Pakistan Umumkan Kesepakatan Damai AS-Iran, Penandatanganan Dijadwalkan di Swiss

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dan delegasinya, April lalu. Kedekatan Pakistan dengan Iran dan AS membuat Shehbaz Sharif bisa menjadi penengah perundingan damai antara AS dan Iran. Foto: x.com/CMShehbaz
Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah berhasil dicapai. Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.
Share the Post:

ISLAMABAD – Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah mencapai kesepakatan damai setelah melalui serangkaian perundingan intensif yang difasilitasi oleh sejumlah negara mediator. Dalam pernyataannya, Sharif mengatakan kedua negara telah sepakat untuk menghentikan seluruh operasi militer secara segera dan permanen di semua front, termasuk di Lebanon.

“Setelah perundingan yang intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah berhasil dicapai. Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon,” kata Sharif dalam komentarnya di X.

Menurutnya, upacara penandatanganan resmi kesepakatan damai tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Juni, di Swiss. Sharif menyampaikan apresiasi kepada Washington dan Teheran atas komitmen mereka untuk mengedepankan jalur diplomasi dalam menyelesaikan konflik yang selama ini memicu kekhawatiran komunitas internasional.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada negara-negara yang terlibat dalam proses mediasi, khususnya Qatar, Arab Saudi, dan Turki. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Amerika Serikat dan Republik Islam Iran atas komitmen mereka dalam mencari solusi diplomatik terhadap konflik ini. Kami juga menyampaikan penghargaan yang tulus kepada Negara Qatar atas dukungannya dalam membantu tercapainya kesepakatan ini,” ujarnya.

Sharif menambahkan bahwa kepemimpinan Arab Saudi dan Turki juga memberikan kontribusi penting dalam proses diplomatik yang akhirnya menghasilkan kesepakatan damai tersebut. Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, para mediator akan memfasilitasi serangkaian pertemuan dalam beberapa hari ke depan guna membahas aspek teknis implementasi kesepakatan.

Menurut Sharif, pembahasan pra-implementasi itu akan menjadi fondasi bagi perundingan teknis lanjutan sekaligus mempersiapkan penandatanganan resmi yang dijadwalkan berlangsung di Swiss. Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah penting untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan membuka peluang bagi stabilitas regional yang lebih berkelanjutan melalui jalur diplomasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membenarkan pihaknya mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Dia mengumumkan penangguhan serangan militer terhadap Iran selama dua pekan setelah melakukan pembicaraan dengan PM Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan keputusan tersebut diambil setelah Pakistan meminta Washington menunda operasi militer yang sebelumnya direncanakan akan dilaksanakan terhadap Iran. Penangguhan itu juga bergantung pada kesediaan Teheran untuk membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman bagi lalu lintas maritim internasional.

“Berdasarkan pembicaraan saya dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, serta permintaan mereka agar saya menahan kekuatan destruktif yang akan dikirim ke Iran malam ini, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” kata Trump dalam Truth Social.

Trump menyebut langkah tersebut sebagai “gencatan senjata dua arah” yang diharapkan dapat membuka jalan bagi penyelesaian diplomatik yang lebih permanen antara Washington dan Teheran. Menurut Trump, Amerika Serikat telah mencapai bahkan melampaui seluruh tujuan militer yang ditetapkan dalam operasi terhadap Iran. Karena itu, Washington kini melihat peluang yang semakin besar untuk mencapai kesepakatan damai jangka panjang.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah Iran telah menyerahkan proposal berisi 10 poin yang dinilai dapat menjadi dasar perundingan lebih lanjut. “Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan percaya bahwa itu merupakan dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi. Hampir seluruh poin utama yang selama ini menjadi sumber perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran telah disepakati,” ujarnya.

Trump menambahkan bahwa masa gencatan senjata selama dua minggu akan dimanfaatkan untuk menyelesaikan rincian teknis dan politik yang diperlukan guna merampungkan kesepakatan damai secara menyeluruh.

Presiden AS itu juga menyatakan optimisme bahwa konflik yang telah berlangsung lama antara kedua negara kini berada di ambang penyelesaian. “Atas nama Amerika Serikat, dan juga mewakili negara-negara di Timur Tengah, merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk melihat masalah jangka panjang ini semakin dekat menuju penyelesaian,” kata Trump.

Jika proses negosiasi berjalan sesuai rencana, perkembangan tersebut berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir, sekaligus mengurangi risiko gangguan terhadap jalur pelayaran global melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu titik strategis perdagangan energi dunia. (Dwi Sasongko)