LONDON – KBRI London membawa pesan bahwa diplomasi tidak selalu dimulai dari meja perundingan. Kadang, ia dimulai dari sehelai songket, secangkir kopi, alunan sasando, dan sebuah lagu yang membuat dua bangsa menari bersama. Lebih dari 200 tokoh pemerintah dan parlemen Inggris, korps diplomatik, pelaku bisnis, akademisi, komunitas Indonesia, serta Friends of Indonesia menghadiri Resepsi Diplomatik HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di KBRI London pada Kamis, 17 September 2026.
Hadir sebagai Tamu Kehormatan, The Rt Hon. Lord Vaizey of Didcot, Ketua UK-ASEAN Business Council (UKABC). Kehadirannya menandai pentingnya Indonesia dalam hubungan ekonomi Inggris dengan ASEAN sekaligus memperkuat momentum pengembangan kerja sama Indonesia–Inggris.
Namun, resepsi tahun ini tidak hanya berbicara tentang diplomasi dan kerja sama. Indonesia memperkenalkan dirinya melalui budaya—dari selendang songket yang dikenakan kepada para tamu sejak memasuki ruang acara, filosofi tumpeng, tari tradisional, hingga alunan sasando dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.
Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris merangkap Republik Irlandia dan IMO, Dr. Desra Percaya, mengatakan perayaan kemerdekaan di luar negeri merupakan kesempatan untuk membangun kedekatan antarmasyarakat sekaligus memperkenalkan Indonesia secara langsung.
“HUT Kemerdekaan RI di London bukan hanya peringatan sejarah bangsa. Ini kesempatan untuk mempererat persahabatan dengan Inggris dan memperkenalkan Indonesia secara langsung: bangsa yang merdeka, beragam, dan siap bekerja sama. Budaya adalah bahasa diplomasi yang paling hangat,” ujarnya dalam keterangannya kepada The Strategy.
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Desra juga menekankan pentingnya menjadikan Kemitraan Strategis Baru Indonesia–Inggris menuju 2045 lebih berdampak bagi masyarakat.
“Bagi saya, babak berikutnya harus tentang mengubah kepentingan bersama menjadi dampak bersama. Jika ditanya apa yang memberi fondasi terkuat bagi setiap kemitraan, saya akan menjawab: rakyat,” tegasnya.
Lord Vaizey menyampaikan apresiasi atas perjalanan Indonesia sejak kemerdekaan dan melihat masa depan hubungan kedua negara dalam konteks keterlibatan Inggris yang semakin erat dengan ASEAN. Ia menyinggung kunjungan Menteri Luar Negeri Inggris yang baru ke Manila dalam 24 jam pertama setelah pengangkatannya.
“Kunjungan itu mengirim pesan kuat kepada ASEAN dan mitra, termasuk Indonesia, bahwa Inggris berkomitmen pada hubungan ini,” katanya.
Kedua pembicara juga menyoroti sejumlah kesamaan Indonesia dan Inggris sebagai negara maritim dan demokrasi, serta pendukung multilateralisme dan penegakan hukum internasional—nilai yang menjadi bagian penting dalam membangun kemitraan jangka panjang.

Pesan diplomasi itu kemudian bertemu dengan suasana perayaan yang lebih cair. Dubes Desra tampil memainkan saksofon bersama penyanyi Marlon Tambunan, sebelum musik “Tabola Bale” mengiringi flash mob yang melibatkan pengisi acara dan para tamu.
Dari ruang resepsi yang semula formal, para tamu kemudian larut dalam perayaan bersama. Bagi KBRI London, momen tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana budaya dapat membuka ruang perjumpaan, membangun kedekatan, dan memperkuat persahabatan antarbangsa.
Menutup sambutannya, Dubes Desra mengajak Indonesia dan Inggris menatap hubungan bilateral menuju 2045. “Berbeda pantai, tetapi horizon yang sama. Saya yakin Indonesia dan Inggris Raya akan melangkah bersama menuju 2045 sebagai mitra yang kuat dan sahabat yang abadi.”
Melalui resepsi HUT ke-81 RI, KBRI London membawa pesan bahwa diplomasi tidak selalu dimulai dari meja perundingan. Kadang, ia dimulai dari sehelai songket, secangkir kopi, alunan sasando, dan sebuah lagu yang membuat dua bangsa menari bersama. (Tim The Strategy)