KYIV – Ukraina memperkirakan bahwa 200.000 tentaranya absen tanpa izin resmi (AWOL), artinya mereka meninggalkan posisi mereka tanpa izin. Sebanyak 2 juta warga Ukraina lainnya “dicari” karena menghindari wajib militer. Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov mengatakan hal itu pada Rabu (15/1/2026) di hadapan Parlemen Ukraina.
Seperti dilansir CNN, Fedorov yang baru dikukuhkan itu mengatakan bahwa militer Ukraina berada di bawah tekanan selama bertahun-tahun karena berusaha mempertahankan negara dari musuh yang jauh lebih besar dan lebih kuat. Kondisi di sepanjang garis depan sangat brutal. Pasukan Ukraina kalah jumlah dan persenjataan dari lawannya.
Fedorov adalah orang termuda yang pernah menjabat sebagai menteri pertahanan Ukraina. Dia akan berusia 35 tahun minggu depan. Fedorov menggantikan Denys Shmyhal, yang kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri Pertama Ukraina dan Menteri Energi.
Rumor tentang moral yang rendah dan tingkat desersi yang tinggi telah beredar sejak lama, tetapi komentar Fedorov menandai pertama kalinya seorang pejabat Ukraina mengungkapkan skala masalah tersebut.
Berdasarkan hukum Ukraina, semua pria berusia antara 18-60 tahun wajib mendaftar ke militer dan selalu membawa dokumen mereka, meskipun hanya mereka yang berusia 25 hingga 60 tahun yang wajib dimobilisasi.
Hukum darurat militer Ukraina juga melarang semua pria berusia 23 hingga 60 tahun yang memenuhi syarat dinas militer untuk meninggalkan negara itu. Meski begitu, puluhan ribu orang telah melarikan diri secara ilegal. Menyikapi hal itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa pihaknya perlu mengambil langkah baru untuk proses mobilisasi negara.
Perang Drone
Sebelum diangkat menjadi Menteri Pertahanan, Fedorov menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Ukraina dan Menteri Transformasi Digital. Tugasnya memastikan berbagai program seperti proyek perang drone Ukraina yang sukses. Menurut dia, lebih baik perang melibatkan robot seperti drone daripada melibatkan nyawa manusia.
Penguatan komponen teknologi militer akan menjadi salah satu prioritas Fedorov dalam peran barunya sebagai Menteri Pertahanan. Ia mengatakan saat ini ada 500 perusahaan Ukraina yang memproduksi drone, 200 entitas bisnis yang membuat peralatan pengacau sinyal, dan lebih dari 20 produsen rudal swasta.
BBC melaporkan bahwa serangan Rusia terus berlanjut di tengah musim dingin yang menyebabkan ribuan penduduk di Kiev kehilangan aliran listrik hingga membuat Ukraina mendeklarasikan keadaan darurat di sektor energi. Zelensky menuduh Moskow sengaja mengeksploitasi kondisi musim dingin yang keras sebagai bagian dari strategi perangnya, dengan suhu malam hari di Kyiv baru-baru ini turun hingga sekitar -20 derajat Celcius.
Dalam beberapa minggu terakhir, serangan Rusia di Kyiv telah menyebabkan ribuan rumah tanpa listrik, pemanas, atau air bersih. Setelah satu malam yang sangat berat dengan serangan rudal dan drone minggu lalu, 70% Kawasan di ibu kota mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam.
Setelah rapat kabinet khusus pada hari Rabu, Zelensky mengatakan bahwa gugus tugas 24 jam akan dibentuk untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh serangan Rusia dan memburuknya situasi musim dingin. Ia mengatakan langkah-langkah baru tersebut akan mencakup pengadaan peralatan dan sumber daya energi penting dari luar negeri untuk mengganti instalasi yang rusak.
Ia juga memerintahkan peningkatan jumlah pos bantuan darurat di sekitar Kyiv untuk menyediakan panas dan listrik bagi warga, sebuah langkah yang dapat menyebabkan pelonggaran jam malam tengah malam yang berlaku saat ini di ibu kota.
Serangan Rusia terhadap infrastruktur energi tidak hanya terbatas di ibu kota. Pekan lalu, pejabat Ukraina mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang di Ukraina tenggara menghabiskan waktu berjam-jam tanpa pemanas dan pasokan air akibat serangan udara Rusia.
DTEK, penyedia energi swasta terbesar di Ukraina, berada dalam mode krisis permanen karena serangan Rusia terhadap jaringan listrik. Direktur DTEK, Maxim Timchenko mengatakan Rusia telah berulang kali menargetkan jaringan energi DTEK dengan “gelombang drone, rudal jelajah dan rudal balistik” yang sulit dihalau oleh DTEK. (Lina Nursanty)