BHOPAL, INDIA – Pemerintah Indonesia terus memperkuat kerja sama kebudayaan dengan negara-negara sahabat. Di sela-sela XI BRICS Culture Ministers’ Meeting di Bhopal, Madhya Pradesh, India (7/8/2026), Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Kebudayaan India Gajendra Singh Shekhawat; Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Afrika Selatan, Gayton McKenzie; dan Wakil Menteri Kebudayaan Republik Islam Iran, Mohsen Javadi secara terpisah.
Pertemuan dengan India, membahas penguatan kerja sama kebudayaan Indonesia–India, khususnya pelestarian warisan budaya, pertukaran budaya, dan hubungan antarmasyarakat.
’’Hubungan kedua negara semakin erat, sebagaimana tercermin dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India dan kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia, termasuk ke Candi Prambanan. Kebudayaan menjadi salah satu pilar penting dalam Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–India,’’ kata Fadli Zon dalam keterangannya.
Salah satu agenda utama adalah tindak lanjut kerja sama restorasi 100 Candi Perwara di Kompleks Candi Prambanan. Indonesia dan India masing-masing akan merestorasi 50 candi dengan target penyelesaian sebelum 2029. Fadli Zon menegaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan wujud nyata kemitraan kedua negara dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat transfer pengetahuan dan keahlian konservasi.
Kedua pihak juga membahas Prasasti Pucangan (Calcutta Stone) yang saat ini berada di Indian Museum, Kolkata. Indonesia berharap dialog yang terus berlangsung dapat memperkuat kerja sama akademik sekaligus membuka jalan bagi aspirasi pengembalian prasasti tersebut ke Indonesia.
Selain itu, kedua negara sepakat memperkuat implementasi Cultural Exchange Programme Indonesia–India 2025–2028 melalui residensi seniman, fellowship museum, sekolah lapangan arkeologi, riset bersama, koproduksi film, dan kolaborasi warisan budaya digital. Pertemuan juga membahas Tagore–Dewantara Year 2026–2027 untuk memperingati 100 tahun kunjungan Rabindranath Tagore ke Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama di bidang kebudayaan, pendidikan, sastra, akademik, dan pertukaran pemuda.
Menteri Kebudayaan India Gajendra Singh Shekhawat menegaskan bahwa hubungan historis Indonesia dan India menjadi landasan kuat untuk memperluas kolaborasi di bidang pelestarian warisan budaya, konservasi manuskrip berbasis teknologi, serta budaya maritim, termasuk rencana penyertaan kapal Phinisi dalam Kompleks Maritim Nasional India.
Adapun, pertemuan Fadli Zon dengan Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Afrika Selatan, Gayton McKenzie membahas penguatan kerja sama kebudayaan Indonesia–Afrika Selatan melalui pelestarian warisan Sheikh Yusuf Al-Makassari dan penguatan hubungan antarmasyarakat.

Fadli Zon menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Afrika Selatan tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik, tetapi juga melalui sejarah bersama yang telah berlangsung selama berabad-abad. Menurutnya, kebudayaan menjadi jembatan penting yang mempererat hubungan kedua negara.
Salah satu pembahasan utama adalah warisan Sheikh Yusuf Al-Makassari yang menjadi simbol hubungan historis kedua negara. Peringatan 400 tahun kelahiran Sheikh Yusuf pada 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi melalui pelestarian warisan budaya, riset akademik, museum, pendidikan, serta pertukaran budaya.
“Peringatan 400 tahun kelahiran Sheikh Yusuf merupakan momentum penting untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Afrika Selatan. Kita dapat mengembangkannya melalui program peringatan bersama, riset akademik, pelestarian warisan budaya, kolaborasi museum, serta pertukaran pendidikan,” lanjut Fadli Zon.
Menteri Gayton McKenzie menyatakan dukungannya terhadap peringatan 400 tahun Sheikh Yusuf serta komitmennya memperkuat hubungan Indonesia–Afrika Selatan melalui pertukaran komunitas Cape Malay, seniman, dan pelaku budaya. Ia juga menyambut baik inisiatif Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House di Cape Town.
Sementara itu, pertemuan Fadli Zon dengan Wakil Menteri Kebudayaan Republik Islam Iran, Mohsen Javadi membahas penguatan kerja sama kebudayaan Indonesia–Iran, antara lain melalui pembaruan program pertukaran budaya, kerja sama perfilman dan sastra, pertukaran antarmasyarakat, serta kolaborasi dalam kerangka UNESCO.
Indonesia dan Iran memiliki hubungan budaya yang telah terjalin selama berabad-abad melalui perdagangan, pertukaran keilmuan, sastra, filsafat, dan perkembangan peradaban Islam. Menbud Fadli Zon menilai hubungan historis tersebut menjadi fondasi penting untuk membangun kerja sama kebudayaan yang lebih konkret dan relevan bagi generasi mendatang.
Salah satu agenda utama pertemuan adalah keberlanjutan Cultural Exchange Programme Indonesia–Iran 2023–2026 yang akan segera berakhir. Kedua pihak sepakat bahwa momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun program baru yang lebih luas, mencakup warisan budaya, museum, sastra dan penerjemahan, perfilman, industri kreatif, pendidikan, serta pertukaran antarlembaga dan pelaku kebudayaan.
Perfilman menjadi salah satu bidang yang diprioritaskan. Menbud Fadli mendorong produksi bersama dan pertukaran antarsineas sebagai sarana memperkenalkan budaya kedua negara kepada masyarakat luas. Ia turut menyinggung adaptasi film Iran Children of Heaven di Indonesia sebagai salah satu contoh keterhubungan kreatif kedua negara.
“Kerja sama perfilman menjadi salah satu bidang yang dapat kita prioritaskan. Ke depan, kita dapat mengeksplorasi lebih banyak peluang produksi bersama antara sineas kedua negara,” tutur Menbud Fadli.
Di bidang sastra dan penerbitan, Iran mengundang Indonesia untuk berpartisipasi dalam Tehran International Book Fair serta menawarkan program penerjemahan karya sastra Persia dan karya internasional ke dalam bahasa Persia.
Wakil Menteri Kebudayaan Republik Islam Iran, Mohsen Javadi, menyambut baik pembaruan kerja sama tersebut. Ia menilai berakhirnya Cultural Exchange Programme 2023–2026 merupakan momentum untuk memperluas berbagai inisiatif kebudayaan Indonesia–Iran. Menurutnya, kedua negara memiliki banyak kesamaan dan hubungan budaya yang kuat yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda, terutama melalui film, sastra, musik, pendidikan, dan wisata budaya. (Dwi Sasongko)