Manuver Pertempuran Darat Memperkuat Interoperabilitas di SGS 2026

TNI bersama US Army melaksanakan Live Fire Exercise (LFX) tingkat Peleton dengan skenario serangan bunker dan parit dalam rangka Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di daerah latihan Puslatpur Kodiklat TNI AD, Martapura, Sumatra Selatan, Rabu (9/9/2026). Foto: Puspen TNI
Latihan tersebut menguji kemampuan prajurit dalam menerapkan taktik, teknik, dan prosedur secara terpadu dalam situasi pertempuran yang realistis.
Share the Post:

MARTAPURA –  Latihan bersama TNI dan US Army dalam rangka Super Garuda Shield (SGS) 2026 terus memperkuat kemampuan tempur dan interoperabilitas kedua angkatan bersenjata melalui berbagai skenario operasi di medan latihan. Mereka melaksanakan Live Fire Exercise (LFX) tingkat Peleton dengan skenario serangan bunker dan parit dalam rangka Latihan Gabungan Bersama Multinasional SGS 2026 di daerah latihan Puslatpur Kodiklat TNI AD, Martapura, Sumatra Selatan, Rabu (9/9/2026). 

Sebanyak 124 personel, terdiri atas 50 prajurit TNI dan 74 personel US Army, bergerak secara terpadu dari titik berkumpul menuju titik pencar untuk melaksanakan serbuan terhadap sasaran.

Memasuki tahap serangan, unsur bantuan melaksanakan manuver lambung untuk mendukung unsur bantuan tempur yang bergerak menuju titik aksi. Setelah tembakan mortir dan senapan mesin ringan diarahkan ke sasaran, unsur tempur melaksanakan serbuan dengan menghadapi berbagai rintangan, termasuk kawat berduri. 

‘’Setelah rintangan terbuka, pasukan bergerak mendekati bunker dan parit untuk menguasai sasaran secara bertahap hingga mencapai posisi terakhir, dengan tetap menjaga koordinasi dan komunikasi antarpersonel,’’ begitu pernyataan dari Puspen TNI. 

Latihan tersebut menguji kemampuan prajurit dalam menerapkan taktik, teknik, dan prosedur secara terpadu dalam situasi pertempuran yang realistis. Melalui latihan bersama ini, TNI dan US Army tidak hanya meningkatkan ketepatan, kecepatan, serta kesiapsiagaan tempur, tetapi juga memperkuat interoperabilitas, saling memahami prosedur operasi, dan membangun kepercayaan sebagai bagian dari semangat Together We Train, Strength Through Partnership.

Tim kesehatan berbagi pengetahuan kesiapan medis di lapangan. Foto: Puspen TNI

Medical Exchange Method

Adapun, dalam rangka menjamin kesehatan dan keselamatan Prajurit Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) 2026, tim kesehatan dari TNI dari Kesdam II/Sriwijaya dan US Army menggelar sesi berbagi pengetahuan untuk meningkatkan kesiapan medis di lapangan. Sinergi ini berfokus pada sinkronisasi teknik penyelamatan darurat demi memastikan keselamatan prajurit selama latihan tempur berlangsung, bertempat di Daerah Latihan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD, Baturaja. Kamis, (10/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, salah satu tim medis US Army yakni Private First Class (PFC) Zoe Resser menyampaikan fokus utama materi yang dibahas meliputi mitigasi cedera akibat cuaca panas ekstrem, serta penanganan taktis untuk korban luka tembak. Salah satu demonstrasi penting ini menjelaskan fungsi krusial dari arm immersion dunk tanks (bak perendaman lengan). Alat ini dinilai sangat vital dalam mencegah kondisi fatal akibat heat stroke. 

Melalui metode ini, suhu tubuh prajurit diturunkan secara cepat dengan cara mendinginkan pembuluh darah di area lengan, sehingga darah yang telah dingin dapat mengalir kembali ke organ inti tubuh dan menstabilkan kondisi fisik prajurit.

Selain penanganan heat stroke, kedua pihak juga saling membedah dan membandingkan peralatan medis standar yang digunakan oleh US Army maupun TNI. Diskusi mendalam dilakukan terkait prosedur pemberian obat-obatan darurat bagi prajurit yang sakit serta simulasi cara pemakaian bidai (splinting) taktis dari tim medis TNI yang disampaikan Letda CKM Nurmat. 

Pertukaran keahlian ini tidak hanya memperkaya wawasan teknis para personel medis di lapangan, tetapi juga memperkuat interoperabilitas dengan dinamika medis yang lebih kompleks. (Tim The Strategy)