Israel dan Iran Terus Saling Serang, Dunia Khawatir Konflik Makin Meluas 

Sedikitnya sembilan orang terluka di Israel bagian utara dan selatan setelah gelombang baru serangan rudal Iran, kata otoritas Israel pada hari Minggu (15/6/2025). Tampak petugas sedang mencari dan mengevakuasi korban di reruntuhan Gedung akibat rudal Iran. Foto: Anadolu.
Dalam serangan malam pada hari Sabtu, sepuluh orang termasuk dua anak-anak tewas dan lebih dari 100 orang terluka di Israel, menurut otoritas setempat.
Share the Post:

TEL AVIV – Israel dan Iran saling terus melancarkan serangan intensif ke wilayah satu sama lain untuk hari ketiga berturut-turut, tanpa tanda-tanda akan mereda. Hal tersebut telah memicu kekhawatiran dunia akan meluasnya konflik di kawasan penghasil minyak paling vital di dunia tersebut.

Bloomberg melaporkan pada Minggu (15/6/2025), Israel menerima gelombang baru serangan rudal dari Iran, hanya beberapa jam setelah berhasil mencegat serangan sebelumnya dan melancarkan serangan simultan ke Teheran. Menurut layanan darurat, sejak tengah malam, empat orang dilaporkan tewas dan 207 lainnya terluka akibat serangan tersebut. Saling balas ini menyusul laporan ledakan di berbagai wilayah Iran, termasuk di sebuah fasilitas gas alam yang terhubung dengan ladang gas raksasa South Pars.

Pada Minggu malam, menurut laporan BBC, terdengar ledakan di langit di atas Tel Aviv dan Yerusalem saat sistem pertahanan Israel menembak jatuh rudal-rudal yang diluncurkan dari Iran. Dalam serangan malam pada hari Sabtu, sepuluh orang termasuk dua anak-anak tewas dan lebih dari 100 orang terluka di Israel, menurut otoritas setempat.

Israel mengatakan serangannya telah menghantam puluhan target di Teheran. Media Iran, mengutip Kementerian Kesehatan, melaporkan bahwa 224 warga Iran tewas dan 1.277 lainnya terluka hingga Minggu malam. Jurnalis BBC tidak dapat melaporkan langsung dari dalam Iran karena pembatasan oleh pemerintah setempat, yang membuat sulit untuk menilai sejauh mana kerusakan akibat serangan Israel.

Di Israel, sirene berbunyi pada Minggu malam, memaksa warga berlindung saat rudal-rudal yang datang berhasil dicegat. TV pemerintah Iran menyatakan bahwa negara itu menyerang Tel Aviv, Haifa, dan kota-kota lainnya dengan “puluhan rudal dan drone Iran”.

Polisi Israel mengonfirmasi bahwa sebuah senjata menghantam “salah satu permukiman” di kota pelabuhan pesisir utara Haifa, di mana rekaman video memperlihatkan asap tebal membumbung ke langit malam. “Sejauh ini, belum ada laporan korban jiwa, namun kerusakan properti telah terjadi,” kata pejabat setempat.

Meski publik Israel secara luas mendukung aksi militer terhadap Iran, banyak warga tetap skeptis. Kepada Al Jazeera, analis politik Israel Ori Goldberg menyatakan bahwa kecemasan dan ketidakpercayaan publik Israel kian meningkat. “Ada dukungan massal untuk menyerang Iran, itulah narasi resmi. Tapi rakyat tidak percaya bahwa serangan ini akan menghancurkan program nuklir Iran atau menggulingkan rezim. Mereka mulai mengandalkan diri sendiri,’’ katanya.

Goldberg menambahkan bahwa banyak yang mencurigai motif politik di balik kampanye ini, dan para pemimpin dianggap menggunakan krisis ini untuk meningkatkan citra mereka. “Tidak ada kepercayaan pada kemampuan pemerintah melindungi warga sipil,” ujarnya.  

Setelah serangan Israel terhadap Iran, Tohid Asadi dari Al Jazeera melaporkan dari Teheran bahwa asap terlihat membubung dari depot minyak Shahran pasca-serangan, meskipun tingkat kerusakan belum diketahui secara pasti. “Pusat penyimpanan minyak dikatakan menjadi sasaran, tapi dampaknya tidak terlalu besar,” lapornya.

Dia juga menambahkan bahwa pertahanan udara Iran aktif tak lama setelah serangan terjadi. “Saya melihat pencegatan rudal. Suara ledakan terdengar,” katanya. Asadi menyebut pemboman Israel terhadap situs nuklir, militer, dan sipil sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya”, dan memperingatkan bahwa ini kemungkinan akan memicu eskalasi lebih lanjut.

Israel terus memborbardir Teheran, Iran dengan. Mengutip Kementerian Kesehatan, Media Iran melaporkan bahwa 224 warga Iran tewas dan 1.277 lainnya terluka hingga Minggu (15/6/2025) malam. Foto: Anadolu.

Permusuhan antara kedua negara kembali berubah menjadi konflik terbuka sejak Jumat (13/6), ketika Israel lebih dahulu menyerang situs nuklir dan militer Iran. Serangkaian serangan sejak saat itu menunjukkan bahwa Israel masih memegang dominasi di udara dan menyoroti keterbatasan kemampuan Iran dalam memberikan respons yang kredibel.

Bagi Iran, ini adalah dilema eksistensial: negara itu tak bisa terlihat lemah, namun pilihannya semakin menyempit. Kelompok-kelompok proksi yang selama ini didukungnya pun kini memiliki kapasitas terbatas untuk membantu Republik Islam itu. Sebab, kemampuan mereka untuk menyerang telah dilemahkan oleh Israel.

Pada Minggu, Iran meluncurkan rudal balistik sebagai balasan, dengan beberapa di antaranya menargetkan infrastruktur dan fasilitas energi Israel di sekitar Haifa, menurut media pemerintah Iran. Israel mengimbau warganya untuk tetap berada di tempat perlindungan selama beberapa saat, sementara pasukan pertahanan berusaha mencegat proyektil tersebut.

Rentetan serangan yang terus berlangsung dan konflik yang semakin memanas telah mengguncang pasar keuangan global. Bloomberg mencatat harga minyak melonjak 7% pada hari Jumat, sementara investor ramai-ramai membeli aset-aset safe haven seperti emas. Indeks MSCI World, yang melacak saham negara-negara maju, mengalami penurunan terbesar sejak April.

Presiden AS Donald Trump, yang tengah mengupayakan kesepakatan untuk membatasi aktivitas nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi, menulis di media sosial bahwa “perang antara Israel dan Iran ini harus diakhiri.”

Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas krisis yang semakin meningkat ini dalam panggilan telepon selama hampir satu jam pada hari Sabtu. Selama panggilan tersebut, menurut laporan kantor berita Tass yang mengutip penasihat Kremlin Yuri Ushakov, Putin mengecam operasi militer Israel terhadap Iran dan menyatakan keprihatinan serius akan potensi eskalasi yang bisa menimbulkan “konsekuensi tak terduga bagi seluruh kawasan.” Trump mengatakan kepada Putin bahwa dia tidak menutup kemungkinan AS kembali terlibat dalam negosiasi terkait program nuklir Iran.

Negara-negara tetangga Iran, yang khawatir konflik akan lepas kendali dan meluas, mulai meningkatkan upaya diplomatik untuk menghentikan pertempuran. Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyerukan penahanan diri. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam percakapannya dengan Presiden Iran menegaskan bahwa diplomasi adalah satu-satunya solusi untuk kebuntuan nuklir ini. (dwi sasongko)