PARIS – Program Future Combat Air System (FCAS) atau program jet tempur generasi keenam siluman Prancis–Jerman terhenti akibat perselisihan antara Airbus dan Dassault Aviation. Pernyataan terbaru dari Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz menunjukkan bahwa terobosan masih sulit dicapai.
Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (19/2) tetap pada pendiriannya bahwa negara-negara Eropa harus mengembangkan satu jet tempur bersama, meskipun mitranya dari Jerman serta Airbus sama-sama menyatakan kesediaan untuk mempertimbangkan solusi dua jet tempur.
“Kita orang Eropa, jika memahami arah sejarah yang sedang membawa kita, memiliki kepentingan untuk melakukan standardisasi, penyederhanaan, dan karena itu memiliki satu model bersama,” kata Macron kepada wartawan saat kunjungan ke India seperti dikutip dari Euronews.com.
“Saya pikir kita perlu menggandakan upaya kita, tetapi saya juga mencoba melihat strategi negara-negara kita, Eropa kita, serta penggunaan uang pembayar pajak secara tepat. Apakah membangun lebih banyak pesawat merupakan penggunaan dana terbaik? Kita perlu memiliki standar Eropa,” tambahnya.
Prancis, Jerman, dan Spanyol telah berunding sejak 2017 untuk mengembangkan Future Combat Air System (FCAS) guna menggantikan dua pesawat yang banyak digunakan: jet Rafale milik Prancis dan Eurofighter yang digunakan Jerman serta Spanyol.
Target awalnya adalah menghadirkan pengganti pada 2040, namun program tersebut terhenti akibat perselisihan antara Airbus dan Dassault. Dassault menyatakan dapat membangun jet tempur itu sendiri jika diperlukan dan menyerukan agar sebagian besar tenaga kerja ditempatkan di Prancis.
Program FCAS dipandang sebagai simbol upaya berkelanjutan Eropa untuk merombak sistem pertahanannya. Macron dan Friedrich Merz dalam beberapa bulan terakhir telah melakukan pembahasan intensif untuk mempercepat kemajuan proyek tersebut. Namun Merz pada Rabu mengisyaratkan bahwa Berlin dapat meninggalkan proyek itu sepenuhnya, dengan alasan kedua negara memiliki kebutuhan yang berbeda.
“Prancis membutuhkan, pada generasi berikutnya jet tempur, pesawat yang mampu membawa senjata nuklir dan beroperasi dari kapal induk. Itu bukan kebutuhan militer Jerman saat ini,” kata Merz dalam podcast Machtwechsel.
Reuters melaporkan Kepala Airbus berharap Eropa dapat terus bersama-sama mengembangkan jet tempur baru, namun menambahkan bahwa perusahaannya siap menghadapi berbagai skenario, termasuk kemungkinan adanya dua program terpisah yang dipimpin Prancis dan Jerman untuk menggantikan proyek FCAS yang bermasalah.
CEO Guillaume Faury kembali menegaskan bahwa memecah proyek menjadi dua pesawat merupakan salah satu skenario, namun ia juga mempertanyakan sejauh mana kerja sama pada sistem yang lebih luas masih dapat dipertahankan. Faury untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa inti proyek FCAS, yang juga dikenal dengan inisial Prancisnya SCAF, dapat dipecah menjadi dua jet tempur terpisah yang beroperasi di bawah payung yang sama.
Namun, berbicara setelahnya kepada saluran bisnis tersebut, ia memaparkan berbagai opsi, mulai dari konsep keluarga inti pesawat yang menyerupai portofolio pesawat sipil Airbus dan didukung teknologi bersama, hingga “perceraian” penuh, di mana Prancis dan Jerman benar-benar berjalan sendiri-sendiri.
“(Pesawat sipil) A350-900 dan A350-1000 adalah dua pesawat yang berbeda dengan tingkat kesamaan yang sangat tinggi… Di sisi lain, ada jet tempur di Eropa yang tidak memiliki satu pun bagian yang sama. Jadi saya kira itulah spektrum kemungkinan hasilnya,” ujarnya pada Kamis (19/2).
Ia menambahkan bahwa Airbus dapat membangun jet tempur sendiri jika diperlukan, meskipun sebagian besar analis menilai hal itu akan menjadi tantangan.
Faury membantah bahwa hubungan dengan pembuat pesawat tempur Rafale, Dassault Aviation, telah sepenuhnya memburuk, namun pernyataannya tampak menandai perubahan arah dari bentuk FCAS saat ini. “Saya sungguh berharap kita menemukan solusi yang mungkin tidak sama seperti yang kita bayangkan setahun lalu, tetapi tetap memungkinkan adanya program Eropa untuk sistem yang sangat kompleks ini, yang begitu penting bagi pertahanan Eropa,” katanya. (Dwi Sasongko)