Korsel Ajak PT DI Jadi Rantai Pasok Jet Tempur KF-21, September Dijadwalkan Kirim Prototype ke Indonesia 

Korea Aerospace Industries (KAI) pada Kamis (11/6) menyatakan penyerahan satu purwarupa (prototype) jet tempur KF-21 kepada Indonesia tinggal menunggu penyelesaian mekanisme transfer. Foto: Dok KAI
Perjanjian tersebut mencakup tidak hanya program KF-21, tetapi juga pesawat latih dasar KT-1B, serta berbagai program rotary aircraft.
Share the Post:

SEOUL – Peluang kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan Korea Selatan terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satu bentuknya adalah harapan dari Korea Aerospace Industries (KAI) agar PT Dirgantara Indonesia (DI) dapat bergabung dalam rantai pasok produksi jet tempur KF-21 Boramae, yang merupakan proyek pengembangan pesawat tempur generasi baru hasil kerja sama Korea Selatan dan Indonesia.

Harapan tersebut disampaikan Team Leader International Business Development, Asia Team 2, KAI, Park Seonghee, kepada wartawan Indonesia dalam acara Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Sacheon, Kamis (11/6).“Kami ingin terus memperluas kemitraan ini. Kami berharap PT DI dapat menjadi mitra yang kuat dan menjadi bagian dari rantai pasok global kami,” katanya dikutip dari Antara.

Park menyampaikan bahwa KAI dan PT DI telah menandatangani perjanjian kerja sama strategis di bidang pertahanan. Perjanjian tersebut mencakup tidak hanya program KF-21, tetapi juga pesawat latih dasar KT-1B, serta berbagai program rotary aircraft.

Dia menjelaskan bahwa KF-21 yang satu dari enam purwarupanya akan dikirim ke Indonesia, telah mendapatkan sejumlah minat yang besar dari sejumlah calon pelanggan. Beberapa negara bahkan sudah mulai melakukan pembahasan mengenai program ini.

“Terkait program KT-1, kami juga berencana memindahkan lini produksi ke Indonesia sehingga fasilitas produksi di Indonesia dapat digunakan untuk mendukung program ekspor tambahan di masa depan,” kata Park.

Pada kesempatan yang sama, Director International Business Development Asia KAI, Jo Junhyun menyampaikan bahwa KAI sedang menjalankan program penguatan struktur pesawat KT-1B dan sebagian besar pekerjaan tersebut telah dikerjakan oleh PT DI.

Terkait KF-21 yang satu dari enam prototipenya telah disepakati akan dikirim ke Indonesia, KAI berharap nantinya pemerintah Indonesia akan melalukan pengadaan sebanyak 48 pesawat.

“Saat ini pembicaraan masih berfokus pada tahap pertama. Namun, kami juga telah memperluas diskusi mengenai pengadaan tambahan KF-21 di masa mendatang. Kami memiliki komitmen yang kuat untuk terus memperluas kerja sama dengan Indonesia,” tambah Jo.

Adapun Korea Selatan meluncurkan proyek tersebut pada 2015 untuk mengembangkan jet tempur supersonik buatan dalam negeri, sementara Indonesia bergabung sebagai mitra dengan menyepakati skema berbagi biaya pengembangan sebagai imbalan transfer teknologi, prototipe, dan ketentuan lainnya.

Badan Program Akuisisi Pertahanan diperkirakan akan menetapkan jadwal penyerahan prototipe dan dokumen teknologi terkait setelah Indonesia melunasi kontribusinya sebesar 600 miliar won (Rp 6,8 triliun) untuk proyek jet tempur bersama tersebut.

Indonesia awalnya menyepakati kontribusi sekitar 20 persen dari total biaya proyek sebagai negara mitra, namun kemudian mengusulkan penurunan kontribusi menjadi 6 persen sebagai imbalan atas pengurangan tingkat transfer teknologi.

Bersamaan dengan penyerahan prototipe, Seoul dilaporkan kantor berita Yonhap telah bernegosiasi dengan Jakarta untuk menandatangani kesepakatan ekspor 16 unit jet tempur KF-21, yang akan menjadi penjualan luar negeri pertama jet tempur buatan dalam negeri tersebut.

Pengiriman Prototype KF-21 September 

Sebelumnya, Korea Aerospace Industries (KAI) pada Kamis (11/6) menyatakan penyerahan satu purwarupa (prototype) jet tempur KF-21 kepada Indonesia tinggal menunggu penyelesaian mekanisme transfer. Team Leader International Business Development Asia Team 2 KAI Park Seonghee mengatakan kedua pemerintah telah mencapai kesepakatan untuk mentransfer satu pesawat purwarupa ke Indonesia.

“Saat ini, kedua pemerintah sedang membahas mekanisme transfer tersebut, terutama terkait aspek teknologi dan jadwal pelaksanaannya,” kata Park di Sacheon, Korea Selatan.

Ia menyampaikan program KF-21 telah dibahas sejak Presiden Prabowo Subianto masih menjabat Menteri Pertahanan RI dan terus menjadi bagian dari kerja sama strategis kedua negara. Pembahasan mengenai proyek tersebut juga berlangsung konstruktif saat Presiden Prabowo berkunjung ke Korea Selatan pada April lalu. “Program ini berjalan dengan baik, dan saat ini kami sedang menyelesaikan kontraknya,” ujar Park.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar syarat dan ketentuan kerja sama telah disepakati dan KAI berharap proses finalisasi kontrak dapat segera diselesaikan. Perusahaan dirgantara itu juga berharap bisa menyerahkan 16 unit pesawat tempur KF-21 kepada Indonesia pada tahap berikutnya sesuai kerja sama yang telah disepakati.

Sebelumnya, Duta Besar RI untuk Korea Selatan Cecep Herawan mengatakan Indonesia telah melunasi kontribusinya dalam proyek pengembangan KF-21 Boramae dan kini menunggu proses penyerahan purwarupa tersebut.

“Prototipe dari enam pesawat KF-21 itu sudah disepakati dan akan diserahkan ke Indonesia, satu dari enam prototipe tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terealisasikan,” kata Cecep di Kedutaan Besar RI di Seoul, Selasa.

KF-21 dikembangkan sebagai pesawat tempur multirole untuk memenuhi kebutuhan operasi masa depan Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF). Program tersebut juga ditujukan untuk menggantikan armada pesawat tempur F-4 dan F-5 yang telah menua serta memperkuat kemampuan industri pertahanan dalam negeri Korea Selatan. Menurut KAI, pengiriman pertama pesawat KF-21 untuk ROKAF dijadwalkan mulai September 2026. (Dwi Sasongko)