Rusia Disebut Terlibat Membantu Iran dalam Perang dengan AS dan Israel 

Gambar pertama yang terkonfirmasi menunjukkan serangan Iran menghancurkan radar AN/TPY-2 milik AS di Yordania, mengganggu perisai pertahanan rudal THAAD yang krusial. Foto: x.com/manjeetnegilive
Sebagian besar intelijen yang dibagikan Rusia kepada Iran berasal dari citra satelit dari konstelasi satelit pengamatan canggih milik Moskow. Namun, belum jelas apa yang diperoleh Rusia sebagai imbalan atas bantuan tersebut.
Share the Post:

JAKARTA – Rusia disebut memberikan intelijen kepada Iran mengenai lokasi dan pergerakan pasukan, kapal perang, dan pesawat militer Amerika Serikat. Informasi ini diungkap oleh sejumlah sumber yang mengetahui laporan intelijen AS tentang isu tersebut, dan menjadi indikasi pertama bahwa Moskow berusaha terlibat dalam perang tersebut.

Sebagian besar intelijen yang dibagikan Rusia kepada Iran berasal dari citra satelit dari konstelasi satelit pengamatan canggih milik Moskow. Namun, belum jelas apa yang diperoleh Rusia sebagai imbalan atas bantuan tersebut.

CNN telah meminta komentar dari Kremlin dan Kedutaan Besar Rusia di Washington terkait laporan ini. Belum jelas pula apakah ada satu serangan Iran yang secara langsung dapat dikaitkan dengan intelijen penargetan dari Rusia, yang pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post. Namun dalam beberapa hari terakhir, beberapa drone Iran dilaporkan menyerang lokasi yang menjadi tempat keberadaan pasukan Amerika.

Sebuah drone Iran bahkan menghantam fasilitas darurat yang menampung pasukan AS di Kuwait pada Minggu, menewaskan enam personel militer AS, menurut laporan CNN. Salah satu sumber yang mendapat pengarahan mengenai intelijen tersebut mengatakan, “Ini menunjukkan bahwa Rusia masih sangat menyukai Iran.”

Amerika Serikat juga memiliki intelijen yang menunjukkan bahwa China mungkin sedang bersiap memberikan bantuan finansial, suku cadang, serta komponen rudal kepada Iran, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut. Namun hingga kini Beijing belum secara langsung terlibat dalam perang.

China sangat bergantung pada minyak Iran dan dilaporkan menekan Teheran agar memastikan jalur pelayaran tetap aman melalui Selat Hormuz. “China lebih berhati-hati dalam memberikan dukungan. Mereka ingin perang ini segera berakhir karena dapat mengancam pasokan energi mereka,” kata salah satu sumber.

Sementara itu, mengutip Al Jazeera, sejumlah pejabat anonim mengatakan kepada AP bahwa intelijen AS belum menemukan bukti bahwa Rusia mengarahkan Iran tentang bagaimana menggunakan informasi tersebut, di tengah berlanjutnya serangan AS dan Israel serta serangan balasan Iran terhadap aset dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan Amerika Serikat “tidak khawatir” dengan laporan tersebut, sekaligus mengecilkan kemungkinan bahwa bantuan Rusia dapat menempatkan warga AS dalam bahaya. “Rakyat Amerika dapat merasa tenang karena panglima tertinggi mereka mengetahui dengan baik siapa berbicara dengan siapa,” ujar  Hegseth dalam wawancara dengan acara 60 Minutes di CBS pada Jumat.  

“Dan apa pun yang seharusnya tidak terjadi, baik secara terbuka maupun melalui jalur belakang, sedang dihadapi dan ditangani dengan tegas.”

’’Kami yang menempatkan pihak lain dalam bahaya, dan itu memang tugas kami. Jadi kami tidak khawatir soal itu. Satu-satunya pihak yang perlu khawatir sekarang adalah orang-orang Iran yang mengira mereka akan tetap hidup,” lanjut Hegseth. 

Hegseth sebelumnya juga mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa Rusia dan China “sebenarnya bukan faktor utama” dalam perang melawan Iran.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Jumat juga mengatakan kepada wartawan bahwa laporan tersebut “jelas tidak membuat perbedaan terhadap operasi militer di Iran karena kami benar-benar sedang menghancurkan mereka.”

Leavitt menolak menjawab apakah Presiden Donald Trump telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai dugaan berbagi intelijen tersebut atau apakah Rusia seharusnya menghadapi konsekuensi. Ia mengatakan bahwa presiden akan berbicara sendiri mengenai hal itu.   

Ketika ditanya apakah Rusia akan melangkah lebih jauh dari sekadar dukungan politik dan memberikan bantuan militer kepada Iran, juru bicara Rusia Dmitry Peskov mengatakan bahwa tidak ada permintaan seperti itu dari Teheran. “Kami berdialog dengan pihak Iran, dengan perwakilan kepemimpinan Iran, dan tentu akan terus melanjutkan dialog ini,” katanya pada Jumat.

Ketika didesak apakah Moskow telah memberikan bantuan militer atau intelijen kepada Teheran sejak perang Iran dimulai, Dmitry Peskov menolak memberikan komentar. 

Seperti diketahui, Rusia dan Iran sendiri telah bekerja sama setidaknya selama tiga tahun terakhir dalam teknologi rudal dan drone. Iran memasok drone Shahed drone dan rudal balistik jarak pendek kepada Rusia untuk digunakan menyerang Ukraina, serta membantu membangun pabrik drone besar di Rusia untuk memproduksi drone rancangan Iran. Sebaliknya, menurut laporan CNN, Iran juga disebut mencari bantuan Rusia untuk memperkuat program nuklirnya. 

Operasi militer AS terhadap Iran saat ini melibatkan lebih dari 50.000 pasukan, lebih dari 200 pesawat tempur, serta dua kapal induk, menurut Komandan US Central Command Laksamana Brad Cooper pekan ini. Pemerintah AS belum menyebutkan berapa lama perang tersebut diperkirakan akan berlangsung.

Menurut pejabat Pentagon, tujuan militer AS adalah menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan bahwa Iran menggunakan kemampuan rudal balistiknya sebagai “perisai” untuk mengembangkan program nuklirnya. (Dwi Sasongko)