Denmark: Masa Depan Greenland Harus Ditentukan Warganya Sendiri

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni tidak percaya Presiden AS Donald Trump akan menginvasi Greenland secara militer. Foto : x.com/GiorgiaMeloni
“Kami tidak ingin menjadi orang Amerika, kami tidak ingin menjadi orang Denmark, kami ingin menjadi orang Greenland. Masa depan Greenland harus ditentukan oleh warga Greenland,” kata para pemimpin dari lima partai di parlemen dalam pernyataan bersama seperti dikutip dari France24.com. 
Share the Post:

NUUK –  Para pemimpin dari lima partai politik Greenland di parlemen mengeluarkan pernyataan bersama pada Jumat (10/1/2026) malam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyarankan penggunaan kekerasan untuk merebut wilayah otonom Denmark tersebut. Mereka menyatakan bahwa masa depan pulau itu harus ditentukan oleh warga Greenland.

“Kami tidak ingin menjadi orang Amerika, kami tidak ingin menjadi orang Denmark, kami ingin menjadi orang Greenland. Masa depan Greenland harus ditentukan oleh warga Greenland,” kata para pemimpin dari lima partai di parlemen dalam pernyataan bersama seperti dikutip dari France24.com

Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Trump sekali lagi menegaskan bahwa AS perlu memiliki Greenland. “Kita akan melakukan sesuatu di Greenland, suka atau tidak suka. Karena jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland, dan kita tidak akan menjadikan Rusia atau China sebagai tetangga,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih saat bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak.

Trump mengatakan AS harus mengakuisisi Greenland, meskipun AS sudah memiliki kehadiran militer di pulau itu berdasarkan perjanjian tahun 1951. Pulau berpenduduk 57.000 jiwa itu merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark. Denmark dan sekutu Eropa lainnya telah menyatakan keterkejutan atas ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland di mana AS sudah memiliki pangkalan militer.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen telah memperingatkan bahwa invasi ke Greenland akan mengakhiri “semuanya”, yang berarti pakta pertahanan NATO transatlantik dan struktur keamanan pasca Perang Dunia II. Pada pekan lalu, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, Inggris, dan Denmark mengeluarkan pernyataan bersama, yang menyatakan bahwa hanya Greenland dan Denmark yang dapat memutuskan masalah yang berkaitan dengan hubungan mereka.

Trump telah meremehkan kekhawatiran Denmark, sekutu setia AS yang bergabung dengan Amerika Serikat dalam invasi Irak tahun 2003. “Saya juga penggemar Denmark, harus saya akui. Dan Anda tahu, mereka sangat baik kepada saya. Tetapi, fakta bahwa mereka pernah mendarat di sana 500 tahun yang lalu tidak berarti bahwa mereka memiliki tanah itu,” ujar Trump. 

Tidak Percaya

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan ia tidak percaya Amerika Serikat akan menggunakan kekuatan militer untuk menyerang Greenland, dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan memiliki konsekuensi serius bagi NATO. Dalam konferensi pers, Meloni menambahkan bahwa ada kebutuhan akan kehadiran NATO yang serius dan signifikan di wilayah Arktik, termasuk Greenland. 

“Saya tetap tidak percaya pada hipotesis bahwa Amerika Serikat akan melancarkan aksi militer untuk menguasai Greenland, sebuah pilihan yang jelas tidak akan saya dukung. Saya percaya itu tidak akan menguntungkan siapa pun. Saya pikir itu bahkan tidak akan menguntungkan Amerika Serikat, untuk lebih jelasnya,” ujar Meloni seperti dikutip dari telegrafi.com

Operasi militer AS pada akhir pekan yang menangkap pemimpin Venezuela menghidupkan kembali kekhawatiran tentang niat AS terhadap Greenland. Gedung Putih mengatakan AS sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk membeli Greenland, termasuk penggunaan kekuatan militer.

Meloni, yang dianggap sebagai salah satu sekutu terdekat Presiden AS Donald Trump di Eropa, mengatakan bahwa tindakan AS di Greenland akan berdampak signifikan pada NATO. Oleh karena itu, ia tidak berpikir Washington akan bertindak.

Meski begitu, ia mengatakan penting bagi NATO untuk meningkatkan kehadirannya di wilayah Arktik, dan menambahkan bahwa ia memahami kekhawatiran AS tentang perlunya mencegah campur tangan berlebihan oleh aktor lain yang mungkin juga bermusuhan. (Lina Nursanty)