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan korban jiwa akibat serangan tersebut. Namun, dari pihak AS sudah dipastikan oleh Trump tidak ada korban jiwa. 

Kepada wartawan di Washington DC, Trump menjelaskan proses penculikan Maduro secara detail. Menurut dia, pasukan AS memasuki kediaman Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores yang ia sebut lebih mirip benteng daripada rumah. “Tempat itu memiliki pintu baja. Ada ruangan yang disebut ruang aman, dengan baja padat di sekelilingnya. Dia tidak berhasil menutup ruangan itu. Dia mencoba masuk, tetapi mereka mengejutkannya begitu cepat sehingga dia tidak bisa masuk,” katanya.

Pasukan AS penculik telah dilengkapi dengan obor las besar dan semua peralatan yang dibutuhkan untuk memotong baja itu. Namun, itu semua tidak digunakan karena Maduro tidak berhasil masuk ke bagian rumah berlapis baja itu. 

Trump juga mengakui bahwa militer AS telah merencanakan untuk melakukan agresi terhadap Venezuela pada empat hari sebelumnya. Tetapi aksi bersenjata itu ditunda karena cuaca buruk. “Cuacanya harus sempurna. Dan kami memiliki cuaca yang sempurna. Kami memiliki cuaca yang sangat bagus. Sedikit lebih banyak awan dari yang kami perkirakan. Tidak apa-apa. Kami menunggu empat hari. Kami akan melakukannya empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu. Dan tiba-tiba, kesempatan terbuka dan kami berkata lanjutkan. Dan saya akan memberi tahu Anda, itu sungguh luar biasa,” katanya.

Maduro dan isterinya kini tengah ditahan di New York. Jaksa Agung AS Pamela Bondi mengatakan bahwa mereka akan segera menghadapi kekuatan penuh keadilan Amerika di tanah Amerika dan di pengadilan Amerika. “Nicolas Maduro telah didakwa dengan konspirasi terorisme narkoba, konspirasi untuk mengimpor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat perusak, dan konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat perusak terhadap Amerika Serikat,” kata Bondi, menunjukkan bahwa pemimpin Venezuela dan ibu negara didakwa di Distrik Selatan New York.

Penculikan Maduro membuat publik di Venezuela terbelah. Pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, menyerukan agar kandidat oposisi diangkat sebagai pemimpin, sementara menteri luar negeri negara itu bersikeras Maduro tetap menjadi kepala negara. Warga Venezuela di ibu kota menyuarakan reaksi beragam terhadap operasi AS tersebut, dengan sebagian merayakan perubahan positif dan sebagian lainnya mengatakan penangkapan Maduro menciptakan konflik yang lebih buruk.

Pemerintah Venezuela mengeluarkan pernyataan pada hari Sabtu setelah serangan udara pertama AS terhadap Caracas dengan menyebut bahwa tindakan ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB, khususnya Pasal 1 dan 2, yang menjamin penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan hukum antar Negara, dan larangan penggunaan kekerasan. “Agresi semacam itu mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya di Amerika Latin dan Karibia, dan sangat membahayakan nyawa jutaan orang,” demikian pernyataan tertulis pemerintah Venezuela. (Lina Nursanty)