Oleh: M Tata Auniyrahman
Staf Analis Kantor Athan RI Islamabad sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di Islamabad.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) – Israel melancarkan serangan gabungan ke wilayah inti Iran, menyasar lebih dari 500 titik strategis baik militer maupun nirmiliter. Operasi tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sekaligus memulai konflik terbuka antara aliansi AS–Israel dengan Iran. Selain itu sejumlah infrastruktur sipil, aset strategis negara, dan instalasi militer ikut porak-poranda dalam rangkaian operasi militer AS–Israel.
Dalam waktu relatif singkat, dunia internasional meragukan keberlangsungan pemerintahan teokrasi tersebut, meyakini bahwa operasi pergantian rezim AS-Israel akan segera tercapai. Bahkan, percakapan juga meluas hingga mempertanyakan bagaimana tatanan geopolitik Timur Tengah pasca pemerintahan Ayatollah di Iran.
Apakah terjadi penguatan simpul aliansi AS–Israel di kawasan Timur Tengah mengacu pada doktrin Pax Judaica, atau menjadi awal kelumpuhan poros Tiongkok dan Rusia di kawasan menilik dari perspektif the tragedy of great power politics, meminjam tesis John Mearsheimer.
Sekurangnya enam bulan telah berlalu, konflik telah berevolusi ke banyak fase, dari konflik terbuka, perundingan, gencatan senjata terbatas, hingga eskalasi kembali dalam dinamika terkini. Tetapi sampai saat ini, Iran masih berdaulat tercermin dari kapasitas militer yang tetap mampu melancarkan operasi balasan. Lebih-lebih, saban hari, Iran masih mampu menggelar upacara pemakaman Khamanei selama enam hari di lima kota dengan klaim 43 juta pelayat nasional. Tidak hanya itu, sejumlah delegasi negara mitra Iran juga turut menyampaikan belasungkawa secara fisik dalam upacara tersebut.
Berangkat dari perkembangan yang ada, kiranya Iran telah berhasil membangun sistem ketahanan nasional yang tidak hanya mampu bertahan namun juga mampu menyerap guncangan militer dan nir-militer.
Mewajarkan Ancaman
Anti-Imperialisme adalah salah satu nilai yang ditetapkan sebagai tujuan dari negara Republik Islam Iran. AS–Israel dipandang sebagai musuh ideologis sehingga menciptakan perilaku agresif antara Teheran dengan Washington dan Tel Aviv.
Tentunya perhitungan geopolitik mengasumsikan Iran berada pada sisi inferior menghadapi AS–Israel akibat perbedaan status kekuatan, demikian Iran berada pada sebuah kondisi yang selalu terancam. Untuk menanggulangi kondisi tersebut, Teheran menjalankan kebijakan ketahanan nasional yang mewajarkan ancaman dibandingkan harus untuk menetralisasi ancaman tersebut secara total.
Adopsi ini selaras dengan konseptualisasi Aaron Wildavsky yang mendorong negara untuk membiarkan ancaman tetap hidup demi meningkatkan rasa aman ketimbang tidak memiliki ancaman. Paradoks rasa aman tersebut mengacu kepada realitas lapangan di mana negara tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memetakan ancaman dengan presisi.
Dalam konteks Iran, Teheran mengembangkannya dengan tidak hanya mewajarkan ancaman namun juga beradaptasi dengan ancaman yang ada, secara terus menerus selama berada dalam ambang batas kewajaran, sehingga memudahkan mereka saat menghadapi ancaman kedaulatan yang tidak wajar.
Ancaman kematian pemimpin nasional Iran adalah salah satu kasus yang penting untuk diamati sebagai percontohan. Iran sangat menyadari akan ancaman kehilangan nyawa pemimpin negara akibat perkembangan kapasitas intelijen musuh yang tak mampu untuk dikendalikan. Oleh karena itu, langkah mempersiapkan kandidat penerus melalui penugasan posisi penting pemerintah lebih strategis daripada melakukan operasi kontra-intelijen di teritorial musuh untuk menetralisasi ancaman secara total, mengingat keterbatasan kapasitas yang dimiliki Teheran.
Hasilnya adalah suksesi kekuasaan pasca kematian Ali Khamenei yang berjalan dengan relatif sangat efektif dan legitimatif, selain juga karena adanya pengaruh kuat dan multi-dimensi dari Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam proses penunjukan.
Internalisasi Narasi Kebangsaan
Jika mengubah lensa analisis menjadi lebih kritis, apakah kemampuan Iran untuk bertahan di bawah tekanan dan ancaman selama bertahun-tahun hanya murni dari kebijakan mewajarkan ancaman seperti yang telah dijabarkan. Faktor lain yang jarang tersentuh adalah narasi kebangsaan yang memainkan peran signifikan dalam memperkuat kohesi masyarakat terutama tataran akar rumput.
Internalisasi narasi kebangsaan bergerak secara menyeluruh melalui mural papan reklame jalanan perkotaan hingga mimbar hawza (pesantren) di pedesaan. Proses internalisasi tersebut berjalan dalam dua pendekatan yang agak berbeda, untuk golongan progresif yang cenderung modern menekankan tema peradaban bangsa Persia, sementara untuk golongan konservatif lebih menarasikan penindasan ahlul bayt yang dianalogikan sebagai kondisi Iran di bawah tekanan AS.
Namun yang lebih fundamental adalah internalisasi narasi kebangsaan melalui implementasi kebijakan politik. Kebijakan politik yang berhasil membuktikan kemampuan pemerintahan Ayatollah dalam menjaga kedaulatan Iran.
Terlepas dari segala prahara sosio-ekonomi yang terjadi di Iran, pada titik ini, narasi kebangsaan di Iran tidak lagi sekadar bersifat utopis dan statis, melainkan telah bergerak dinamis sehingga tidak terjebak pada perangkap historis masa lampau, tetapi lebih menitikberatkan pada apa yang harus dikembangkan Iran modern agar dapat meniru sejarah raja Persia yang dapat menangkap hidup-hidup kaisar Romawi.
Pelajaran untuk Indonesia
Dunia sedang menyaksikan pergeseran tatanan internasional yang mencirikan ancaman kedaulatan lebih nyata akibat mengikisnya prinsip multilateralisme dalam politik internasional. Tentunya tidak ada yang dapat menjamin kedaulatan suatu bangsa kecuali upaya dari bangsa tersebut untuk tetap berdaulat.
Di sini kegelisahan muncul, apakah peningkatan kapasitas militer yang tidak dibarengi dengan penguatan kemampuan nirmiliter dapat memperkuat ketahanan nasional kita. Apalagi dengan jauhnya penghayatan narasi kebangsaan dalam relung sukma politik nasional hari ini. Belum menghitung berapa banyak kekecewaan yang telah lahir bahkan mendarah daging pada tataran akar rumput sebagai reaksi dari tindak-tanduk elite nasional.
Melalui Tanah Ayatollah, Indonesia harus memahami bahwa kecanggihan teknologi atau keunggulan kapasitas militer dapat dikalahkan oleh variabel konseptual-kebatinan seperti lompatan imajinasi masa depan negara dan penghayatan cita-cita mulia bangsa.

Staf Analis Kantor Athan RI Islamabad
sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di Islamabad.